Effendi Gazali Jelaskan Kualifikasinya Sebagai Penasihat Menteri KP

Nama Effendi Ghazali disebut dalam sidang kasus dugaan suap izin ekspor benih lobster atau benur di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Rabu (3/3). Namanya keluar saat mantan Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zulficar Mochtar, yang dihadirkan oleh JPU KPK sebagai saksi, menyebutkan komposisi tim penasihat Menteri KP yang ditunjuk Edhy Prabowo.
Namun, rupanya Ketua Majelis Hakim Albertus Usada meragukan kualifikasi Effendi di bidang perikanan. Menurutnya Effendi adalah pakar komunikasi politik yang tidak memiliki latar belakang perikanan.
"Dia ahli komunikasi setahu saya tidak ada pembahasan perikanan di situ kan?" tanya hakim Albertus kepada Zulficar dalam persidangan.
Effendi kemudian buka suara terkait hal tersebut. Ia menyamakan dirinya dengan penunjukan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang tidak memiliki latar belakang di bidang kesehatan.
"Secara sangat sederhana, pertanyaan yang sama bisa ditujukan kepada pimpinan negara kita mengenai pemilihan Menteri Kesehatan. Dan rasanya bangsa Indonesia sudah pernah mendapat jawabannya," tulis Effendi dalam keterangannya, Kamis (4/3).
Menurut Effendi, tim penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) terbagi dalam beberapa bidang. Ia ditempatkan di Bidang Komunikasi Publik bersama Bachtiar Aly.
"Presiden memang meminta Menteri untuk meningkatkan komunikasi dengan pemangku kepentingan kelautan dan perikanan," kata Effendi.
Effendi mengatakan, keberadaannya adalah hal yang wajar karena setiap bidang ada proses komunikasinya.
"Sekali lagi tetap salam hormat, dan semoga Bapak Hakim yang mulia bisa memahami. Di setiap bidang ada proses komunikasinya," kata Effendi.
Lebih jauh ia mengatakan merupakan orang yang sangat keras menolak ekspor benih lobster. Dalam setiap rapat ia selalu tidak sependapat dengan kebijakan ekspor tersebut karena dinilai belum memenuhi syarat budidaya yang sesungguhnya.
"Zulficar juga seharusnya tahu bagaimana ketika dia masih menjadi Dirjen Tangkap di KKP, dalam puluhan rapat, sepertinya hanya saya yang agak keras tidak sependapat dengan ekspor benih lobster yang belum memenuhi syarat budidaya yang sesungguhnya. Jadi saya mengomunikasikan fakta," kata Effendi.
"Di Vietnam, budidaya lobster pasir itu satu putaran memakan waktu satu tahun. Sedang untuk budidaya lobster mutiara satu siklus memakan waktu dua tahun," tambah Effendi.
Effendi paham dengan lobster karena sejak 2019 telah berkecimpung dalam bidang tersebut. Ia terus berkomunikasi dengan para ahli lobster dunia, serta hampir tiap hari berdiskusi dengan dua doktor lobster Indonesia: Bayu Priyambodo dan Ilham Alimin.
Sejumlah penelitian terkait lobster juga dilakukannya sejak 2019. Di antaranya penelitian pangsa pasar sesungguhnya lobster di China pada Agustus 2019, penelitian semacam batu ozon alam untuk hatchery di Fukuoka Jepang pada 12-16 November 2019.
Kemudian meneliti pelet lobster yang mulai diproduksi di Filipina. Dan Februari 2020 melakukan penelitian hatchery lobster di Australia (mengenai kadar ozonisasi, lokasi, dan stocking density). Serta sudah berkeliling ke berbagai balai riset perikanan di Indonesia.
Sementara latar belakangnya di dunia perikanan sudah terjadi sejak Effendi kecil. Ia menuturkan waktu kecil tinggal di daerah pantai dan sejak itu sudah tertarik dengan dunia kelautan dan perikanan.
Pada 2010 ia juga mendukung Herdy Gemawan untuk melakukan budidaya kerapu dengan sistem keramba jaring apung. Plasma yang mereka ajak bersama antara lain di Kabupaten Malili, Sulawesi Selatan.
Effendi juga mengatakan pada 2011 aktif dalam kepengurusan beberapa asosiasi dan budidaya ikan koi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Panitia Kontes Koi “Pray For Japan” (2011), dan membantu Panitia Asia Young Koi Show 2012.
Ia juga aktif dalam asosiasi sidat bersama Profesor Martani Huseini. Juga bersama Chalid Muhammad dan Chandra Motik saat ada pertemuan nelayan nasional.
