Esai Foto: Vertical Mismatch Hantui Bonus Demografi Indonesia Emas

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengemudi ojek online, Anto saat menghadiri pameran bursa kerja di Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengemudi ojek online, Anto saat menghadiri pameran bursa kerja di Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan

Pekerjaan apapun yang halal dan sesuai UMR. Minimal banget, deh gajinya gak di bawah 3 juta.”

Itulah ucap pasrah Anto (25), bukan nama sebenarnya, pencari kerja yang menjadi momok kegamangan para usia produktif di Indonesia.

Pengemudi ojek online, Anto mengantarkan paket kiriman di Jakarta. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan

Angan-angan pergi ke ibukota demi pekerjaan tidak relevan dengan kondisi Anto yang merupakan penghuni Jakarta itu sendiri.

Naasnya, menurut laporan BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di metropolitan justru lebih besar (5,97%) dibanding pedesaan (3,67%). Maka, persaingan ketat inilah yang membikin pekerjaan formal sulit didapat di perkotaan.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada kerjaan formal, ojol pun jadi.

Pengemudi ojek online, Anto (kanan) bersama ibunya (kiri) di rumahnya. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan

Daripada tidak berpenghasilan sama sekali, lulusan strata I itu pun rela menjadi ojek daring demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Drama perjalanan dan pancaroba di Jabodetabek hingga Cikarang ia tempuh demi Rp300 ribu per hari.

Pengemudi ojek online, Anto saat menunggu penumpang di Jakarta. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan
Pengemudi ojek online, Anto memakai jaket saat ingin mengantarkan paket kiriman di Mangga Dua, Jakarta Barat. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan

“Sebenarnya enggak mau narik terus, tapi bagaimana lagi. Aku juga berusaha cari pekerjaan lain," ujar Anto yang menjadi tulang punggung keluarga tersebut.

Pengemudi ojek online, Anto mencari informasi lowongan pekerjaan saat pameran bursa kerja di Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan

Usaha Anto tak sampai di situ saja. Ia pun mengikuti kelas Smart Supply Chain-program pelatihan dari Kemnaker selama sebulan.

Ia percaya, ijazah tak cukup menjadi modal mencari kerja. Berharap kepemilikan sertifikasi miliknya mampu mendobrak ketidakyakinan perekrut.

Pengemudi ojek online, Anto saat mengikuti kelas pelatihan dari Kemnaker di rumahnya. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan

Anto mengikuti kelas daring dan tatap muka di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi, sekitar 35 kilometer dari rumahnya.

Bingkai foto Anto saat wisuda S1 yang terpasang di rumahnya. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan

Kondisi Anto mencerminkan fenomena vertical mismatch–ketidaksesuaian pendidikan dengan pekerjaan. Berdasarkan laporan Survei Angkatan Kerja Nasional BPS 2024, 42,83% pemuda Indonesia yang overeducated berpeluang tinggi di sektor informal dibandingkan pemuda dengan pendidikan yang sesuai (matched), yakni 31.21%.

Pengemudi ojek online, Anto berpose dengan mengenakan jaket ojek online dan kemeja putih di rumahnya. Foto: Febria Adha Larasati/kumparan

Situasi ini merefleksikan pekerjaan informal jadi “batu loncatan” bagi pemuda overeducated masuk ke dunia kerja.

Apakah mereka akan terus meloncat di batu yang sama?