Gaza Selatan Digempur Israel, Saksi Mata: Ini Bukan Hanya Bencana, tapi Kiamat

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Asap mengepul di atas bangunan yang hancur di Gaza, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok Islam Palestina Hamas, terlihat dari Israel selatan, Rabu (6/12/2023). Foto: Athit Perawongmetha/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Asap mengepul di atas bangunan yang hancur di Gaza, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok Islam Palestina Hamas, terlihat dari Israel selatan, Rabu (6/12/2023). Foto: Athit Perawongmetha/REUTERS

Pasukan Israel pada Minggu (10/12) melanjutkan gempuran brutalnya di Jalur Gaza bagian selatan. Pada saat bersamaan, ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi di kamp-kamp penuh sesak terjebak tanpa memiliki tempat aman untuk dikunjungi.

Warga Kota Khan Yunis dan daerah di dekat perbatasan Mesir, Rafah, kini menghadapi ancaman kemanusiaan serius seolah dilanda kiamat — mereka di ambang wabah penyakit dan kelaparan.

Wartawan AFP di lokasi kejadian melaporkan, serangan Israel telah menggempur Gaza bagian selatan sejak pagi. Para korban luka pun menuju Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis yang beroperasi di luar kapasitas, banyak di antaranya tergeletak di lantai menunggu giliran diperiksa oleh staf medis.

Selain korban luka, pihak berwenang melaporkan sebanyak 62 mayat telah berdatangan ke RS Nasser. "Situasi ini bukan hanya bencana, ini adalah kiamat," kata seorang relawan dari Oxfam, Bushra Khalidi.

Di sisi lain, Hamas dalam pernyataannya pun mengkonfirmasi bahwa Gaza bagian selatan di bawah gempuran. "Israel telah meluncurkan serangkaian serangan yang sangat kejam, yang menargetkan Kota Khan Yunis di selatan dan jalan dari sana ke Rafah," kata Hamas.

Sejak Amerika Serikat pada Jumat (8/12) memveto desakan Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan gencatan senjata di Jalur Gaza atas alasan kemanusiaan, Israel kembali melanjutkan gempurannya. Kali ini lebih brutal.

Keluarga pengungsi dari Khan Younis mendirikan tenda pengungsian di wilayah Rafah yang berbatasan Gaza dengan Mesir. Foto: MOHAMMED ABED / AFP

Jika di awal pertempuran Israel pada awal Oktober lalu menargetkan serangan ke Gaza bagian utara dan mendesak warga di sana pergi ke bagian selatan — maka sekarang warga di Gaza selatan didesak pergi lagi, tetapi lokasi tujuannya semakin minim.

"Mereka sekarang didorong semakin jauh ke selatan ke daerah-daerah kecil yang penuh sesak tanpa air, makanan, atau perlindungan, sehingga menempatkan mereka pada peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan dan penyakit yang ditularkan melalui air," kata relawan dari UNICEF, Adele Khodr.

"Pembatasan dan tantangan yang ditempatkan pada pengiriman bantuan yang menyelamatkan jiwa ke dan melintasi Jalur Gaza adalah hukuman mati lainnya bagi anak-anak," tambahnya.

UNICEF pada Sabtu (9/12) melaporkan, hampir satu juta anak-anak telah menjadi pengungsi secara paksa akibat pertempuran mematikan ini. Sementara 1,9 juta dari total 2,4 juta penduduk Gaza pun menjadi pengungsi.

Terlepas dari situasi yang menyerupai kiamat ini, Israel tetap kekeuh dengan kampanye militernya. Kepala militer Israel Herzi Halevi mendesak pasukan mereka untuk bertindak 'lebih gencar lagi'.

"Kami melihat semakin banyak pasukan mereka yang terbunuh, semakin banyak pasukan yang terluka, dan dalam beberapa hari terakhir ini kami melihat mereka menyerah — ini merupakan tanda bahwa jaringan mereka berantakan," klaim Halevi.

kumparan post embed