Fakta-fakta Pemberontakan di Ukraina Timur: 8 Tahun Penuh Ketegangan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah bangunan tempat tinggal yang rusak akibat adanya penembakan, di kota Vrubivka, di wilayah Luhansk, Ukraina, Kamis (17/2/2022). Foto: National Police of Ukraine Handout via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah bangunan tempat tinggal yang rusak akibat adanya penembakan, di kota Vrubivka, di wilayah Luhansk, Ukraina, Kamis (17/2/2022). Foto: National Police of Ukraine Handout via REUTERS

Bersamaan dengan meningkatnya tensi antara Rusia-Ukraina, situasi di wilayah Ukraina Timur juga semakin memanas.

Para pemberontak di wilayah ini sudah delapan tahun berkonflik dengan Pemerintah Ukraina. Bahkan mereka sudah mendeklarasikanpemisahan diri dari Ukraina pada 2014 silam.

Dalam beberapa hari terakhir, dilaporkan terjadi ribuan pelanggaran gencatan senjata baik oleh kelompok pemberontak maupun Pasukan Pemerintah.

Para separatis yang berlokasi di Kota Donetsk dan Luhansk—dikenal sebagai wilayah Donbass—merupakan pemberontak pro-Rusia. Rusia pun disebut mendukung para pemberontak.

Pemberontakan di Donbass ini menjadi cikal bakal dari krisis Ukraina yang tak kunjung surut, meskipun komunitas internasional sudah mengupayakan jalan perdamaian bagi para pihak bersekutu.

kumparan telah merangkum sejumlah fakta mengenai pemberontakan di timur Ukraina, mulai dari awal mula pergerakan hingga eskalasi konflik saat ini. Berikut daftarnya.

Sebuah bangunan tempat tinggal yang rusak akibat adanya penembakan, di kota Vrubivka, di wilayah Luhansk, Ukraina, Kamis (17/2/2022). Foto: National Police of Ukraine Handout via REUTERS

1. Dimulai pada 2014, Usai Rusia Caplok Krimea

Krisis Ukraina dimulai dengan meletusnya aksi protes di Ibu Kota Kiev pada November 2013. Kemarahan warga dipicu oleh keputusan Presiden Ukraina saat itu, Viktor Yanukovych, untuk menolak integrasi ekonomi dengan Uni Eropa.

Yanukovych yang pro-Rusia pun melarikan diri pada Februari 2014. Sebulan setelahnya, tentara Rusia berhasil “memenangkan hati” Krimea. Setelah digelar referendum, 97% warga Krimea mengatakan ingin bergabung dengan Rusia, bukan Ukraina. Referendum ini dicap tidak sah.

Berlanjut dari aneksasi Krimea, para separatis yang didukung oleh Rusia, mulai berdemonstrasi terhadap pemerintah Ukraina di kota-kota Ukraina Timur, mencakup Kota Donetsk dan Luhansk.

Pemerintah Ukraina mengerahkan upayanya untuk melawan aksi dari separatis pro-Rusia. Pada pertengahan Agustus 2014, Vox melaporkan Rusia bergerak dari mendukung separatis secara diam-diam ke mengerahkan pasukan militer Rusia.

Dikutip dari CFR, tak lama setelahnya, kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk mengumumkan pemisahan dan kemerdekaan dari Ukraina.

Sejumlah warga menaiki bus yang diatur untuk mengevakuasi penduduk di kota Donetsk, Ukraina, Jumat (18/2). Foto: Alexander Ermochenko/Reuters

2. Republik Rakyat Donetsk

Pada Mei 2014, kelompok separatis pro-Rusia di Donetsk mendeklarasikan kemerdekaannya dari Ukraina di bawah nama Donetsk People's Republic (DPR) atau Republik Rakyat Donetsk (RRD).

RRD berlokasi di timur Ukraina, tepatnya di Donetsk Oblast (setara dengan Provinsi).

Secara internasional Donetsk masih diakui sebagai bagian dari wilayah Ukraina, meskipun Ukraina menganggapnya sebagai “wilayah Ukraina yang diduduki sementara yang disebabkan oleh intervensi militer Rusia.”

Sejak Februari 2017, Rusia telah mengakui dokumen identitas, diploma, akta kelahiran, akta pernikahan, dan pelat kendaraan yang dikeluarkan oleh RRD.

Republik Rakyat Donetsk, yang saat ini dipimpin oleh Denis Pushilin sejak 2018, tidak diakui kemerdekaannya oleh komunitas internasional. Sejak 2014, RRD dikategorikan sebagai kelompok teroris oleh Ukraina.

Suasana di garis depan pertempuran dekat kota Novotoshkivske di wilayah Luhansk, Ukraina. Foto: Iryna Rybakova/Ukrainian Defence Ministry via REUTERS

3. Republik Rakyat Luhansk

Luhansk People’s Republic atau Republik Rakyat Luhansk (RRL) merupakan sebuah negara-kuasi yang telah dinyatakan Pemerintahan Ukraina sebagai organisasi teroris.

Terletak di Luhansk Oblast, kota terbesar di wilayah Donbas, yang secara internasional diakui sebagai wilayah asli Ukraina. RRL menyatakan kemerdekaannya dari Ukraina bersama Donetsk People’s Republic atau Republik Rakyat Donetsk dan Republik Krimea pasca-revolusi Ukraina pada Mei 2014.

RRL mempunyai populasi sebanyak kurang lebih 1,5 juta orang dan dalam konstitusinya merupakan negara konstitusi demokratis. Saat ini RRL dipimpin oleh Leonid Pasechnik.

Sama seperti Donetsk, kemerdekaan Luhansk sama juga tidak diakui oleh negara-negara dunia.

Lokasi pasukan Rusia dan gerakan separatis Ukraina. Foto: Mapcreator/OSM via Reuters

4. Upaya Perdamaian: Penandatanganan Perjanjian Minsk I

Dikutip dari CFR, negara-negara sudah mencoba membantu penyelesaian konflik lewat Perjanjian Minsk.

Perjanjian ini meliputi ketentuan mengenai gencatan senjata, penarikan senjata-senjata berat, dan kontrol penuh Pemerintah Ukraina atas zona konflik. Namun, usaha untuk mencapai perjanjian diplomatik dan resolusi konflik belum tercapai.

Perjanjian Minsk I ditandatangani oleh Ukraina, Rusia, Organisasi Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE), dan kelompok separatis pro-Rusia pada September 2014.

Ukraina dan kelompok separatis setuju akan kesepakatan gencatan senjata 12 poin, termasuk penarikan persenjataan berat dan pertukaran tahanan. Namun, perjanjian ini gagal dalam menghentikan pertempuran. Pelanggaran dari kedua belah pihak kerap terjadi.

Pemimpin Pemberontak Ukraina Tewas Terbunuh, Alexander Zakharchenko Foto: Philippe DESMAZES / AFP

5. Upaya Kedua: Perjanjian Minsk II

Setelah kegagalan atas Minsk I atau Protokol Minsk, Minsk II pun ditandatangani. Perwakilan dari Ukraina dan Rusia, yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman, menandatangani 13 poin perjanjian di bulan Februari 2015.

Perjanjian kedua ini nyatanya juga tidak sukses menghentikan kekerasan antara kelompok separatis dan Pasukan Pemerintah Ukraina.

OSCE melaporkan sekitar 200 pelanggaran mingguan di tahun 2016-2020 dan lebih dari 1.000 pelanggaran sejak 2021, menurut Novaya Gazeta, dilansir Moscow Times.

6. Korban Konflik Ukraina

Sejak konflik bersenjata pecah untuk pertama kalinya pada 2014, pemberontak separatis dari Donetsk dan Luhansk dituduh sebagai “tangan kanan” dan “tangan kiri” kepentingan Rusia.

Pasukan cadangan yang baru bergabung dari Pasukan Pertahanan Teritorial Ukraina ambil bagian dalam latihan militer di pinggiran Kiev, Ukraina, Minggu (30/1/2022). Foto: Valentyn Ogirenko/REUTERS

Media Barat maupun Ukraina kerap melihat konflik di wilayah Donbass sebagai perang antara Rusia dan Ukraina, bukannya sebagai perang saudara.

Berdasarkan data CFR, konflik antara tentara Ukraina dan grup separatis pro-Rusia telah memakan lebih dari 13.000 korban tewas. Sementara dilansir CNN, Pemerintah Ukraina mengatakan jumlah korban jiwa mencapai 14.000 orang.

Sedangkan warga yang kehilangan rumahnya sejak delapan tahun silam, menurut CFR, mencapai 1,5 juta orang.

7. Konflik Kian Memanas di 2022

Pada Sabtu (19/2), sebanyak lebih dari 1.500 pelanggaran gencatan senjata tercatat oleh OSCE di wilayah Ukraina Timur antara pihak-pihak yang bersengketa. Pada laporan terkait hari sebelumnya, sebanyak 591 pelanggaran terjadi di daerah Donetsk dan sebanyak 975 terjadi di Luhansk.

Di hari yang sama, dua tentara Ukraina dilaporkan tewas dan empat lainnya luka-luka. Dua korban dikabarkan tewas akibat terkena pecahan peluru.

Kemudian pada Minggu (20/2), tentara Ukraina dituduh menembak hingga tewas dua warga sipil di wilayah Luhansk. Beberapa jam setelahnya, yakni pada Senin (21/2) dini hari, sebuah ledakan terdengar di pusat kota Donetsk. Belum diketahui secara pasti dari mana sumber ledakan itu.

Reporter: Airin Sukono