Evakuasi KRI Nanggala Akan Seperti Kapal Selam Kursk Rusia?

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapal Selam KRI Nanggala-402.
 Foto: Eric Ireng/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kapal Selam KRI Nanggala-402. Foto: Eric Ireng/ANTARA FOTO

TNI AL bersama tim gabungan masih terus berupaya untuk menemukan cara terbaik mengevakuasi kapal selam KRI Nanggala-402 yang dinyatakan tenggelam.

Asrena KSAL Laksamana Muda TNI Muhammad Ali mengatakan, metode evakuasi KRI Nanggala saat ini masih didiskusikan lebih lanjut. Keberadaan kapal saat ini juga jadi pertimbangan besar tim gabungan dalam menentukan proses evakuasi.

"Evakuasi-evakuasi ini tetap dilaksanakan. Metode pengangkatan ini bermacam-macam bergantung dari kedalaman posisi kapal di kedalaman berapa, ini juga sangat mempengaruhi tingkat kesulitan dari pengangkatan kapal tersebut," ujar Ali dalam konferensi pers, Selasa (27/4).

Untuk melakukannya bukan perkara mudah. Dibutuhkan kerja sama luar negeri untuk menemukan metode terbaik dalam mengevakuasi KRL Nanggala ke daratan. Mengingat saat ini Indonesia belum memiliki peralatan evakuasi yang layak untuk digunakan.

Kerja sama itulah yang sebelumnya juga dijalin Rusia untuk membantu proses evakuasi kapal selam Krusk yang tenggelam pada 12 Agustus 2000 silam.

Bagian kapal KRI Nanggala 402 hasil citra Remotely Operated Vehicle (ROV) MV Swift Rescue ditunjukkan saat konferensi pers di Lanud I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Minggu (25/4). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO

"Pengalaman dari negara lain seperti Rusia angkat Kursk itu bisa dilihat di media sosial bagaimana dia mengangkat itu juga dia meminta bantuan luar selain dengan asetnya sendiri dibantu juga dengan aset luar. Itu negara sekelas Rusia yang sudah membuat kapal selam dan mengoperasikan kapal selam seperti itu," jelasnya.

Sebagai informasi, Rusia berhasil mengangkat Kursk ke permukaan dari Laut Barents setahun setelah dinyatakan tenggelam. Kapal selam Kursk saat itu diangkat menggunakan kabel baja yang diturunkan dari kapal tongkang. Setelah diangkat, kapal selam itu lantas dijepit di bawah tongkang.

Tiga bulan persiapan pengangkatan kapal selam Kursk bukan tanpa masalah. Sejumlah kendala teknis terjadi jelang Kursk akan diangkat menuju permukaan.

Pengangkatan kapal Kursk berbeda dengan kapal selam lain sebab kapal 18.000 ton ini berukuran sangat besar dan berat. Selain itu, kapal selam ini juga membawa senjata nuklir.

Tak hanya itu, pengangkatan bangkai kapal selam Kursk saat itu juga memunculkan kekhawatiran tersendiri. Hal itu karena evakuasi Kursk ke permukaan dikhawatirkan dapat mengganggu keselamatan kapal lain karena Kursk tenggelam di perairan dangkal. Kursk tenggelam pada kedalaman 108 meter di bawah permukaan, 140 kilometer lepas pantai Rusia.

Kapal selam Rusia Kursk di Pangkalannya di Vidyayevo, pada tahun 1995. Foto: STR/AFP

Berkaca pada metode evakuasi yang dilakukan pada Kursk, sejumlah metode pun mulai menjadi pertimbangan. Metode seperti menusuk, mengait untuk mengangkat secara perlahan, hingga menggunakan balon udara jadi beberapa langkah yang mungkin dapat dilakukan terhadap KRI Nanggala.

Metode tersebut masih dimungkinkan untuk berubah jika pada nantinya didapati kondisi kapal yang sudah terbilang rusak dan tidak memungkinkan untuk diangkat kembali ke permukaan.

"Kalau sudah hancur agak sulit mungkin untuk mengangkat. Mungkin mengangkatnya seperti Kursk itu dia dirusak tapi bisa mengangkat sebagian besar," kata Ali.

"Rencana kita itu masih kita diskusikan bagaimana caranya mengangkat karena kedalamannya ini tidak dangkal, ya, ini termasuk dalam, lebih dalam dari kejadian kapal selam Argentina. Ini 838 meter," ujar Ali.

kumparan post embed

Kapal selam Argentina yang dimaksud Ali adalah ARA San Juan yang karam di laut Atlantik lepas pantai selatan Argentina dan menewaskan 44 awaknya.

Kapal ini hilang kontak setelah melaporkan adanya korsleting akibat air laut yang masuk lewat snorkel pada 15 November 2017. Serpihan kapal buatan Jerman itu ditemukan setahun kemudian di kedalaman 906 meter.