Hacker: Pahlawan Perang Hingga Jadi Kejahatan

Hack berasal dari bahasa Inggris kuno, haccian, yang berarati 'dipotong-potong'. Istilah ini juga ada dalam bahasa Belanda, hakken, atau dalam bahasa Jerman, hacken.
Istilah hack atau dalam bahasa Indonesia, retas, menjadi lekat dengan teknologi komputer dan sistem elektronik bermula pada 1960-an.
Terminologi peretas ini muncul di antara anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of Technology (MIT). Mereka 'meretas' jalan baru sehingga meningkatkan performa kerja kereta api.
Istilah peretas ini kemudian diadaptasi oleh para mahasiswa MIT jurusan Ilmu Komputer dan ditujukan kepada mereka yang sangat ahli dalam pemrograman.
Peretas, di tahun 1960-an, memiliki konotasi positif karena merujuk pada mereka yang dianggap melampaui batas kemampuan ahli sistem komputer hingga menemukan sistem jaringan ARPANET. Kini, sistem jaringan tersebut telah berevolusi menjadi internet.
Peretasan dinilai menjadi sebuah seni untuk menemukan solusi baru yang unik. Untuk itu dibutuhkan rasa ingin tahu yang luar biasa tentang bagaimana sesuatu bekerja. Para peretas ini menginginkan teknologi mampu bekerja lebih baik atau berbeda. Tindakan peretasan bukan soal baik atau buruk, tapi cerdas.

Contoh yang paling kita kenal adalah kisah Alan Turing dalam memecahkan kode mesin Enigma, yang kemudian diangkat menjadi film berjudul The Imitation Game.
Enigma merupakan mesin penyandi yang digunakan untuk mengekripsikan dan mendeskripsikan pesan rahasia. Mesin buatan Jerman ini digunakan sebelum dan selama Perang Dunia II untuk melindungi pesan-pesan rahasia baik dalam hal diplomasi ataupun kemiliteran.
Pada 1939, Alan Turing berhasil memecahkan sistem sandi enigma yang membuatnya bisa segera mengetahui pesan rahasia militer Jerman. Berkat Turing, militer Inggris bisa mengetahui sebagian pergerakan tentara Jerman di tengah kecamuk Perang Dunia II.
Namun saat itu Turing dan kawan-kawan belum mengenal sebutan hacker atau peretas. Mereka adalah pahlawan yang membantu Inggris dan sekutunya memenangkan Perang Dunia II.

Tindakan peretasan dalam sejarahnya juga terjadi karena keisengan berpadu kecerdasan luar biasa.
Pada 1957, Josef Carl Engressia yang buta dan baru berusia 7 tahun menemukan bahwa suara siulan bernada tinggi sekitar 2.600 hertz bisa membuka akses sistem jarak jauh switching AT&T, sebuah perusahaan telekomunikasi.
Baru kemudian pada 1971, Josef Carl --yang kemudian disebut Joybubbles-- bersama temannya John T. Drapper atau Cap'n Crunch mengeksplorasi cara kerja telepon. Mereka menemukan bahwa suara siulan melalui kotak sereal merupakan nada yang tepat. Mereka pun membuat sistem blue box yang membuat mereka bisa bebas melakukan panggilan internasional secara gratis.
Penemuan blue box ini disebut menjadi inspirasi bagi Steve Jobs dan Steve Wozniak membangun sistem serupa dan menjualnya, yang menjadi cikal bakal produk Apple di kemudian hari.
Tahun 1980-an komputer masuk ke rumah-rumah, jaringan telepon ada di mana-mana, meskipun website belum begitu dikenal namun komputer bisa terkoneksi melalui ARPANET.
Inilah masa-masa kejayaan peretasan dimulai. Tujuan para peretas semakin beragam, bukan lagi sekadar rasa ingin tahu yang besar atau keisengan yang luar biasa. Beberapa hanya masuk ke jaringan komputer perusahaan, beberapa lainnya bisa mengakses mesin cetak di rumah sakit dari jarak jauh.
Tindakan peretasan yang mendapat perhatian hukum pertama kali adalah kelompok remaja di Washington mampu menembus sistem komputer militer Amerika Serikat. Selain itu FBI juga menangkap 6 orang remaja Milwaukee yang saat itu bisa masuk ke dalam Laboratorium Nasional Los Alamos, tempat penelitian senjata nuklir. Tindakan tersebut dinilai bisa memicu terjadinya perang nuklir.

Pada 1986, Kongres Amerika Serikat meloloskan aturan Computer Fraud and Abuse Act yang menyatakan bahwa peretasan terhadap sistem komputer adalah suatu kejahatan.
Dampak dari tindakan peretasan semakin menjadi pada 1988. Seorang mahasiswa Cornell University yang penasaran akan sistem jaringan membuat virus yang mampu berkembang biak dengan cepat hingga membuat ARPANET bermasalah. Tahun berikutnya seorang peretas asal Jerman yang bekerja untuk Komite Rusia mampu menyadap Gedung Pentagon.
Di tahun 1990, Kevin Poulsen meretas sistem telepon radio untuk bisa memenangkan hadiah mobil Porsche.
Tindakan peretasan memiliki motif yang semakin berkembang. Vladimir Levin, matematikawan asal Rusia, melakukan peretasan terhadap sistem Citibank pada 1990-an dan mencuri uang sekita 10 juta dolar AS. Sementara Tim Lyod membobol sistem Omega Engineering untuk balas dendam setelah dirinya dipecat.
Kini di era serba internet, di mana hampir semua data dan informasi berada dalam suatu sistem elektronik, bahaya peretasan makin berdampak. Ketika harga saham, transaksi keuangan, dan banyak hal melalui komputer, etos dalam peretasan pun berubah.
Jika dulu mereka melakukan peretasan untuk memperbaiki suatu sistem, kini peretasan dilakukan untuk mencuri uang atau memperoleh data untuk kemudian dijual.
Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup
