Eks Direktur WHO soal Harga PCR India Murah: Mungkin Ada Subsidi dari Pemerintah

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pria bereaksi saat petugas kesehatan mengambil sampel usap virus corona, di New Delhi, India, (17/10).  Foto: Adnan Abidi/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria bereaksi saat petugas kesehatan mengambil sampel usap virus corona, di New Delhi, India, (17/10). Foto: Adnan Abidi/REUTERS

Harga tes PCR COVID-19 dan antigen di Indonesia yang lebih mahal ketimbang India masih menjadi perbincangan. Jika di Indonesia harga tes PCR berkisar Rp 600-900 ribu, India justru menurunkan tarifnya hanya menjadi 500 Rupee atau setara Rp 96 ribu.

Murahnya tarif tes PCR di India ini bisa terjadi karena berbagai faktor. Mantan Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengungkapkan beberapa analisa terkait mengapa harga PCR di India bisa sangat terjangkau.

"Teman dari India mengatakan, mungkin ada subsidi dari pemerintah setempat, sesuatu yang nampaknya barangkali saja terjadi sebagai bagian penanggulangan pandemi," kata Tjandra dalam keterangannya, Sabtu (14/8).

Selain itu, faktor lainnya bisa juga pemerintah Ibu Kota New Delhi itu memberikan fasilitas keringanan pajak. Tak sedikit juga yang mengungkapkan bahan baku kit PCR lebih murah dan tenaga kerjanya juga banyak.

kumparan post embed

Ia juga menceritakan bagaimana pemerintah kota New Delhi meminta laboratorium milik swasta dapat menyelesaikan pemeriksaan dan memberi tahu hasil tes ke kliennya dalam waktu 1x24 jam.

"Termasuk juga melaporkannnya ke portal pemerintah yang dikelola oleh Indian Council of Medical Research (ICMR). Sehingga datanya segera dikompilasi di tingkat nasional, mencegah keterlambatan pelaporan. Inisiatif yang bagus," ungkap Tjandra.

Harga Tes PCR di India yang Murah Bukan Hal Baru

Tjandra yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu mengakui murahnya harga tes PCR di India bukanlah hal baru.

"Tentang perbandingan harga tes PCR dengan India sebenarnya bukan hal yang baru," ucap dia.

Ia kemudian menceritakan pengalamannya saat pernah melakukan tes PCR di sana. Rupanya, turunnya harga tes tersebut sudah dilakukan berkali-kali oleh pemerintah New Delhi.

Guru Besar Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI, Prof Tjandra Yoga Aditama. Foto: Dok. Pribadi

"Pada September 2020 ketika saya akan pulang ke Jakarta dari New Delhi, maka saya melakukan tes PCR sebelum terbang. Petugasnya datang ke rumah saya dan biayanya 2400 rupee, atau Rp 480.000. Waktu itu tarif tes PCR di negara kita masih sekitar lebih dari Rp 1 juta," cerita Tjandra.

Selanjutnya, pada November 2020, Tjandra menyebut pemerintah New Delhi kembali menetapkan harga baru yang jauh lebih murah, yakni 1.200 rupee atau Rp 240 ribu. Turun separuh harga dari yang ia bayar pada September 2020.

"Pada November 2020 ini tarif PCR adalah 800 rupee saja (Rp 160.000) untuk pemeriksaan di laboratorium dan RS swasta," kata dia.

Dan lagi, harga tesnya pun kini semakin murah per Agustus 2021. Pemerintah New Delhi telah menegaskan seluruh lab dan rumah sakit swasta harus mematuhi instruksi harga yang sudah ditetapkan ini.

Seorang petugas kesehatan mengumpulkan sampel swab PCR di Chennai, India. Foto: Arun SANKAR/AFP

"Pada awal Agustus 2021 ini pemerintah kota New Delhi menurunkan lagi patokan tarifnya, menjadi 500 rupee, atau Rp 100 ribu saja. Kalau pemeriksaannya dilakukan di rumah klien maka tarifnya adalah 700 rupee, atau Rp 140 ribu. Sementara itu tarif pemeriksaan rapid antigen adalah 300 rupee atau Rp 60 ribu.

Di sisi lain, dari sekian kemungkinan soal murahnya tes PCR di New Delhi, Tjandra juga menyoroti ketersediaan obat-obatan untuk pasien corona yang juga lebih murah ketimbang di Indonesia.

"Tetapi yang jelas, selain tarif PCR maka harga obat-obatan di India juga amat murah bila dibandingkan dengan Indonesia," tutup anggota COVAX IAVG itu.