Hoaxbuster: Klaim Vaksin Corona Tak Aman karena Dibuat dalam Waktu Singkat
ยทwaktu baca 2 menit

Beredar klaim yang menyebutkan vaksin corona tidak aman bagi tubuh manusia karena dibuat dalam waktu yang sangat singkat.
Narasi itu beredar di sejumlah media sosial dengan membandingkan sejumlah penyakit seperti HIV dan kanker yang disebut hingga kini belum ada vaksinnya.
"40 tahun penelitian, tidak ada vaksin untuk HIV. Tidak ada vaksin untuk kanker. Ini membuat bertanya-tanya, bagaimana bisa menemukan ini [vaksin corona] begitu cepat," tulis salah satu penguna Instagram.
Cek Fakta
Dikutip dari USA Today, pengembangan vaksin corona merupakan hasil penelitian hampir 100 tahun. Hal itu bermula dari virus corona yang menyerang unggas di North Dakota dan Minnesota, Amerika Serikat, pada 1930.
Kemudian, pada November 2002, warga di Guandong, China, terinfeksi virus corona. Temuan ini merupakan hal serius karena virus corona kali pertama menginfeksi manusia. Sebanyak 774 orang dilaporkan meninggal dunia.
Dari peristiwa ini, dalam sebulan, ahli berhasil memecahkan genom virus tersebut yang kemudian dinamai menjadi SARS (sindrom pernapasan akut yang para). Peneliti sepakat penyebab SARS adalah virus corona.
Munculnya wabah SARS kemudian memotivasi ahli untuk membuat vaksin. Pendekatan lonjakan protein dipilih. Sebab, lonjakan protein dalam penting dalam menentukan jenis virus corona mana yang menginfeksi.
Pada 1991, uji coba pendekatan lonjakan protein untuk virus corona dilakukan untuk vaksinasi anjing. Karena terbukti dengan hasil yang menjanjikan, uji coba dilakukan. Hanya saja, proses itu tidak dilanjutkan karena kurangnya dana.
Ahli vaksin dari National School of Tropical Medicine Baylor College of Medicine Houston, Amerika Serikat, Peter Hotez, mengatakan jalan untuk membuat vaksin sangatlah panjang. Mulai dari menemukan dan mengembangkan target vaksin (eksplorasi), mengujinya dalam kultur jaringan atau sel dan model hewan (praklinis) diikuti oleh tiga fase uji klinis dengan sukarelawan manusia.
Jika vaksin membuktikan keberaniannya, pengembang harus mencari dan mendapatkan persetujuan dari BPOM sebelum diproduksi. Terakhir, pada fase empat, kontrol kualitas memantau kemungkinan efek samping vaksin.
"Ketika orang China memasang urutan COVID-19 di bioRxiv pada bulan Januari, komunitas ilmuwan kami melihatnya dan berkata, 'Ya, kami mendapatkan ini karena kami tahu bagaimana melakukannya," ujar Hotez.
Kesimpulan
Jadi, klaim yang menyebutkan vaksin corona tidak aman karena dibuat dalam waktu singkat merupakan hoaks.
