Hoaks soal Tsunami Aceh dan Ledakan Nuklir Diulas BMKG

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak-anak bermain di salah satu rumah yang rusak akibat bencana gempa dan gelombang tsunami 26 Desember 2004 di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (21/12/2019). Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak bermain di salah satu rumah yang rusak akibat bencana gempa dan gelombang tsunami 26 Desember 2004 di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (21/12/2019). Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

BMKG mengulas soal beredarnya informasi viral jika bencana tsunami di Aceh pada 2004 merupakan bagian dari konspirasi. Dalam postingan itu, disebutkan tsunami Aceh terjadi akibat rekayasa senjata thermonuklir negara adidaya untuk tujuan tertentu.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, memberikan penjelasan dan beberapa bukti ilmiah jika tsunami Aceh dipicu akibat gempa tektonik.

Daryono mengatakan, berdasarkan data rekaman getaran tanah dalam seismogram menunjukkan adanya rekaman gelombang badan (body) berupa gelombang P (Pressure). Menurutnya, gelombang itu tercatat tiba lebih awal dibandingkan gelombang S (Shear) yang datang berikutnya.

"Selanjutnya diikuti oleh gelombang permukaan (surface). Munculnya fase-fase gelombang body ini menjadi bukti kuat bahwa gempa dan tsunami Aceh dipicu oleh aktivitas tektonik, bukan ledakan nuklir," kata Daryono dalam keterangannya, Selasa (23/3).

Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG. Foto: Jafrianto/kumparan

Daryono menambahkan, munculnya gelombang S (Shear) yang kuat pada seismogram menunjukkan bahwa deformasi di Samudra Hindia sebelah barat Aceh adalah proses pergeseran (shearing) yang terjadi secara tiba-tiba pada kerak bumi. Hal itu dipicu akibat adanya patahan batuan dalam proses gempa tektonik dan bukan akibat ledakan nuklir.

"Deformasi dasar laut di Samudra Hindia sebelah barat Aceh pada 26 Desember 2004 adalah gempa tektonik yang dibuktikan dengan adanya variasi bentuk awal gelombang P berupa gerakan kompresi (naik) dan dilatasi (turun) pada seismogram yang tercatat di stasiun-stasiun seismik BMKG," ucap Daryono.

"Jika sumbernya ledakan nuklir, maka semua catatan seismogram di berbagai stasiun seismik diawali dengan gerakan naik (kompresi) pada gelombang P tersebut," tambah dia.

Ilustrasi ombak tsunami Foto: Pixabay

Selain itu, Daryono menjelaskan jika gempa tektonik yang memicu Tsunami Aceh 2004 tidak terjadi dengan tiba-tiba. Tetapi melalui proses terjadinya gempa pembuka (foreshocks) yang sudah muncul sejak 2002 atau tepatnya saat terjadi gempa Simeulue 7,0 magnitudo pada 2 November 2002.

"Sejak itu terjadilah serangkaian gempa kecil yang terus menerus terjadi yang merupakan gempa pendahuluan hingga puncaknya terjadi gempa berkekuatan 9,2 magnitudo pada 26 Desember 2004 pukul 08.58.53 WIB," jelas dia.

"Fenomena gempa pendahuluan (foreshocks) yang sudah terjadi sejak 2 tahun sebelumnya ini merupakan bukti kuat bahwa Gempa Aceh 2004 tidak dipicu ledakan nuklir, tetapi gempa tektonik dengan tipe “gempa pendahuluan (foreshocks) - gempa utama (mainshock) - gempa susulan (aftershocks)," tegas Daryono.

Daryono menyebut, gempa Aceh pada 2004 telah membentuk jalur rekahan (rupture) di sepanjang zona subduksi (line source) dari sebelah barat Aceh di selatan hingga Kepulauan Andaman-Nicobar di utara sepanjang sekitar 1.500 Km. Hal itu menjadi bukti bahwa rekahan gempa tektonik terjadi di segmen Megathrust Aceh-Andaman.

"Rekahan panjang yang terbentuk di sepanjang jalur subduksi lempeng ini adalah bukti bahwa deformasi dasar laut yang terjadi bukan disebabkan oleh ledakan nuklir. Karena jika ledakan nuklir maka deformasi yang terbentuk secara terpusat di satu titik (point source) dan tidak berupa jalur (line source)," ujar dia.

Tenda-tenda bantuan luar negeri didirikan di dekat sebuah masjid di daerah yang hancur di garis pantai Barat provinsi Aceh, di Aceh, (291/2005). Foto: AFP PHOTO / Adek Berry

Kemudian, bukti lain jika tsunami Aceh 2004 dipicu gempa tektonik adalah munculnya serangkaian gempa susulan yang sangat banyak di sepanjang jalur Megathrust Andaman-Nicobar pasca gempa utama.

Menurutnya, jika tsunami dipicu ledakan nuklir, maka tidak ada rekaman gempa susulan yang sangat banyak yang terjadi hingga lebih dari setahun kemudian. Selain itu, jika tsunami dipicu ledakan nuklir, maka tidak akan ada rekaman gempa susulan tersebut hingga periode yang sangat lama.

"Mengenai adanya perubahan data magnitudo dan posisi episentrum gempa Aceh 2004 adalah hal biasa dalam analisis penentuan parameter gempa. Perubahan parameter gempa terjadi karena adanya pemutakhiran data akibat bertambahnya data seismik yang masuk dan digunakan untuk dianalisis oleh petugas di lembaga monitoring gempa," tutur Daryono.

kumparan post embed

Maka dari itu, semakin banyak data gempa yang digunakan, hasil parameter gempa akan stabil dan akurat hingga diperoleh hasil final.

"Demikian juga adanya perubahan episenter gempa Aceh 2006, disebabkan oleh adanya proses rekahan pada sumbar gempa yang bertahap dan terjadi dalam kawasan yang memanjang dari barat Aceh hingga Kepulauan Andaman-Nicobar," tutup Daryono.