Haedar: Kiprah Muhammadiyah di Kesehatan Mendunia Usai EMT Terverifikasi WHO
·waktu baca 2 menit

Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah menjadi yang pertama di Indonesia terverifikasi secara internasional oleh World Health Organization (WHO).
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan dengan verifikasi ini diharapkan kiprah Muhammadiyah di bidang kesehatan bisa makin mendunia.
“Semoga dengan EMT tersebut, kiprah Muhammadiyah dalam program kesehatan dan kemanusiaan maupun kerja sama dengan WHO serta lembaga dunia lainnya di level global semakin baik dan meluas,” kata Haedar dalam keterangan yang diterima kumparan, Senin (20/10).
Pelayanan Muhammadiyah di bidang kesehatan, ketangguhan bencana, dan program kemanusiaan di tingkat nasional maupun internasional terus mengalami akselerasi.
Haedar mengatakan Muhammadiyah adalah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang lahir dari spirit ajaran Al-Ma’un yang bersifat inklusif.
“Jadi bukan program sporadis dan pelayanan karitatif jangka pendek semata. Karenanya sangat tepat jika memperoleh verifikasi EMT di tingkat global,” ujarnya.
“Muhammadiyah dengan gerakan sosial kemanusiaan tersebut memperoleh penguatan melalui program internasionalisasi sehingga menjadi simultan,” jelasnya.
Dengan EMT, Muhammadiyah makin kokoh perannya sebagai gerakan Islam berkemajuan untuk semua.
“Itulah wujud dakwah Islam rahmatan lil-’alamin di dunia nyata, bukan retorika dan kata-kata,” ujar Haedar.
Sebelumnya, Muhammadiyah resmi mencatat sejarah baru dalam kiprah kemanusiaan nasional dan internasional. Melalui proses panjang dan komprehensif sejak tahun 2017, EMT Muhammadiyah dinyatakan terverifikasi oleh WHO sebagai tim medis darurat berstandar internasional pertama dari Indonesia.
“Pencapaian bersejarah ini menjadi bukti nyata pelaksanaan program prioritas kedelapan Muhammadiyah periode 2022-2027, yakni memperluas dan melembagakan internasionalisasi Muhammadiyah dalam misi dakwah dan tajdid yang rahmatan lil-’alamin,” kata Wakil Sekretaris MDMC PP Muhammadiyah, Budi Santoso, dalam keterangannya.
