Hasto: Proporsional Terbuka Buat Party ID Tereduksi, Ada Elektoral Individual
·waktu baca 3 menit

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto kembali berbicara terkait kelebihan sistem pemilu proporsional tertutup. Hasto mengatakan dengan sistem proporsional tertutup, maka menjadi pemimpin legislatif harus melalui persiapan, tidak bisa hanya berbasis elektoral dan popularitas.
Ia menjelaskan seorang yang populer harus memahami bagaimana fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan di DPR jika ia ingin menjadi seorang caleg.
“Partai punya tanggung jawab terhadap kepentingan bangsa dan negara. Kepentingan partai tidak bisa terlepas dari kepentingan rakyat itu," kata Hasto dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/1).
"Kita melihat pendidikan kita tertinggal, maka partai memberikan sentuhan bagaimana politik pendidikan yang mencerdaskan anak bangsa. Ini harus dijawab juga oleh partai melalui kebijakan-kebijakan politiknya,” lanjutnya.
Hasto pun mengapresiasi hasil riset yang menemukan PDIP menjadi yang tertinggi dalam Party ID atau identifikasi masyarakat terhadap parpol, dan dipersepsikan paling positif di dalam melakukan pelembagaan partai.
Saat ini, Hasto mengatakan parpol, termasuk PDIP memiliki tantangan berat dalam membangun kepercayaan masyarakat. Dan upaya perubahan parpol harus juga disertai perubahan sistem pemilihan.
“Ini tolok ukurnya kepuasannya sangat rendah. Ya di satu sisi ini tantangan buat parpol untuk membangun trust. Dan di sisi lain, ini salah satu sebabnya liberalisasi politik, dan juga sistem proporsional terbuka yang menyebabkan Party ID tereduksi oleh elektoral individual-individual yang sering kali tidak membawa platform dan ideologi parpol. Maka sikap PDI Perjuangan mendorong untuk proporsional tertutup,” kata Hasto.
Sementara itu, Pakar Politik dari Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi, menjelaskan, tentang Party ID yang menurun ada kaitannya dengan hilangnya sistem proporsional tertutup. Saat sistem pemilu masih proporsional tertutup di 1999, party id masih di atas 80 persen.
Namun, ketika proporsional terbuka diperkenalkan tahun 2009, tingkat kedekatan partai dengan pemilih drop sampai 20-an persen.
“Pertanyaannya kenapa? Karena dalam proporsional tertutup itu yang bertarung adalah partai, karena orang nyoblos partai. Tapi dalam sistem proporsional terbuka, itu aktor atau pemainnya bukan hanya partai, tapi caleg-calegnya pun bertarung. Dan ketika para caleg bertarung, tidak ada insentif untuk mempromosikan ideologi partai,” urai Burhanuddin.
“Kenapa? Karena caleg dalam satu partai pun bertarung satu sama lain. Yang terjadi adalah kapitalisasi. Uang menjadi sangat penting untuk membedakan antara satu caleg dengan caleg lainnya dalam satu partai. Akhirnya orang tak bicara platform partai. Itu yang membuat publik makin jauh dengan ideologi partai,” katanya.
Karena sistem proporsional tertutup juga memiliki kelemahan, Burhanudin menawarkan mix proporsional system, yakni satu formula yakni kelebihan proporsional tertutup dan kelebihan proporsional terbuka disatukan.
Dia merinci model Jerman, yang punya 299 dapil. Setiap pemilih diberi dua kertas suara. Satu untuk memilih partai, dan satu kertas untuk memilih caleg.
“Kenapa dua? Satu buat kader partai bisa masuk melalui jalur partai. Tetapi untuk kedaulatan pemilih, mereka diberi peluang untuk memperebutkan caleg. Di Jerman, ini cukup sukses mengurangi jumlah partai dan mengurangi jumlah politik uang secara masif,” kata Muhtadi.
Burhanuddin juga bicara soal proses institusionalasi partai di Indonesia, yang ternyata punya pengaruh baik untuk elektabilitas parpol. Dari riset yang dilakukan, partai yang serius melakukan institusionalisasi cenderung memiliki elektabilitas yang baik.
“Kita tanya masyarakat mana partai yang serius melakukan institusionalisasi partai maka itu PDI Perjuangan yang paling tinggi. Kedua Gerindra, ketiga Golkar, keempat Demokrat, kelima PKS. Mereka yang masuk 5 besar dengan kelembagaan partai, ternyata paralel dengan elektabilitas partai saat ini. 5 besar partai dengan elektabilitas tertinggi saat ini, dengan 5 besar partai dengan kelembagaan partai yang kuat, itu sama susunannya,” beber Burhanuddin.
