Foto: Tobatnya Sang Pemburu Harimau Sumatera

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mawi bersama Tim Smart Patrol Lingkar Inisiatif menyusuri sungai di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Mawi bersama Tim Smart Patrol Lingkar Inisiatif menyusuri sungai di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

Pagi itu, sejumlah pria dengan peralatan lengkap bersiap memasuki belantara Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Mereka adalah anggota tim Smart Patrol dari Lingkar Inisiatif yang akan menyusuri lebatnya hutan mencari jerat kawat yang dipasang pemburu harimau.

Mawi (kiri) bersama Tim Smart Patrol Lingkar Inisiatif menyusuri hutan di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Mawi (kiri) bersama Tim Smart Patrol Lingkar Inisiatif menyusuri hutan di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

Di antara anggota tim itu, nampak seorang pria tanpa mengenakan sepatu atau sendal berjalan dengan santai melewati medan yang terjal. Dia adalah Mawi, seorang mantan pemburu harimau yang sudah tobat. Mawi sekarang membantu tim Smart Patrol melacak perangkap yang dipasang pemburu harimau di TNKS wilayah III Sumatera Selatan-Bengkulu.

Mawi bersama Tim Smart Patrol Lingkar Inisiatif melakukan patroli sapu jerat di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

Pria berusia 74 tahun tersebut telah hafal seluruh medan hutan kawasan TNKS. Bisa dibilang hutan adalah rumah keduanya. Dulu, dia menghabiskan berbulan-bulan hidup di hutan untuk berburu.

Mawi bercerita, ia menjadi pemburu harimau karena terpaksa dan tak ada pilihan lain karena harus menghidupi keluarganya. Anak dan istrinya harus diberikan nafkah sementara ia tak memiliki ladang atau kebun bahkan pekerjaan tetap.

Mawi menjaring ikan disela patroli sapu jerat di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

Kakek dengan 11 cucu itu menjadi pemburu Harimau Sumatra sejak tahun 1974. Dalam berburu, Mawi hanya berbekal satu korek api berbahan bakar minyak lampu serta sebilah pisau kecil. Untuk menjerat raja rimba, Mawi menggunakan seling baja yang dipasang pada jalur lintasan Harimau.

Foto repro jejak Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang ditemukan Tim Smart Patrol Lingkar Inisiatif di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

Mawi mengaku, sudah ratusan harimau yang pernah ditangkapnya. Bila mendapatkan harimau, ia menjualnya kepada pengepul seharga Rp 25 juta. Harga itu cukup murah dibandingkan risiko bertarung nyawa dan hidup berbulan-bulan di dalam hutan.

Tim Smart Patrol Lingkar Inisiatif memasak makanan saat melakukan patroli sapu jerat di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

"Terakhir saya jual 4 tahun lalu (2018). Kalau dulu pertama jual tahun 1974, harganya Rp 25 ribu, kalau sekarang mungkin sudah sampai Rp 80 juta", jelas Mawi.

Namun, kini semua berubah. Mawi telah memilih meninggalkan perbuatan kejinya memburu harimau. Sejak tahun 2019 yang lalu, ia berjanji untuk bertobat dan menghentikan aktivitas berburunya.

"Saya bersumpah atas nama Tuhan dan Nabi tidak akan berburu harimau lagi," kata Mawi.

Mawi bersama Tim Smart Patrol Lingkar Inisiatif memasak makanan saat melakukan patroli sapu jerat di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

Mawi mengubah profesi sebagai petani madu sialang. Pendampingan yang dilakukan oleh Lingkar Inisiatif yang merupakan organisasi yang bergerak di bidang pemerhati kejahatan satwa liar membuat Mawi kini dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Kondisi tersebut kini membuat perekonomian Mawi cukup untuk menghidupi keluarganya. Bahkan, ia berhasil mengajak sembilan orang pemburu lainnya untuk tidak mengulangi perbuatan serupa.

Tim Smart Patrol Lingkar Inisiatif membongkar jerat yang ditemukan di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

"Sudah ada sembilan pemburu yang ikut Kak Mawi menghentikan aktivitas mereka. Karena memang, Mawi ini adalah pemburu yang disegani oleh pemburu lain di Kawasan Musi Rawas (Mura) dan Musi Rawas Utara (Muratara), setelah dilakukan pendekatan mereka juga akhirnya bertobat dan tak lagi berburu Harimau" kata Direktur Lingkar Inisiatif Iswadi

Tak hanya membuat sembilan orang pemburu bertobat, Mawi pun ikut dalam tim Smart Patrol dari Lingkar Inisiatif untuk menjelajahi kawasan hutan TNKS mencari jerat yang telah dipasang para pemburu.

Mawi bersama Tim Smart Patrol Lingkar Inisiatif membongkar jerat yang ditemukan di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

Pendekatan secara persuasif yang dilakukan Lingkar Inisiatif ini mendapat apresiasi dari Kepala Bidang Pengelolaan TNKS Wilayah III Sumatera Selatan-Bengkulu, Zainudin. Ia mengatakan bahwa pendekatan seperti ini merupakan program berat karena harus merangkul para pemburu.

Foto kolase pisau dan korek api yang digunakan Mawi untuk berburu sejak tahun 1978 (kiri) dan kaki Mawi saat melakukan patroli sapu jerat di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

"Datuk Mawi sekarang ini berubah 360 derajat. Itu orang bisa berbulan-bulan tidak pulang, sekarang malah dia siap mendampingi kita patrol berminggu-minggu di dalam hutan dan memberi tahu (lokasi jerat). Bahkan dia siap menjadi yang terdepan kalau ada pelaku baru pemasang jerat baru. Ini sangat luar biasa untuk penyelamatan di TNKS" jelas Iswadi.

Mawi menunjukkan jerat yang ditemukan di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

Populasi Harimau Sumatra diperkirakan tersisa sekitar 400-600 ekor yang tersebar di dalam 23 lanskap di pulau Sumatera. Sedangkan untuk wilayah bidang tiga Balai Besar TNKS, berdasarkan dari temuan tim patroli serta pantauan kamera trap, populasi Harimau Sumatera saat ini diperkirakan tinggal 30 ekor.

Mawi membawa jerat pemburu yang berhasil ditemukan di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

***