GeNose Tidak Masuk Syarat Perjalanan PPKM Darurat, Pembuat Angkat Bicara
·waktu baca 2 menit

Alat skrining corona buatan UGM, yaitu GeNose, tidak masuk sebagai syarat bagi pelaku perjalanan rute domestik saat PPKM Darurat Jawa-Bali pada 3-20 Juli 2021.
Dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2021 tentang PPKM Darurat, dijelaskan bahwa pelaku perjalanan harus menunjukkan vaksin minimal vaksinasi dosis pertama serta hasil PCR 2x24 jam atau tes antigen yang berlaku maksimal 1x24 jam.
Terkait hal ini, tim pembuat GeNose C-19 pun angkat bicara. Mereka menyebut GeNose masih digunakan di fasilitas publik. GeNose tidak ditarik izin edarnya.
"Banyak berita negatif dan bahkan cenderung tidak benar soal GeNose yang harus diluruskan kepada publik," tutur juru bicara Tim GeNose, M. Saifudin Hakim, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/7).
Hakim menjelaskan kekeliruan informasi di masyarakat itu merupakan merupakan kesimpulan sepihak atas kebijakan PPKM Darurat 3-20 Juli 2021 yang tidak memasukkan GeNose sebagai syarat melakukan perjalanan selama PPKM Darurat.
Izin edar GeNose C19 juga masih berlaku sehingga tidak ada alasan untuk melakukan pelarangan penggunaan GeNose C19 di masyarakat.
-Jubir Tim GeNose
Menambah Data Varian Baru
Hakim menuturkan, saat GeNose libur di sektor transportasi seperti ini, peneliti memanfaatkan waktu tersebut untuk menambah data varian baru virus COVID-19 ke kecerdasannya.
Uji Validasi Eksternal juga masih dijalankan oleh GeNose. Hal ini membantu hidung elektronik mengendus lebih akurat terduga virus COVID-19 saat penggunaan riil di lapangan.
"Akurasi GeNose sampai saat ini masih di angka 93-94 persen dan akan terus kita tingkatkan," kata Hakim.
Hakim menuturkan, artificial intelligence (AI) dan akurasi GeNose akan semakin kuat dengan penambahan data varian. Dengan semakin sering digunakan pada situasi nyata, alat ini akan semakin cerdas.
"GeNose C19 ini ibarat hidung sekaligus otak elektronik. Jika keduanya dilatih terus secara serempak, kita akan memiliki teknologi inovatif yang praktis, simpel, dan tepat," kata Hakim.
GeNose sebagai alat skrining corona hingga saat ini masih digunakan di berbagai tempat dan kegiatan mulai dari perkantoran, kampus, pondok pesantren, dan korporasi.
"Operator GeNose C19 ini tidak akan rugi memiliki GeNose C19. Ke depannya, GeNose C19 bisa kita kembangkan untuk mendeteksi penyakit-penyakit terkait pernapasan lainnya, tidak hanya COVID-19. Hanya dengan mengganti ‘otak’-nya itu tadi," ujar Hakim.
Masyarakat disebut tak perlu ragu dengan kemampuan GeNose dalam mendeteksi COVID-19. Data mencerminkan tingkat persentase positif sebanyak 9 persen (positivity rate) pada populasi calon pejalan yang tanpa gejala atau merasa sehat. Angka tersebut mendekati rata-rata tingkat positif nasional setinggi 14 persen.
"Data kami menunjukkan bahwa GeNose C19 mampu mendeteksi terduga pengguna positif COVID-19 pada koridor perjalanan," tegas Hakim.
