Gubernur Lemhannas: RI Diprediksi Bergejolak di 2050, Pangan Terus Memburuk

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Lemhannas RI, Andi Widjajanto mengunjungi kumparan, Kamis (14/4/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Lemhannas RI, Andi Widjajanto mengunjungi kumparan, Kamis (14/4/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Gubernur Lemhannas Andi Widjajanto mengingatkan semua pihak termasuk menteri di jajaran pemerintahan soal potensi kerusakan lingkungan RI. Ia mengatakan, kerusakan lingkungan ini akan berdampak ke sejumlah sektor, termasuk pangan.

Hal ini disampaikan Andi saat menjadi pembicara dalam Focus Group Discussion rangkaian Rakernas NasDem bertema ‘Perkembangan Ekonomi Pangan dan Geopolitik’

“Ini data yang kami dapatkan menjelang sampai 2050 kita diramalkan gejolak karena kita tidak bisa mengendalikan lingkungan. Kita proyeksi perubahan hasil pangan akan terus menerus memburuk sampai tahun 2050,” kata Andi di NasDem Tower, Jakarta, Rabu (8/6).

“Jawabnya kalau di Kementan atau KemenLHK, dua kata itu green policy, green paradigm, itu yang harus dilakukan,” tegas Andi.

Lebih lanjut, Andi menyebut harus ada paradigma kesehatan samudera dan kesehatan laut. Sebab, idealnya berdasarkan peta geolitik, Indonesia seharusnya dipetakan dengan warna biru seperti Selandia Baru, negara-negara Pasifik selatan, China, dan Argentina. Sementara Indonesia warnanya kuning, yang menunjukkan kondisinya masih kurang baik.

kumparan post embed

“Dari protein laut Indonesia merah, artinya sebagian besar ikan yang kita makan di dalamnya ada kandungan polutan,” ungkap Andi.

Khusus kepada NasDem, Andi berpesan agar segera mengusung paradigm blue economy atau ekonomi biru. Menurut dia, ini cocok dengan logo NasDem yang juga berwarna biru.

“Jadi cocok dengan warna biru NasDem. Jadi tolong benar-benar NasDem sebagai partai biru bisa segera mengusung paradigma ekonomi biru, blue paradigm dengan tujuan kesehatan samudera. Kalau ini dilakukan, Indonesia berpotensi menjadi negara ketiga atau keempat dunia dari penyedia protein biru,” ujar Andi.

“Nomor satu Norwegia, kedua AS di Alaska, ketiga gabungan China-Taiwan-Filipina di laut Filipina Barat, nomor empat Indonesia,” pungkas Inisiator Lab 45 ini.

Dalam kesempatan itu, hadir pula Mendag M Luthfi, Mentan Syahrul Yasin Limpo, Ketua Kadin Arsjad Rasjid, dan pejabat-pejabat lainnya. FGD dimoderatori Wakil Ketua Komisi VI DPR F-NasDem Martin Manurung.