kumparan
search-gray
News24 Agustus 2019 11:32

FPI: Ketidakadilan Masih Menjerat Bangsa Indonesia

Konten Redaksi kumparan
Milad ke-21 FPI
Ketua FPI Sobri Lubis di acara Milad ke-21 FPI di Stadion Rawa Badak, Koja, Jakarta Utara, Sabtu (24/8). Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan
Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Sobri Lubis menyebut masih banyak ketidakadilan yang dialami oleh masyarakat Indonesia. Ia pun menyoroti soal peristiwa kerusuhan 21-22 Mei di Gedung Bawaslu.
ADVERTISEMENT
"Sorotan utama kami ketidakadilan yang masih menjerat bangsa Indonesia yang dilakukan rezim saat ini luar biasa. Pertama, kita sampaikan doa kita kepada korban-korban kerusuhan 21-22 Mei. Dari mereka ada ribuan orang luka-luka, beratusan orang dipenjara, puluhan orang meninggal dunia, dan hilang belum ditemukan sampai sekarang," kata Sobri dalam Milad ke-21 FPI di Stadion Rawabadak, Koja, Jakarta Utara, Sabtu (24/8).
Milad ke-21 FPI
Suasana acara Milad ke-21 FPI di Stadion Rawa Badak, Koja, Jakarta Utara, Sabtu (24/8). Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan
Pada kesempatan itu pula, Sobri juga meminta kepada seluruh anggota FPI untuk saling bahu membahu membantu sesama. Khususnya, mereka yang mengalami ketidakadilan.
"Melalui mimbar ini saya mengingatkan kepada seluruh insan yang masih memiliki nurani keadilan, bantulah mereka, saling bahu membahu, apapun yang bisa kita lakukan. Ratusan orang masih dalam penjara, keluarganya masih memerlukan bantuan dari kita semua. Jangan lupakan mereka," tegasnya.
ADVERTISEMENT
"Kita doakan mereka (agar) Allah berikan kemudahan, tetap istikamah dalam berjuang di sisi Allah SWT, dan hasilnya perjuangan kita akan rasakan di Indonesia dan untuk anak dan cucu kita ke depannya," imbuhnya.
Milad ke-21 FPI
Suasana acara Milad ke-21 FPI di Stadion Rawa Badak, Koja, Jakarta Utara, Sabtu (24/8). Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan
Lebih lanjut, Sobri juga menegaskan pihaknya menolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) yang tengah digodok DPR. Menurutnya, ada upaya memasukkan paham feminisme barat dalam RUU itu, yang bertentangan dengan syariat Islam.
“Paham feminisme barat yang mengupayakan kesetaraan gender yang destruktif karena memposisikan hubungan antara pria dan wanita seperti hubungan musuh yang selalu siap bertempur satu sama lain. Sedangkan Islam mengajarkan kepada kita konsep keserasian gender, yakni hubungan proposional antara pria dan wanita. Hubungan saling mengisi dan melengkapi yang masing-masing hak dan kewajibannya telah diatur dalam syariat Islam,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white