Dubes Rusia Ungkap Rencana Kerja Sama Antariksa di Biak, Bukan Pangkalan Militer

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Gennadievich Tolchenov dalam press briefing di kediamannya di Jakarta Selatan, Senin (28/4/2025). Foto: Tiara Hasna/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Gennadievich Tolchenov dalam press briefing di kediamannya di Jakarta Selatan, Senin (28/4/2025). Foto: Tiara Hasna/kumparan

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov, menegaskan rencana kerja sama Rusia di Pulau Biak, Papua, murni berkaitan dengan eksplorasi antariksa, bukan pembangunan pangkalan militer.

Tolchenov menjelaskan kesiapan negaranya menjadi mitra teknologi bagi Indonesia jika pemerintah ingin membangun landasan peluncuran antariksa di Biak atau lokasi lain di Papua.

“Kita sudah berbicara tentang semacam landasan peluncuran antariksa. Kalau Indonesia tertarik dengan teknologi Rusia, kita siap menyediakan,” ujar Tolchenov dalam jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Senin (28/4).

Menurutnya kerja sama ini semata-mata untuk kepentingan eksplorasi ruang angkasa damai, tak berkaitan dengan kerja sama militer.

Bukan Gagasan Baru

Penguat roket Soyuz-2.1b an pesawat ruang angkasa pendaratan bulan Luna-25 meluncur dari landasan peluncuran di Kosmodrom Vostochny, Rusia, pada 11 Agustus 2023. Foto: Roscosmos/Vostochny Space Centervia REUTERS

Dalam kesempatan itu Tolchenov juga membahas wacana penggunaan infrastruktur Biak untuk peluncuran roket sudah pernah dibahas sekitar 10–15 tahun lalu.

Saat itu, sebuah perusahaan Rusia mengajukan program Air Launch Aerospace, yaitu peluncuran roket dari pesawat kargo Ruslan, bukan dari darat.

Bandara di Biak yang memiliki landasan besar sejak pertengahan abad lalu, sempat direncanakan sebagai lokasi pendukung.

Hujan mengguyur Bandara Biak Foto: Sari Kusuma Dewi/kumparan

Namun, program tersebut tidak pernah terealisasi karena berbagai kendala. Kini, Rusia kembali membuka peluang kerja sama baru, bergantung pada rencana dan kebutuhan Indonesia.

“Kalau menyangkut pelabuhan antariksa atau landasan peluncuran di Biak atau pulau lain, itu terserah Indonesia. Kami hanya menawarkan teknologi,” kata Tolchenov.

Biak sendiri dikenal strategis untuk peluncuran roket karena posisinya dekat dengan garis khatulistiwa, memungkinkan roket masuk orbit lebih efisien.

Meski demikian, Rusia sejatinya masih menggunakan fasilitas peluncuran utama di Kosmodrom Baykonur, Kazakhstan, yang disewa hingga 2050.

Bantah Isu Pangkalan Militer

Pesawat tempur Sukhoi Su-35 angkatan udara Rusia mendarat di pangkalan militer Rusia Hmeimim, yang terletak di tenggara kota Latakia di Hmeimim, Kegubernuran Latakia, Suriah, pada 26 September 2019. Foto: Maxime POPOV/AFP

Belum lama ini, laporan situs militer Janes menyebut Rusia berencana menempatkan pesawat Angkatan Udara di Pangkalan Manuhua, Biak. Laporan itu memicu respons dari negara tetangga, utamanya Australia.

Menanggapi isu tersebut, Tolchenov menegaskan tidak ada rencana membangun pangkalan militer Rusia di Indonesia.

Tidak ada pangkalan angkatan udara, angkatan laut, maupun pangkalan militer Rusia di Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, Rusia selalu menghormati hukum internasional dan peraturan domestik, termasuk konstitusi Indonesia yang melarang keberadaan pangkalan asing.

Sindir Australia

Prabowo Subianto berjabat tangan dengan PM Australia Anthony Albanese saat bahas tantangan regional dan latihan bersama di Canberra, Australia, Selasa (20/8/2024). Foto: Dok. Istimewa

Tolchenov juga menyinggung reaksi Australia terhadap isu ini. Ia menilai kekhawatiran negara itu berlebihan dan lebih mencerminkan dinamika politik dalam negeri menjelang pemilu Australia bulan depan.

“Ini bukan urusan pihak ketiga. Kerja sama Rusia dan Indonesia bersifat bilateral,” ujarnya.

Menurut Tolchenov, narasi ancaman Rusia kembali diangkat dalam perdebatan politik internal Australia, yang memperburuk ketegangan tanpa alasan jelas.

“Jarak dari Moskow ke Australia sekitar 10.000 kilometer. Sulit membayangkan bagaimana Rusia menjadi ancaman langsung,” kata Tolchenov.

Ia menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa Rusia tidak ingin terlibat dalam permainan politik domestik negara lain.