Gus Yahya Jadi Pembicara Peringatan Serangan WTC, Ajak Tatanan Dunia Diperkuat

11 September 2021 6:17 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Yahya Cholil Staquf. Foto: Wahyu Putro A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Yahya Cholil Staquf. Foto: Wahyu Putro A/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya kembali dipercaya menjadi pembicara pada pertemuan tingkat internasional yang membahas pentingnya perdamaian global, Kamis (9/9).
ADVERTISEMENT
Gus Yahya diundang secara khusus oleh Regent University, Virginia, Amerika Serikat (AS) untuk menjadi narasumber peringatan 20 tahun Serangan Gedung World Trade Center (WTC) New York 11 September 2001.
Pembicara lain pada acara yang disiarkan secara internasional ini antara lain; mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Pat Robertson, pendiri Regent University, tokoh-tokoh dari kalangan diplomatik, ahli dan pemegang wewenang militer, keamanan dan hukum, serta intelektual AS.
Tragedi WTC 9/11. Foto: REUTERS/Sara K. Schwittek
Dalam paparannya, Gus Yahya, menekankan pentingnya pengelolaan tatanan dunia yang semakin kuat dan tangguh pasca-Tragedi WTC 9/11. Di antaranya, dengan menjaga keutuhan negara-bangsa yang ditopang lewat tradisi keagamaan dan budaya lokal yang kokoh dari serangan ideologi-ideologi transnasional.
Ideologi itu bisa didasarkan pada identitas agama, etnik atau ras, maupun gagasan-gagasan sekuler.
ADVERTISEMENT
“Ini krusial sekali karena senyawa antara negara-bangsa, tradisi keagamaan dan budaya lokal adalah satu-satunya struktur dasar yang tersedia dalam tata dunia saat ini untuk mengelola proses negosiasi global menuju peradaban yang harmonis,” kata Gus Yahya yang memberikan paparannya melalui rekaman video, dikutip dari keterangan resminya, Sabtu (11/9).
Tragedi WTC 9/11. Foto: REUTERS/Brad Rickerby
Melalui kecermatan dalam pola adaptasi terhadap globalisasi tersebut, maka tatanan dunia diyakini Gus Yahya akan semakin membaik. Namun sebaliknya, jika negosiasi ini gagal, maka ketegangan-ketegangan baru bisa saja tak terhindarkan.
"Negara, bangsa adalah pondasi tata dunia pasca-Perang Dunia Kedua yang menopang stabilitas dan keamanan global saat ini,” jelasnya.
Pada kesempatan itu, Gus Yahya juga menjelaskan potensi besar yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU) dengan tradisi keagamaan lokalnya yang kokoh serta bangsa Indonesia dengan visi “Bhinneka Tunggal Ika” dalam rangka membangun peradaban umat manusia.
ADVERTISEMENT
Melalui tradisi keagamaan lokal dan visi bangsa itu, Gus Yahya menilai proses perwujudan konsensus menuju peradaban global yang harmonis bukanlah impian.
Acara peringatan Serangan WTC yang digelar Regent University dipandu langsung Michele Bachmann, dekan pada The Robertson School of Government di kampus tersebut.
Pada kesempatan itu, Michele Bachmann menyampaikan kekagumannya dan memberikan apresiasi atas pidato Gus Yahya. Bahkan Bachmann menyebut “Pak Yahya sebagai suara muslim terdepan dalam menghadapi ekstremisme."