Fakta-fakta AS Tangkap Presiden Venezuela

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Helikopter AS yang membawa Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dan istrinya di Westside Heliport, New York  Foto: Jeenah Moon/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Helikopter AS yang membawa Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dan istrinya di Westside Heliport, New York Foto: Jeenah Moon/REUTERS

Amerika Serikat (AS) melancarkan rentetan serangan ke ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1) dini hari. Operasi militer tersebut berujung dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan elite AS.

Pemerintah Venezuela menuduh AS melanggar hukum internasional atas serangan tersebut. Kini Maduro telah berada di wilayah AS.

Berikut fakta-fakta serangan ke Venezuela dan penangkapan terhadap Maduro:

Serangan ke Venezuela Tewaskan 40 Orang

Sedikitnya 40 orang dilaporkan tewas dalam serangan udara AS ke Venezuela. Informasi tersebut dilaporkan The New York Times, mengutip keterangan seorang pejabat Venezuela, seperti yang diberitakan Al-Jazeera.

Korban tewas dalam serangan AS mencakup warga sipil dan anggota militer. Salah satu serangan udara dilaporkan menghantam sebuah bangunan hunian tiga lantai di kawasan La Mar Catia, wilayah pesisir yang terletak di sebelah barat Bandara Caracas, Venezuela.

Di antara korban tewas terdapat seorang perempuan lansia bernama Rosa Gonzalez (80), bersama anggota keluarganya. Selain korban tewas, serangan tersebut juga menyebabkan korban luka-luka.

Kebingungan dan kepanikan menyelimuti warga di Caracas, Venezuela, ketika AS meluncurkan serangan. Pada tengah malam, warga berhamburan menuju jendela dan teras rumah. Sejumlah warga juga melaporkan listrik padam di berbagai titik.

“Dari sini, kami bisa mendengar ledakan di sekitar Fort Tiuna,” kata Emmanuel Parabavis (29), seperti diberitakan AFP. Fort Tiuna merupakan salah satu pangkalan militer terbesar di Venezuela.

Maduro dan Istrinya Ditangkap, Dibawa ke New York

Presiden Venezuela tiba di New York, usai ditangkap pasukan elite AS. Ia dikawal oleh para agen FBI. Foto: WABC via Reuters

Setelah ditangkap, Maduro bersama Istrinya dibawa ke New York. Pada Minggu (4/1), keduanya tiba di pangkalan militer di sana.

Dilansir AFP, Maduro yang dikawal ketat FBI ini perlahan-lahan turun dari pesawat milik pemerintah AS. Ia saat ini sudah berada di Fasilitas Garda Nasional New York, dan dibawa pergi dari landas pacu.

Maduro masih mengenakan pakaian yang sama, sweater dan celana training abu-abu saat tiba di AS.

Dipenjara di New York

Presiden Venezuela Nicolas Maduro (tengah) digiring dalam tahanan menyusuri lorong di kantor Badan Penegakan Narkoba AS (DEA) di New York City, AS, Sabtu (3/1/2026). Foto: @RapidResponse47/HO via REUTERS

Wali Kota New York Zohran Mamdani menyebut Maduro dan istrinya, Celia Flores, akan dijebloskan di penjara federal New York.

"Saya diberi tahu militer AS, bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya yang baru saja ditangkap, akan dipenjara di penjara federal kota New York," ucapnya di akun X resminya, @NYCMayor.

Mamdani lalu menyampaikan pendapatnya terkait agresi AS itu.

"Bagaimanapun, menyerang sebuah negara berdaulat adalah tindakan perang dan melanggar hukum federal dan internasional," ucapnya.

Terkait situasi tersebut, Mamdani memprioritaskan keamanan warga New York, termasuk puluhan ribu imigran Venezuela yang tinggal di sana.

"Fokus saya adalah keamanan mereka, dan keamanan setiap warga New York. Kami akan terus memonitor situasi dan menyampaikan arahan-arahan yang relevan," ucap Mamdani.

Deretan Dakwaan terhadap Maduro

AS mengungkapkan sejumlah dakwaan terhadap Maduro. Hal tersebut disampaikan Jaksa Agung AS, Pam Bondi.

Dalam unggahannya di X pada Sabtu (3/1) waktu setempat, Bondi mengungkap dakwaan terhadap Maduro: Konspirasi Narkoterorisme, Konspirasi Impor Kokain, Kepemilikan Senapan Mesin dan Alat Perusak, Konspirasi Kepemilikan Senapan Mesin dan Alat Perusak terhadap AS.

Trump Akan Kendalikan Venezuela

Presiden Donald Trump diapit Direktur CIA John Ratcliffe dan Menlu Marco Rubio, saat meninjau operasi militer AS di Venezuela, dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Sabtu (3/1). Foto: @realDonaldTrump via reuters

Trump akan mengambil alih pengelolaan Venezuela usai penangkapan Maduro. Ia mengeklaim akan kendalikan Venezuela untuk sementara waktu demi memastikan transisi berjalan aman dan terkendali.

"Kita akan menjalankan negara ini sampai kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Jadi kita tidak ingin terlibat dengan orang lain yang masuk dan kita memiliki situasi yang sama seperti yang kita alami selama bertahun-tahun terakhir. Jadi kita akan menjalankan negara ini sampai kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Dan itu harus bijaksana karena itulah tujuan kita," ujar Trump dalam konferensi pers, Minggu (4/1).

Menurut Trump, langkah tersebut dilakukan demi kepentingan rakyat Venezuela, termasuk jutaan warga Venezuela yang saat ini tinggal di luar negeri.

"Kami menginginkan perdamaian, kebebasan, dan keadilan bagi rakyat Venezuela yang hebat, dan itu termasuk banyak warga Venezuela yang sekarang tinggal di Amerika Serikat dan ingin kembali ke negara mereka. Itu adalah tanah air mereka," katanya.

Wapres: Nicolas Maduro Satu-satunya Presiden

Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez. Foto: Juan BARRETO / AFP

Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menegaskan Maduro merupakan satu-satunya Presiden Venezuela.

“Hanya ada satu presiden di Venezuela, dan namanya adalah Nicolas Maduro Moros,” ujar Rodríguez pada Sabtu (3/1), dikutip dari The Hill.

Pernyataan tersebut disampaikannya di tengah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Rodriguez sebagai presiden baru Venezuela.

Sikap Rodríguez justru menegaskan dukungan penuh terhadap Maduro dan sekaligus membantah pernyataan Trump.

Rodríguez mengecam operasi militer AS dan serangan terhadap Venezuela. Ia juga menuntut agar Maduro dan istrinya segera dibebaskan.

Perusahaan AS untuk Industri Minyak Venezuela

Trump mengatakan AS akan memperbaiki industri minyak Venezuela. Trump akan mengerahkan perusahan-perusahaan AS.

Dikutip dari BBC, Minggu (4/1), Trump mengatakan rencana perbaikan muncul karena industri minyak Venezuela telah mengalami kegagalan total dalam waktu yang sangat lama.

“Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia, masuk ke sana, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu,” kata Trump dalam konferensi pers.

Berdasarkan data dari US Energy Information Administration (EIA), Venezuela memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak mentah, atau sekitar 20 persen dari sumber daya minyak dunia.

Dalam pengelolaan dan perbaikan industri minyak Venezuela tersebut, Trump mengeklaim sudah menyiapkan suatu hal yang disebutnya sebagai ‘sekelompok orang’. Meski demikian, ia tak memberikan detail informasi mengenai hal tersebut.

“Kami akan mengelolanya dengan sebuah kelompok, dan kami akan memastikan semuanya dijalankan dengan benar,” kata Trump.