Duka Ibu Reyhan, Korban Kebakaran Terra Drone: Banyak Mimpinya Belum Kesampaian

9 Desember 2025 23:46 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Duka Ibu Reyhan, Korban Kebakaran Terra Drone: Banyak Mimpinya Belum Kesampaian
Ibu Reyhan mengungkap duka kehilangan putranya dalam kebakaran Gedung Terra Drone dan berharap ada prosedur darurat yang bisa menyelamatkan para karyawan.
kumparanNEWS
Mimi Andriani, ibunda dari Raihan, salah satu korban kebakaran Gedung Terra Drone saat ditemui di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (9/12/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mimi Andriani, ibunda dari Raihan, salah satu korban kebakaran Gedung Terra Drone saat ditemui di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (9/12/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
ADVERTISEMENT
Duka menyelimuti Mimi Andriani, ibunda Reyhan, salah satu karyawan Terra Drone yang menjadi korban dalam kebakaran gedung perusahaan yang terletak di Kemayoran, Jakarta Pusat itu.
ADVERTISEMENT
Dengan suara bergetar, Mimi menceritakan momen terakhir putranya sebelum berangkat kerja pada Selasa (9/12) pagi.
“Kok secepat itu? Baru usianya 24 tahun. Masih banyak mimpi-mimpi dia yang belum kesampaian,” kata Mimi dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, malamnya, di hari yang sama.
Mimi mengatakan Reyhan pamit dengan cara yang sama seperti biasanya—mencium tangan dan mengingatkan ibunya agar berhati-hati di jalan.
“Cuma dia pamitnya kayak gini. Dia kan selalu cium tangan. Baik mama, mama hati-hati ya nyetirnya,” ujar Mimi menirukan ucapan terakhir anaknya.
Mimi mengenang, Reyhan selalu berangkat kerja membawa bekal dari rumah. Ia selalu membawa bekal yang buat dari ibunya.
“Abang tuh kurang suka mah jajan di luar. Abang bawa nasi aja ya dari rumah. Oke, nggak apa-apa,” kata Mimi.
Petugas mengevakuasi korban kebakaran Gedung Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Namun kini ia tak menyangka kepergian anak pertamanya itu begitu cepat.
ADVERTISEMENT
“Emang sih, kalau Tuhan berkehendak, kita juga mau bilang apa ya. Kita hanya bisa ikhlas. Tapi kan sebagai ibu, saya gimana sih anak saya yang paling gede baru kerja. Baru gede, satu tahun lebih kurang di situ,” ujar Mimi.
Mimi juga mengaku bingung mengapa tidak ada simulasi atau prosedur penanganan darurat yang bisa membantu para karyawan menyelamatkan diri.
“Cuma yang bingungnya di kantor ini, kok nggak ada penanganan kayak simulasi atau apa,” tuturnya.
Ia menyebut, dirinya mendapat kabar dari bahwa Reyhan terjebak dan meregang nyawa di lantai 5.
“Gimana Reyhan meregang nyawanya. Kena asap di lantai 5,” ucap Mimi.
Hingga kini, Mimi belum bisa memastikan apakah Reyhan termasuk dalam 22 jenazah yang tengah diidentifikasi RS Polri, karena belum melihat jasadnya.
Petugas pemadam kebakaran melakukan evakuasi di Gedung Terra Drone yang terbakar di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
“Saya belum melihat apakah Reyhan ada di dalam itu. Tapi kalau di daftar ada nama Reyhan. Saya sudah konfirmasi ke pihak RS, cuma dimintai ciri-ciri, cuma diambil DNA. Cuma apakah Reyhan ada di dalamnya, antara yang 22 itu saya belum tahu,” jelas Mimi.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, ponsel Reyhan sudah tidak dapat dihubungi.
“Sudah, tapi check list 1, hp nya sudah enggak aktif,” ungkapnya.
Mimi terakhir kali berkomunikasi dengan Reyhan pada pagi hari, hanya lewat pesan singkat.
“Saya menge-chat dia doang tadi pagi. Saya bilang ‘nak ini ada paket’, dia bilang ‘itu dari Samsung mah’, cuma itu aja,” tandasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta, Bayu Meghantara, memastikan seluruh korban tewas dalam kebakaran gedung Terra Drone, Jakarta Pusat adalah karyawan perusahaan tersebut.
Dari total 22 korban jiwa, 15 di antaranya perempuan dan 7 laki-laki.
“Ada 22 orang meninggal dunia. 15 wanita dan 7 orang laki-laki. Seluruhnya adalah karyawan Terra Drone,” ujar Bayu di lokasi kejadian, Selasa (9/12).
ADVERTISEMENT
Menurut Bayu, mereka bukan meninggal karena terbakar, melainkan diduga akibat kehabisan oksigen akibat asap pekat yang naik ke lantai atas.
“Iya [meninggal karena kehabisan oksigen]. Mungkin karena sifat asap dari bawah ke atas. Kebakaran ini hanya di lantai bawah, kami berhasil memadamkannya, tapi asap sampai ke atas,” ujarnya.
Meski area kebakaran berada di lantai satu, banyak korban ditemukan di lantai 3 dan 4.