Haedar Dorong Dedi Mulyadi Dialog dengan Mendikdasmen soal Pendidikan Barak

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir. Foto: Istimewa

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, merespons program Pemprov Jabar yang mengirim siswa 'nakal' ke barak militer. Terkait program itu, ia menyarankan agar Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berkoordinasi dengan Mendikdasmen Abdul Mu'ti.

"Kalau boleh saya sarankan Pak Gubernur berdialog dengan Kemendikdasmen," ujar Haedar di Yogyakarta, Minggu (25/5).

Haedar mengatakan, koordinasi itu perlu dilakukan agar program yang tengah dijalankan Pemprov Jabar tersebut masih sejalan dengan sistem pendidikan nasional.

"Supaya apa yang dilakukan itu dalam koridor sistem pendidikan nasional, dan hasilnya baik," kata Haedar.

"Kita menghargai semangatnya untuk menanamkan disiplin di Jawa Barat. Dan itu penting. Tapi, soal model itu kan kalau pendidikan perlu kajian lintas aspek," tambah dia.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin (19/5/2025). Foto: Jonathan Devin/kumparan

Program siswa dididik ke barak militer ini sebelumnya menuai banyak kritik. Bahkan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan sejumlah masalah di dalamnya.

Komisioner KPAI, Jasra Putra, mengungkapkan dari pengawasan pihaknya belum terdapat standar baku dalam penyelenggaraan program seperti belum ada panduan, petunjuk teknis, standar operasional prosedur.

"Dan perbedaan tersebut mencakup struktur program, ketersediaan sarana prasarana, rasio antara peserta dan pembina serta metode pengajaran mata pelajaran sekolah yang tidak seragam meskipun berasal dari jenjang kelas dan jurusan yang berbeda," kata Jasra dalam konferensi pers hasil pengawasan KPAI terkait pelaksanaan program pendidikan karakter Pancawaluya yang digelar secara virtual, Jumat (16/5).

"Kondisi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi mutu hasil dari program secara keseluruhan," sambungnya.

Dia juga mengatakan latar belakang siswa yang mengikuti program di dua barak militer di Lembang dan Purwakarta faktor penyebab utamanya adalah kebiasaan merokok, disusul perilaku sering membolos dan keterlibatan dalam tawuran.

"Selain itu sebanyak 6,7% siswa menyatakan tidak mengetahui alasan mereka mengikuti program. Temuan ini menunjukkan perlunya peninjauan kembali terhadap ketepatan sasaran peserta dalam pelaksanaan program," kata dia.