Fakta Baru Kasus Raya, Bocah di Sukabumi yang Meninggal karena Cacingan Akut
·waktu baca 5 menit

Sejumlah fakta ditemukan saat kumparan berkunjung ke rumah Raya, bocah 4 tahun yang meninggal dunia karena cacingan akut, pada Rabu (20/8). Raya tinggal di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Sukabumi, Jawa Barat.
Untuk mencapai rumah tersebut perjalanannya cukup panjang. Dari kantor kumparan di Pejaten, Pasar Minggu, perjalanan memakan waktu hampir empat jam lebih. Selepas keluar Tol Parung Kuda, laju kendaraan diarahkan menuju Desa Cianaga.
Waktu tempuh sekitar 1 jam 40 menit dilalui dengan kondisi jalan rusak, menembus jalur Cikadang yang melewati hutan lebat.
Sesekali kendaraan harus melambat karena jalan sempit dan berbatu, menambah panjang perjalanan menuju kampung.
Sesampainya di kantor desa, kumparan kemudian menelusuri alamat pasti kediaman Raya. Kepala Dusun setempat menyebutkan lokasi rumah keluarga itu berada di Kampung Padangenyang, di wilayah Dusun Lemahduhur. Dari titik ini, perjalanan berlanjut.
Untuk sampai ke rumah tersebut, jalan berbatu yang belum sepenuhnya beraspal menjadi rintangan tersendiri. Motor diparkir di pinggir jalan, perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kontur jalanan menanjak membuat langkah kaki terasa berat.
Sepanjang perjalanan, kandang-kandang domba berjajar di sisi jalan. Bau khas ternak domba menusuk hidung, menjadi ciri khas kehidupan warga sekitar yang banyak menggantungkan hidup menjadi buruh ternak juga menjadi buruh tani.
Sekiranya jarak 100 meter dari jalan raya, akhirnya rumah semi panggung milik keluarga Raya tampak di ujung.
Rumah itu berdiri sederhana, jauh dari cerminan rumah ideal dan bersih. Rumah ini memperlihatkan keterbatasan keluarga Raya dalam membangun tempat tinggal yang sehat dan layak.
Berikut Rangkuman Fakta yang Ditemukan:
Hidup Dalam Kemiskinan
Kepala Dusun Tiga Lemahduhur, Arief Rahman Hakim, menyebut keluarga Raya berada di bawah garis kemiskinan dan kedua orang tuanya memiliki keterbelakangan mental.
“Orang tuanya ya memiliki sedikit keterbelakangan mental gitu ya,” kata Arief saat diwawancarai di Kantor Desa Cianaga, Sukabumi, Rabu (20/8).
“(Keluarga Raya) di bawah garis kemiskinan, kebanyakan warga seperti biasanya masih di bawah garis kemiskinan dan bukan hanya keluarganya (Raya) saja, sih masih banyak juga yang lainnya dalam garis kemiskinan di desa,” ujarnya
Ia menyebut, orang tua Raya memiliki keterbatasan dalam berinteraksi dengan orang luar.
“Dulu misalkan ketika musim vaksin, ketika mau divaksin dia lari kabur ke gunung. Terus jarang berinteraksi dengan orang luar selain dengan keluarganya sendiri,” jelasnya.
Arief menambahkan, ayah Raya, Udin, sehari-hari bekerja serabutan sebagai buruh harian lepas, sementara ibunya hanya mengurus rumah tangga.
Rumah Tak Ada MCK, Mandi di Empang
Sarah (25 tahun), bibi Raya, mengatakan kondisi keluarga Raya memang kurang mampu.
Rumah Raya tidak memiliki kamar mandi. Sehari-hari Raya mandi di empang yang berada di seberang area bawah rumahnya.
"Dia mandinya di situ (di empang)," kata Sarah sambil menunjuk ke arah empang, Rabu (20/8).
Kadang, Raya juga mandi atau buang air besar dan kecil di aliran air kecil dekat rumahnya.
Kolong Rumah Raya Tempat Ia Diduga Terpapar Larva Cacing Gelang
Kolong rumah Raya diduga menjadi tempat ia terpapar larva cacing gelang saat sering bermain di sana.
Pantauan kumparan di bawah kolong rumah itu terdapat banyak kotoran ayam yang berserakan di tanah. Selain itu, terlihat juga karung-karung serta barang-barang bekas yang ditaruh di kolong rumah tersebut.
Anak Ceria, Suka Main di Tanah
Sarah (25 tahun), tante Raya (4 tahun), mengenang Raya sebagai anak yang ceria. Dia sering bermain di tanah, baik itu tanah di depan rumahnya atau pun di kolong rumahnya.
"Anaknya ceria. Keseharian memang ceria. Suka main juga sama anak saya. Memang suka main di tanah, tapi nggak terlalu tiap hari di tanah gitu, tapi keseringan memang sering di tanah," ucap Sarah.
Soal kondisi cacingan akut yang dialami Raya, Sarah mengaku tidak tahu. Dia tahunya Raya memang sudah dinyatakan gizi buruk saat periksa di Posyandu. Namun itu pun dulu saat usia Raya 2 atau 3 tahun.
Kepala Dusun Menyesal
Kepala Dusun Tiga Lemahduhur, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Arief Rahman Hakim, menyampaikan permintaan maaf dan janji akan melakukan evaluasi usai meninggalnya bocah bernama Raya (4) akibat cacingan akut.
“Perasaan menyesal tentu saja itu hal yang normal ya. Apalagi saya secara pribadi selaku aparat setempat yang paling dekat dengan warganya sangat menyesal dengan kejadian tersebut,” kata Arief saat ditemui di Kantor Desa Cianaga, Rabu (20/8).
Ia mengaku sebagai aparat yang paling dekat dengan warga, merasa lalai dalam memberikan perhatian.
“Dan sangat mohon maaf sebesar-besarnya untuk keriuhan bahwa kemungkinan kami lalai dalam menangani warga kami. Dan untuk ke depannya tentu saja kami akan melakukan beberapa evaluasi perbaikan terhadap pelayanan masyarakat yang ada di wilayah kami,” kata Arief.
Akui Pernah Dapat Obat Cacing
Berdasarkan keterangan keluarga, Raya sebenarnya rutin mendapat obat cacing dari posyandu. Namun, tidak jelas apakah obat itu benar-benar diminum oleh Raya.
Edah, nenek Raya sekaligus bibi dari ayahnya, mengatakan obat cacing memang diberikan setiap enam bulan sekali.
“Kalau di sini, tiap ke posyandu kan, enam bulan sekali ya, dikasih obat cacing. Emang suka dikasih,” kata Edah saat ditemui, Rabu (20/8).
Ia menyebut, sering kali obat memang diberikan, namun tidak tahu apakah benar diberikan untuk Raya.
“Emang suka dikasih. Nggak tahu dikasih (diminumkan ke Raya atau tidak) sama ibunya, ” ucap Edah.
Raya Diduga Idap Sakit Paru karena Tertular Keluarga
Sejak kecil, Raya juga diketahui memiliki riwayat sakit Paru yang diduga tertular dari keluarganya.
Edah, nenek Raya, menuturkan cucunya mulai menunjukkan gejala sakit sejak usia dua tahun. Menurutnya, kondisi paru-paru Raya itu sudah sempat diketahui mantri setempat.
“Usia dua tahun dia baru bisa duduk, pas langsung sakit, kata mantrinya dia kena paru. Tapi langsung sembuh lagi, enggak lama,” kata Endah kepada wartawan, Rabu (20/8).
Edah menyebut, sakit paru yang diderita Raya diduga ada kaitannya dengan kondisi kesehatan keluarga.
“Emang itu parunya (sakit) pusatnya, dari ibunya. Ya, ketularan anaknya sama Bapak Udin-nya juga, dari ibunya, dari istrinya,” ucapnya.
