Harga Tes PCR Mahal, Anggota Komisi IX Bandingkan dengan Tiket Jakarta-Padang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemkab Bantul jemput bola melakukan swab PCR di Dusun Lopati. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemkab Bantul jemput bola melakukan swab PCR di Dusun Lopati. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Harga tes PCR di Indonesia yang masih cukup mahal membuat banyak pihak mendorong pemerintah menurunkan harganya. Harga tes PCR yang mahal dinilai menyulitkan masyarakat.

Sebetulnya, Kemenkes sudah mematok batasan tertinggi untuk harga tes PCR. Berdasarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/1/3713/2020 tentang batasan tertinggi untuk pemeriksaan RT-PCR dan swab, harga tertinggi yang dipatok sebesar Rp 900.000. Namun harga tersebut dinilai mahal.

Menanggapi isu tersebut, anggota Komisi IX DPR Darul Siska membandingkan harga tes PCR dengan tiket pesawat. Ia menceritakan pengalamannya harus membayar mahal tes PCR untuk pegawainya dan membandingkannya dengan harga tiket pesawat Jakarta-Padang.

"Soal harga PCR ini mahal dong. Saya aja kalau mau pergi PCR itu Rp 820.000 dan harga tiket saya dari Jakarta ke Padang cuman Rp 600 ribuan. Walaupun kita, misalnya, kalau saya anggota DPR itu ditanggung ada PCR di kantor. Tapi kalau saya bawa TA [Tenaga Ahli] saya, saya harus bawa [bayar] sendiri TA-nya," kata Darul, Jumat (13/8).

Petugas medis melakukan tes usap PCR terhadap pasien COVID-19 di selasar Ruang IGD RSUD Cengkareng, Jakarta, Rabu (23/6/2021). Foto: Fauzan/ANTARA FOTO

Darul juga mengungkapkan keterbatasan laboratorium di setiap daerah yang kerap menghambat jadwal penerbangan. Sebab, terkadang hasil PCR keluar saat ketentuan batas waktu penerbangan berakhir.

"Terus dari daerah itu lebih sulit. PCR-nya di samping juga mahal, juga membutuhkan waktu yang lama. Kadang- kadang waktu tenggat waktu 2x24 jam. Nah tiba-tiba tenggat waktu udah lewat hasil PCR belum keluar. Artinya ada keterbatasan lab di daerah- daerah," tuturnya.

kumparan post embed

Ia pun berharap pemerintah bisa menurunkan harga tes PCR. Ia mencontohkan ketika pemerintah menurunkan harga tes antigen yang sempat mahal.

"Seperti dulu, ya, antigen, kan, itu awal-awal bisa Rp 300.000 gitu, kan. Sekarang buktinya bisa Rp 80.000. Artinya sebenarnya itu, kan, antigen harga pokonya enggak tinggi," ujarnya.

"Nah saya juga menduga PCR mestinya kalau ditetapkan harga tertinggi oleh pemerintah akan membuat masyarakat itu lebih merasa nyaman gitu, loh. Kalau sekarang enggak standar harganya," pungkasnya.