Engkong Sariah: Saya Rela Tak Dapat Penumpang Asal Tak Mengemis

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
11
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Engkong Sariah, 98 tahun tetap semangat menjalani hidup di masa senja. Banjir peluh sudah setiap hari dirasakannya selama berkeliling Jakarta mencari penumpang menggunakan bajaj yang menjadi sandaran hidupnya.

Prinsip hidupnya jelas, lebih baik tidak mendapatkan penumpang daripada harus mengemis. Yang terpenting, Engkong setiap hari sudah berusaha menjemput rezeki. Perkara berapa yang didapat, semua diserahkan pada Yang Maha Kuasa.

Engkong Sariah menolak mengemis. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Saya tinggal sama yang punya bajaj di Pulogadung. Kadang tidur sini aja di pangkalan, di situ deket tukang kopi.

Engkong Sariah mengemudi bajaj tanpa lelah. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Saya merantau dari tahun 53, pernah dulu sebelum ke Jakarta, tani di kampung, ngangon bebek, punya bebek dari tahun 45

Engkong Sariah mengusap peluh di dahinya. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Saya punya anak 4 di Indramayu semua. Cucu ada 12. Anak juga sudah nggak sayang sama orang tua. Saya suka nangis kalau mikirin itu. Gantian dulu ngurus anak cucu, giliran sekarang saya tua, nggak ada yang mau ngurusin

Engkong Sariah, fokus mengemudikan bajajnya. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Sekarang mah ngumpilin duit aja, apa lagi kalau lagi sakit kan. Kalau nggak punya duit, terus sakit siapa yang mau? Semangat, sama Allah yang Kuasa, sudah nasib kaya begini. Tapi masih sehat Alhamdulillah panjang umur.

Engkong Sariah masih bekerja di usia renta. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Jangan sampai saya ngemis. Saya nggak mau, nggak ada hati ke situ. Saya masih punya rasa malu. Nggak apa-apa nggak dapat penumpang, asal jangan sampai saya ngemis