Gerbong Wanita Bukan Tempat yang Tepat untuk Bersosialisasi

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Suasana di KRL gerbong wanita (Foto: Deanda Dewindaru/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di KRL gerbong wanita (Foto: Deanda Dewindaru/kumparan)

Menunduk. Hampir semua perempuan menunduk di gerbong khusus wanita saat kereta melaju. Sebagian penumpang menunduk sambil menatap layar ponsel sambil menahan guncangan kereta ke kanan dan ke kiri. Sebagian lagi mereka menunduk karena rasa letih setelah sehari beraktivitas. Hanya suara operator KRL yang mengisi relung kesunyian di lautan para perempuan.

Bayangkan jika semua perempuan saling berchit-chat di dalam satu gerbong. Bagaikan pasar pagi yang tumpah ruah di dalam gerbong yang sempit. Rasanya kepala ingin pecah karena keramaian yang luar biasa.

Sebab musabab itu, mereka hanya bermain selular atau tidur ayam --tidak terlalu lelap, terkadang mendengar suara senyap-senyap-- untuk menghabiskan waktu. Begitu pun seorang KRL mania, Amalia. Karyawati ini lebih memilih bermain ponsel sembari mendengarkan musik ketika di atas kereta.

Perempuan berumur 22 tahun ini mengatakan, dia hampir tidak pernah berbincang dengan penumpang lain. Alasannya karena tidak kenal dengan lainnya. Dengan demikian, bermain ponsel merupakan hiburan baginya. Tidak ada aktivitas lainnya ketika dia menuju dari Bekasi sampai Sudirman dan begitu pula sebaliknya.

Suasana KRL di gerbong wanita saat padat (Foto: Deanda Dewindaru/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana KRL di gerbong wanita saat padat (Foto: Deanda Dewindaru/kumparan)

Suara lain datang dari penumpang KRL lainnya, Astuti. Dia pernah berbincang dengan penumpang lainnya namun hanya berkaitan dunia KRL.

"Misal kereta lama ditahan gitu, ya rumpi. Lama ya nih ditahannya...atau ada kereta goyangnya parah banget, ya rumpi kondisi di kereta aja sih, " ujar Astuti melalui whatsApp, Selasa (17/5).

Suasana hati pun terkadang mempengaruhi penumpang setia Bekasi-Tanah Abang ini, apakah akan bersosialisasi atau tidak. Tentulah hal ini sangat wajar mengingat bahwa manusia bisa menangis tersedu-sedu dan tertawa terbahak-bahak.

Kejenuhan tentu terkadang melanda Astuti saat dalam perjalanan. Bermain ponsel bukanlah suatu solusi demi membunuh waktu. Cara yang kerap dilakukan Astuti: tidur.

"Berdiri juga tidur. Udah level atas gue jadi anker (anak kereta)," kata Astuti.

Namun untuk hal berbincang saat dempet-dempetan bak ikan pepes, Astuti mengatakan: berisik bin mengganggu! Terlebih jika mereka berbicara dengan suara lantang bagai komandan upacara bendera, bikin gengges.

"Ibaratnya, napas aja udah berebutan udara. Ini lagi berisik, makin tidak nyaman aja," kata Astuti.

Lain hal dengan Amalia, dia justru malah senang karena rasa KEPO (Knows Everything Particular Object) yang tinggi dengan perbincangan orang.

Suasana di KRL gerbong wanita (Foto: Deanda Dewindaru/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di KRL gerbong wanita (Foto: Deanda Dewindaru/kumparan)

Gerbong perempuan saat penuh terlihat bukan tempat yang tepat untuk menyambung silaturahmi. Namun coba tengok gerbong wanita saat tidak ramai. Pengalaman yang pernah saya dapat membuat berpikir bahwa kepadatan di dalam ruang sempit membuat emosi penumpang menjadi negatif.

Saat gerbong wanita tidak ramai, saya sempat berbincang dengan seorang Ibu. Kami pun sampai sekarang sempat bertukar pesan instan melalui whatsApp. Silaturahmi yang awalnya dari gerbong wanita hingga kini terus berlangsung. Tak selamanya gerbong wanita horor bagi penumpangnya, tergantung apakah penuh atau tidak.

Baca juga: Pada Soeharto, Habibie Bertanya Soal Dendam