Harapan Siswi di Afghanistan: Semoga Taliban Pertahankan Keamanan
·waktu baca 3 menit

Beberapa hari setelah pasukan Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan, anak-anak perempuan di Kota Herat mulai kembali bersekolah.
Para gadis berpakaian tunik hitam dan hijab putih tersebut memenuhi ruangan kelas dan tampak semangat untuk kembali menimba ilmu.
Sedangkan di koridor dan lapangan gedung sekolah, para siswa bercengkrama dengan satu sama lain, seakan-akan konflik Taliban-Pemerintah dalam dua pekan terakhir ini tak pernah terjadi.
“Kami ingin maju seperti negara-negara lainnya,” ujar seorang siswi, Roqia, sebagaimana dikutip dari AFP.
“Dan kami berharap Taliban akan mempertahankan keamanan. Kami tak ingin perang, kami hanya ingin perdamaian di negara ini,” lanjutnya.
Kota Herat, berlokasi di sebelah barat Afghanistan, berjarak sangat dekat dengan perbatasan negara Iran. Kota ini cenderung tidak sekonservatif kota-kota Afghanistan lainnya.
Di Herat, wanita dapat beraktivitas dengan lebih bebas, termasuk bersekolah dan mengenyam pendidikan tinggi.
Tetapi dengan naiknya Taliban ke kursi kekuasaan, kaum perempuan Afghanistan semakin dibayang-bayangi kekhawatiran dan ketakutan.
Musababnya pada tahun 1996-2001 lalu, ketika Taliban memegang pemerintahan, hak-hak wanita sangat dikekang. Saat itu, wanita tak diizinkan untuk bekerja maupun mengenyam pendidikan.
Jika ingin keluar rumah, mereka diharuskan mengenakan burka. Burka adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh dan wajah. Di bagian mata digunakan kawat kasa supaya dapat tetap melihat.
Wanita juga wajib didampingi oleh kerabat laki-laki mereka jika bepergian keluar rumah. Seluruh kebijakan tersebut tentunya sangat membatasi pergerakan serta hak-hak dasar mereka sebagai manusia.
Nasib wanita ke depannya, di bawah kekuasaan Taliban, masih belum dapat dipastikan.
Meskipun, pada konferensi pers pertamanya, Taliban menyatakan komitmennya untuk menghormati hak-hak wanita, termasuk memperoleh pendidikan serta bekerja, di bawah syariat Islam.
Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan bahwa mereka masih memegang ideologi dan kepercayaan yang sama dengan 20 tahun lalu.
Tetapi, jika dilihat dari pengalaman, kedewasaan, serta wawasan, kelompok militan tersebut mengaku sangat berbeda jika dibandingkan yang dulu.
Meskipun Taliban sudah mengutarakan janji manisnya, warga Afghanistan tampak lebih was-was dalam menjalankan kehidupan kembali.
Menurut laporan AFP, wanita tak banyak terlihat di jalanan-jalanan Kota Kabul. Para lelaki juga memilih kembali mengenakan pakaian tradisional khas Afghanistan, menanggalkan pakaian yang bergaya Barat.
Seorang Juru Bicara Taliban, Suhail Shaheen, merespons rasa takut ini dengan memastikan bahwa wanita akan tetap bisa mengenyam pendidikan.
“Wanita dapat memperoleh pendidikan dari pendidikan dasar hingga yang lebih tinggi, maksudnya, universitas. Ribuan sekolah di area-area yang dipegang Taliban masih beroperasi,” kata Shaheen kepada Sky News.
“Siswi-siswi kami yang kami kasihi masuk ke kelas dalam jumlah besar dan menggunakan hijab. Ujian sekolah akan terus dilanjutkan,” tambahnya.
