Gedung Putih: Iran Pasok Ratusan Drone Tempur ke Rusia untuk Serang Ukraina
·waktu baca 4 menit

Gedung Putih menuding Rusia telah memperdalam kerja sama di bidang pertahanan dengan Iran dan memanfaatkannya dalam pertempuran di Ukraina.
Negara sekutu Moskow itu dilaporkan telah mengirimkan ratusan drone tempur satu arah yang digunakan untuk menyerang Ukraina.
Dikutip dari Reuters, tudingan tersebut disampaikan oleh juru bicara Gedung Putih John Kirby pada Jumat (9/6). Pihaknya mengaku telah menerima informasi intelijen terbaru yang mengatakan bahwa done-drone ini (Uncrewed Aerial Vehicle/UAV) telah diproduksi di Iran.
Lalu, ratusan drone itu dikirim ke Rusia melalui Laut Kaspia dan kemudian digunakan oleh pasukan Rusia di medan perang Ukraina.
Kirby tidak merinci secara pasti berapa unit drone yang telah dipasok, tetapi menegaskan hubungan pertahanan yang lebih intens antara Moskow dan Teheran.
“Rusia telah menggunakan UAV Iran dalam beberapa minggu terakhir untuk menyerang Kiev dan meneror penduduk Ukraina, dan kemitraan militer Rusia-Iran tampaknya semakin mendalam,” ujar Kirby.
Meski demikian, sambung Kirby, pengiriman drone tersebut tidak hanya dari Iran. Kedua negara musuh Barat ini diketahui juga sedang bekerja sama untuk memproduksi UAV Teheran dari dalam teritorial Moskow.
Kirby mengatakan, Amerika Serikat memperoleh informasi bahwa Rusia menerima material dari Iran yang diperlukan untuk membangun fasilitas pembuatan drone. Fasilitas ini diperkirakan dapat mulai beroperasi penuh pada awal 2024.
“Kami merilis citra satelit dari lokasi yang dirancang untuk pabrik pembuatan UAV ini di Zona Ekonomi Khusus Alabuga, Rusia,” terang dia.
Adapun ZEE Alabuga adalah sebuah kota berpopulasi tak lebih dari 100 ribu orang yang terletak di area Republik Tatarstan, sekitar 200 km dari Kota Kazan yang didominasi oleh penduduk muslim.
Kerja Sama Saling Menguntungkan
Tak hanya itu, menurut Kirby dukungan antara Iran dan Rusia bersifat dua arah dan saling menguntungkan.
Pada gilirannya, Teheran juga mengincar peralatan militer senilai miliaran dolar dari Rusia — termasuk helikopter dan radar. “Rusia telah menawarkan kerja sama pertahanan yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada Iran, termasuk dalam hal rudal, persenjataan elektronik, dan pertahanan udara,” jelas Kirby.
Dia menyoroti komponen-komponen utama yang diincar Iran untuk pengembangan pembuatan drone-nya, termasuk komponen elektronik seperti prosesor dan pengontrol.
Menggarisbawahi bahaya dari kerja sama yang lebih erat antara Rusia dan Ukraina bagi kawasan regional, Kirby mengatakan pihaknya pun berkomitmen untuk menelusuri lebih lanjut temuan-temuan baru dan mempublikasikannya.
“Ini adalah kemitraan pertahanan skala penuh yang berbahaya bagi Ukraina, negara-negara tetangga Iran, dan komunitas internasional. Kami terus menggunakan semua instrumen yang kami miliki untuk mengungkap dan menghentikan aktivitas ini, termasuk dengan memberikan informasi tersebut kepada publik — dan kami siap untuk melakukan lebih banyak lagi,” tegas Kirby.
Terkait imbauan terbaru dari AS ini, kata Kirby, bertujuan untuk menyadarkan para pelaku bisnis dan pemerintah lain agar lebih memahami risiko yang ditimbulkan oleh program UAV Iran dan praktik-praktik terlarang yang dilakukan Iran dalam pengadaan komponen-komponennya.
Sebab, Kirby mengatakan pengiriman drone tersebut merupakan pelanggaran terhadap peraturan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Blok Barat seperti Prancis, Jerman, AS, dan Ukraina menilai pasukan drone buatan Iran ke Rusia telah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB (UN Security Council/UNSC) pada 2015 yang mengukuhkan kesepakatan nuklir Iran.
Di bawah resolusi UNSC itu, embargo senjata konvensional terhadap Iran berlaku hingga Oktober 2020. Namun, Kiev dan blok Baratnya berpendapat bahwa resolusi tersebut mencakup batasan pembelian rudal, peralatan terkait, ekspor serta pembelian sistem militer canggih seperti drone hingga 2023.
Di sisi lain, Washington sebelumnya telah menjatuhkan sanksi bertubi-tubi kepada para petinggi Iran di industri pertahanan terkait pasokan drone ke Rusia. Dengan adanya laporan terbaru yang diterima Gedung Putih, besar kemungkinan Washington akan menjatuhkan lebih banyak sanksi terhadap Teheran.
“Kami akan terus menjatuhkan sanksi kepada para aktor yang terlibat dalam pengiriman peralatan militer Iran ke Rusia untuk digunakan di Ukraina,” kata Kirby.
Sebelumnya pula, Teheran mengaku memang telah mengirimkan drone ke Rusia — tetapi drone tersebut dikatakan telah dikirim jauh sebelum Rusia memulai operasi militer khususnya di Ukraina.
Namun, seorang petinggi Gedung Putih mengatakan Iran masih memasok ratusan drone ke Rusia bahkan sejak Agustus 2022, beberapa bulan setelah invasi terjadi.
Sementara itu, Moskow membantah tuduhan bahwa pasukannya menggunakan drone Iran dalam pertempuran. Terkait klaim terbaru Gedung Putih ini, Duta Besar Iran dan Rusia untuk PBB belum memberikan komentar lebih lanjut.
