Esai Foto: Perjuangan Perempuan Penggenggam Karat

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah perempuan pencari besi karat berjalan usai bekerja di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah perempuan pencari besi karat berjalan usai bekerja di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto

Pagi itu, kepulan asap mesin las pemotong besi menyeruak di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Surati, perempuan berusaia 55 tahun sesekali menyeka debu potongan besi yang menempel di wajahnya yang terlihat semakin mengeriput.

Detail wajah perempuan pencari besi karat di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Detail wajah perempuan pencari besi karat di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto

Surati adalah satu dari 12 perempuan di Cilincing, Jakarta Utara, yang berprofesi sebagai pencari karat besi. Berbekal keranjang persegi kecil dan tongkat magnet, Surati dan kawan-kawannya mencari tiap keping karat yang menempel pada besi kapal yang dibelah.

Seorang perempuan pencari besi karat berjalan di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto
Aminah mencari besi karat di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto

Demikian pula Datri (61), ia sudah bekerja mencari besi karat selama 17 tahun. Datri terpaksa mengambil pekerjaan guna menyambung hidup usai ditinggal suaminya.

Aminah (kiri) bersama rekannya mengerok karat yang menempel pada besi kapal di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto
Pencari besi karat berjalan di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto

Datri dan Surati mampu mengumpulkan karat besi sebanyak empat sampai lima kuintal dari setiap kapal yang dibelah. Akan tetapi pekerjaan mereka tidak selalu datang tiap hari, tergantung dari ada atau tidaknya kapal yang akan dibelah. Karat tersebut kemudian dikumpulkan ke pengepul. Untuk setiap harga karat yang dikumpulkan, ia menjual seharga Rp 20.000 per kuintal.

Dua pencari besi karat berbincang saat beristirahat di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto

Pekerjaan sebagai pencari besi karat tentu memiliki risiko yang tinggi bagi kesehatan. Akan tetapi mereka menyatakan terpaksa melakukan itu karena tak ada lagi pilihan lain yang bisa dikerjakan. Mereka melakukan ini sebagai perjuangan demi menyambung hidup.

Pencari besi karat mengambil besi karat yang terjatuh di tanah di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto
Surati beristirahat di antara tumpukan besi karat di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto

Sadar akan risiko yang dihadapi dari pekerjaannya, Surati bersama dengan 12 perempuan lainnya rutin memeriksa kesehatan tiap seminggu sekali. Misalnya hanya sekadar mengecek tekanan darah ke ke tukang tensi keliling dengan ongkos Rp 2.000 untuk sekali periksa.

Aminah (kiri) dan Datri (tengah) memeriksakan tekanan darah kepada tukang tensi keliling di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto
Aminah menunjukan besi karat di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto

Terkadang mereka juga melakukan terapi seadanya dengan menghirup oksigen murni dari tangki pengisian oksigen untuk kebutuhan alat las pemotong kapal-kapal bekas. "Lumayan terapi gratis, katanya bisa nyembuhin penyakit soalnya ini pas corona dicari-cari orang," kata dia.

Surati (kiri) bersama rekannya beristirahat sejenak usai mencari besi karat di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto
Aminah menghirup oksigen murni yang keluar dari truk pembawa oksigen murni di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto

Hidup sebagai pencari karat tidaklah mudah. Pilihan bertahan maupun mencari pekerjaan baru menurut mereka juga sama saja susah. Maka Surati, Datri dan 11 perempuan lainnya hanya mencoba berdamai dan berdoa agar nasib apes tak menimpa mereka.

Aminah mengayuh sepedanya saat akan mulai bekerja di kawasan Belah Kapal, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto

***

embed from external kumparan