Foto: Imbas Kekeringan di Sumba, NTT

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang nelayan dari Waingapu, membawa jalanya kembali ke pantai setelah memancing di Pantai Maudolung di kabupaten Kanatang, Nusa Tenggara Timur. Foto: REUTERS/Willy Kurniawan
zoom-in-whitePerbesar
Seorang nelayan dari Waingapu, membawa jalanya kembali ke pantai setelah memancing di Pantai Maudolung di kabupaten Kanatang, Nusa Tenggara Timur. Foto: REUTERS/Willy Kurniawan

Kekeringan ekstrem yang melanda Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengakibatkan para petani mengalami gagal panen. Sejumlah kuda dan sapi mati akibat rumput yang mengering.

Melihat kondisi tersebut, para petani Sumba beralih mencari ikan di pantai untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.

Seperti yang dilakukan Ndelu Ndaha, seorang petani yang sekarang ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menangkap ikan. Sebanyak 18 kuda dan tujuh sapinya mati akibat kelaparan.

Reuters melaporkan, selain memancing, para pria Sumba mulai belajar menenun, demi mendapatkan penghasilan tambahan. Sumba memang terkenal dengan kain tenun tradisionalnya. Namun kegiatan ini biasanya dikerjakan oleh para wanita.

Sejumlah anak memandikan kuda di pantai Puru Kambera di kabupaten Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Foto: REUTERS/Willy Kurniawan

Sumba Timur tahun lalu dilaporkan memiliki 249 hari berturut-turut tanpa hujan, dan memaksa masyarakat terdampak beradaptasi untuk bertahan hidup.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG Indonesia, kondisi kekeringan ini menjadi bukti dari pemanasan global.

Sumba merupakan wilayah paling kering di Nusa Tenggara Timur, yang juga termasuk provinsi termiskin ketiga di Indonesia.

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.

***

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.