Esai Foto: Vertical Mismatch Hantui Bonus Demografi Indonesia Emas
8 November 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
Esai Foto: Vertical Mismatch Hantui Bonus Demografi Indonesia Emas
Angan-angan pergi ke ibukota demi pekerjaan tidak relevan dengan kondisi Anto yang merupakan penghuni Jakarta itu sendiri. Dengan memiliki ijasah S1 Anto hanya bekerja sebagai Ojek online.kumparanNEWS

ADVERTISEMENT
“Pekerjaan apapun yang halal dan sesuai UMR. Minimal banget, deh gajinya gak di bawah 3 juta.”
ADVERTISEMENT
Itulah ucap pasrah Anto (25), bukan nama sebenarnya, pencari kerja yang menjadi momok kegamangan para usia produktif di Indonesia.
Angan-angan pergi ke ibukota demi pekerjaan tidak relevan dengan kondisi Anto yang merupakan penghuni Jakarta itu sendiri.
Naasnya, menurut laporan BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di metropolitan justru lebih besar (5,97%) dibanding pedesaan (3,67%). Maka, persaingan ketat inilah yang membikin pekerjaan formal sulit didapat di perkotaan.
Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada kerjaan formal, ojol pun jadi.
Daripada tidak berpenghasilan sama sekali, lulusan strata I itu pun rela menjadi ojek daring demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Drama perjalanan dan pancaroba di Jabodetabek hingga Cikarang ia tempuh demi Rp300 ribu per hari.
ADVERTISEMENT
“Sebenarnya enggak mau narik terus, tapi bagaimana lagi. Aku juga berusaha cari pekerjaan lain," ujar Anto yang menjadi tulang punggung keluarga tersebut.
Usaha Anto tak sampai di situ saja. Ia pun mengikuti kelas Smart Supply Chain-program pelatihan dari Kemnaker selama sebulan.
Ia percaya, ijazah tak cukup menjadi modal mencari kerja. Berharap kepemilikan sertifikasi miliknya mampu mendobrak ketidakyakinan perekrut.
Anto mengikuti kelas daring dan tatap muka di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi, sekitar 35 kilometer dari rumahnya.
Kondisi Anto mencerminkan fenomena vertical mismatch–ketidaksesuaian pendidikan dengan pekerjaan. Berdasarkan laporan Survei Angkatan Kerja Nasional BPS 2024, 42,83% pemuda Indonesia yang overeducated berpeluang tinggi di sektor informal dibandingkan pemuda dengan pendidikan yang sesuai (matched), yakni 31.21%.
Situasi ini merefleksikan pekerjaan informal jadi “batu loncatan” bagi pemuda overeducated masuk ke dunia kerja.
ADVERTISEMENT
Apakah mereka akan terus meloncat di batu yang sama?
