News
·
21 September 2020 13:41

Hasto: Pilkada Jangan Dianggap Perang Badar, Apalagi Membawa Agama

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Hasto: Pilkada Jangan Dianggap Perang Badar, Apalagi Membawa Agama (84024)
Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto. Foto: Dok. PDPI
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengingatkan pilkada merupakan kontestasi biasa dalam sistem demokrasi Indonesia. Untuk itu, Hasto tak ingin ada pihak yang menganggap pilkada seperti perang badar dengan mengerahkan cara untuk memperoleh kemenangan.
ADVERTISEMENT
"Karena itu perlu diluruskan jangan sampai ada analogi salah pemilu sebagai sebuah perang, perang badar dan sebagainya. Jangan dianggap pemilu termasuk pemilukada ini sebagai sebuah perang hidup mati. Bagaimana kita menghadapi negara-negara lain, ada sense of patriotism yang terus menerus harus kita bangun," kata Hasto dalam webinar bertajuk 'Identifikasi dan Analisis Potensi Konflik Pilkada 2020 dalam Masa Pandemi, Senin (21/9).
"Karena itulah kita lihat analisa konflik, yang pertama analisa salah pemilu dianggap sebagai perang, ini harus dihindari. Jangan masukkan wacana rakyat dengan perang, meskipun perang demokrasi," sambung dia.
Selain itu, Hasto pun tak ingin ada pihak yang membawa agama sebagai dalil perjuangan dalam pilkada. Dia mengatakan agama bertujuan untuk menebar kebaikan bagi seluruh elemen masyarakat.
ADVERTISEMENT
"Apalagi membawa agama di dalam Pilkada sebagai dalil-dalil semangat juang dari para pendukungnya. Jadi, agama itu menebar kebaikan, agama itu menjadi kekuatan moral dan etis yang sangat penting bagi setiap warga bangsa. Nilai spiritualitas yang membebaskan," ucap dia.
Karena itu, Hasto mengatakan PDIP mengadakan sekolah partai agar seluruh calon yang diusung dapat memenangkan pilkada dengan cara yang beradab seperti menggunakan strategi gotong royong dan pola komunikasi politik yang baik. Selain itu, kata dia, mesin partai akan digerakkan secara maksimal.
"Elektoral juga dikedepankan, transportasi partai tadi sudah dijelaskan bahwa dengan global reproduction of American Politics maka menjadi partai elektoral, mesin partai itu hanya untuk menang. Maka untuk menghindari itu kami menyelenggarakan sekolah partai," ucap dia.
ADVERTISEMENT
"Kami menyelenggarakan psikotes bagi seluruh kandidat kami adakan komitmen bagi seluruh kandidat, mereka harus menang dengan cara cara yang berkeadaban dengan sebuah strategi gotong royong, dengan komunikasi politik yang baik, dengan program yng mampu menarik pemilih untuk ikut serta," sambungnya.
Terlebih, kata dia, Ketum Megawati Soekarnoputri telah mengingatkan pilkada merupakan kontestasi lima tahunan yang harus dipersiapkan secara matang.
"Pemilu itu kontestasi kami diajarkan oleh Ibu Megawati soekarnoputri menang juga hanya 5 tahun, kalau menang, tetapi kalau kalah juga hanya 5 tahun. Kalau kalah kita perbaiki sendiri melalui komunikasi politik kaderisasi, dan ini hanya lima tahun," tandas Hasto.