Gejayan Memanggil Gelar 'Lomba Mural Dibungkam', Ini Kriterianya
ยทwaktu baca 3 menit

Mural saat ini menjadi salah satu media masyarakat untuk menyampaikan kegelisahannya. Namun belakangan, mural-mural itu justru dihapus oleh petugas.
Menyikapi hal ini, Gejayan Memanggil mengajak seniman mural di Indonesia untuk mengikuti lomba. Gejayan Memanggil adalah wadah sejumlah mahasiswa di Yogyakarta menyikapi kondisi sosial politik terkini.
Bertajuk 'Lomba Mural Dibungkam' lomba ini mempunyai kriteria penilaian yang unik. Mural yang lebih dulu dihapus petugas mendapat nilai yang tinggi. Lomba pun berlangsung selama satu minggu ini.
Humas Gejayan Memanggil dengan nama samaran Mimin Muralis saat dikonfirmasi wartawan, menjelaskan konsep lomba ini ialah menggambar adalah kebudayaan setiap anak. Sementara pemberangusan adalah kekeliruan yang dilakukan penguasa atau orang dewasa.
"Corat-coretan di tembok adalah cara-cara ketika kebebasan bersuara terbatas dan sekarang coretan itu pun dibatasi," jelas Mimin dikonfirmasi.
Berkilas ke belakang, Mimin menjelaskan bahwa mural dengan muatan kritis sudah ada di zaman kolonial. Fungsinya untuk memacu semangat kemerdekaan.
Sementara, di kondisi kekinian, tak bisa dipungkiri banyak generasi muda yang tidak sependapat dengan kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi corona. Di Eropa sana, mural jadi sarana penyalur demokrasi.
"Di Indonesia sebaliknya. Mural dianggap kriminal sementara baliho sampah visual dianggap representasi suara rakyat," jelasnya.
"Padahal itu (baliho) suara oligarki yang punya uang untuk menyewa papan reklame dan memprinting spanduk banner dan sebagainya yang merusak pemandangan kita secara estetik dan politik," ujarnya.
Para seniman yang hendak berpartisipasi dapat mengunggah karya di Instagram. Karya tersebut juga harus menandai akun @gejayanmemanggil. Selanjutnya dapat melakukan konfirmasi melalui direct message dengan kode 'Lomba Dibungkam'.
Setidaknya, ada sejumlah kriteria dalam lomba kali ini. Di antaranya, keberanian konten, gambaran semangat perlawanan; diapresiasi rakyat, tidak mengandung unsur SARA, serta karya yang cepat dihapus petugas menjadi nilai lebih.
Peserta juga bisa segera melapor ke akun Gejayan Memanggil jika karyanya telah dihapus petugas. Nilai lebih dari juri itu akan menentukan karya mana yang jadi pemenang.
"Dengan adanya penghapusan mural tersebut bagi kami itu nilai penting karena mungkin muatannya sangat bermakna untuk rakyat hingga perlu disensor oleh negara," ucapnya.
Dijelaskannya, bahwa peserta juga harus paham konsekuensi ketika mengikuti lomba ini. Namun pihaknya juga tetap akan memberikan bantuan seperti menghubungkan ke jaringan advokasi.
"Tetapi konteks kami serahkan kepada peserta lomba untuk bertanggung jawab atas kehendaknya untuk membuat mural dan tentunya mengikuti perlombaan ini," bebernya.
Hadiah dalam lomba ini seperti eksposur dari akun Gejayan Memanggil. Kemudian ada pula merchandise, karya juara juga akan dipasarkan melalui desain baju maupun papeart.
"Kami bukan akun buzzer dan nggak punya uang jadinya kami hadiahi eksposure bagi pemenang. Bisa dijadikan desain baju atau paperart yang bisa dipesan. Keuntungan sebagian untuk pemenang dan sebagian untuk gerakan-gerakan rakyat bantu rakyat," ujarnya.
