Foto: Penjara Bagi yang Jemu dengan Rutinitas

Bagian kebanyakan orang, penjara adalah tempat tubuh dikerangkeng, kebebasan dibatasi, dan diwarnai penyiksaan fisik dan mental. Tapi buat segelintir orang lainnya penjara adalah tempat untuk bebas dari rutinitas, terutama bagi mereka yang jemu dengan kehidupan yang monoton.
Keinginan sebagian orang inilah yang difasilitasi oleh Noh Ji-Hyang dengan mendirikan sebuah penjara artifisial di kota Hongcheon, Korea Selatan. Di bangunan tengah hutan ini, warga bisa sejenak melepaskan diri dari jerat rutinitas, menyendiri di dalam sel buatan.

Noh mengatakan, fasilitas bernama "Prison Inside Me" itu dibangun sejak 2013. Lima tahun buka, kata Noh, mereka telah melayani lebih dari 2.000 orang yang ingin merasakan sensasi menyepi ala narapidana.
Menurut Noh, ide bisnis itu muncul dari suaminya, seorang penyidik kepolisian yang kelelahan karena bekerja 100 jam per minggu. "Dia mengatakan ingin masuk ke sel isolasi selama seminggu untuk beristirahat. Itu awalnya," kata Noh kepada Reuters, Kamis (22/11).

Ide itu disambut baik oleh banyak orang. Kebanyakan penyewa sel Noh adalah para pekerja kantoran yang stres dengan tuntutan pekerjaan mereka, atau mahasiswa yang lelah karena terlalu banyak belajar.
Untuk menginap selama 24 jam di dalam sel, penyewa harus merogoh kocek setara Rp 1,3 juta. Peraturan di penjara buatan itu juga sangat ketat, mereka dilarang berbicara dengan napi lainnya, menggunakan ponsel, atau melihat jam.


Penyewa akan mengenakan seragam biru layaknya napi. Di dalam sel mereka hanya ada karpet yoga, cangkir teh, pena dan buku. Mereka tidur di ubin. Ada toilet kecil di dalamnya, tapi tanpa cermin.
Makanannya juga khas penjara, hanya ubi kukus untuk makan siang dan jus pisang untuk makan malam, sarapannya hanya bubur.

Terlihat bukan tempat yang menyenangkan memang. Tapi untuk para penyewanya, sel itu jadi tempat mereka melepas penat dan bebas dari belenggu pekerjaan. Malah mereka merasakan kebebasan yang hakiki di dalamnya.
"Penjara ini memberikan saya rasa kebebasan," kata Park Hye-ri, pekerja kantoran berusia 28 tahun.

"Saya seharusnya tidak ada di sini sekarang, karena ada kerjaan yang harus diselesaikan. Tapi saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan bercermin ke dalam diri saya untuk kehidupan yang lebih baik," kata Park lagi.
Korsel adalah salah satu negara dengan jam kerja terpanjang di dunia. Menurut survei Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) terhadap 36 negara anggotanya, warga Korsel rata-rata bekerja 2.024 jam per tahun, terpanjang ketiga setelah Meksiko dan Kosta Rika.


Noh mengatakan kebanyakan penyewa penjaranya menghabiskan 24 hingga 48 jam dalam sel.
"Setelah tinggal di penjara, mereka mengatakan 'ini bukan penjara, penjara sebenarnya adalah tempat kami akan kembali nanti'," kata Noh.

