Hubungan Benci Tapi Rindu Korsel-Korut, Dua Negara yang Masih Berperang

Panas. Hubungan Korea Selatan dengan Korea Utara lagi-lagi menyulut api.
Kali ini, Korut tampaknya berang betul dengan saudara tuanya itu. Setelah memutuskan hubungan komunikasi militer dan politik dengan Korsel, negara pimpinan Kim Jong-un bahkan meledakkan kantor penghubung intra-Korea yang berada di negaranya.
Korut sengaja merilis video ledakan di beberapa gedung di wilayah perbatasan Kaesong itu. Mereka ingin mengirimkan sinyal kepada Korsel untuk tak lagi main api dengan mereka.
Sebelumnya, sekelompok pembelot Korut yang berdomisili di Korsel mengirimkan paket berisi selebaran kritik terhadap Kim Jong-un beserta beras, uang, dan barang lainnya.
Paket itu beberapa pekan lalu dikirim lewat balon udara melewati perbatasan dan diletakkan di aliran sungai yang menghubungkan Korsel-Korut.
Aksi para pemberontak itu ditentang oleh pemerintah Korsel. Mereka menganggap aksi itu hanya akan memperkeruh hubungan dua Korea. Pihak Korsel memastikan bakal mengambil tindakan hukum, meski saat ini para pembelot mengaku sudah menyiapkan ratusan paket untuk dikirimkan lagi ke Korut.
Hingga saat ini kedua negara masih dalam status berperang. Pasalnya, Perang Korea yang berakhir 1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Sejak saat itu, hubungan Korsel-Korut kerap pasang surut. Kadang harmonis, tetapi lebih sering bertengkar.
Dikisahkan Korea Expose, dalam sejarahnya, kedua negara sejatinya tak tahu menahu jika hendak dipisahkan. Akan tetapi, Korea akhirnya terbelah karena campur tangan dari dua negara super power ketika itu, Amerika Serikat dan Uni Soviet, setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945.
Ketika itu, Korea terbagi menjadi sisi Selatan dan Utara dengan dipisahkan perbatasan yang dikenal dengan paralel ke-38. AS mengambil alih kepemimpinan di Korsel, sementara Korut dikendarai Uni Soviet yang berhaluan Komunis.
Tiga tahun berselang, dua Korea memiliki pemerintah resmi sekaligus membentuk kenegaraan masing-masing. Pemerintah Korsel terpusat di Seoul, sementara Korut di Pyongyang.
Dua tahun setelah terbentuknya Korsel dan Korut, perang pertama di antara kedua negara pecah. Perang Korea yang juga dikenal dengan The Forgotten War ini terjadi pada 25 Juni 1950, ditandai dengan militer Korut yang menyeberangi perbatasan atas izin Soviet, untuk melakukan invasi ke tetangganya itu.
Perang Korea berlangsung selama tiga tahun sebelum pada 27 Juli 1953, kedua negara melakukan gencatan senjata. Mereka kemudian sepakat untuk membentuk zona netral atau Zona Demiliterisasi (DMZ) untuk memisahkan kedua negara.
Perang Korea tak hanya menimbulkan korban jiwa, banyak keluarga dari kedua negara yang tinggal di perbatasan harus terpisah. Semenjak 1953, tercatat kedua negara hanya pernah terlibat gesekan kecil, bukan konflik terbuka.
Reuni keluar dari keluar negara beberapa kali digelar, dan acara itu selalu mengharukan. Salah satunya pada Januari 2018, ada 58 ribu orang di Korsel mendaftarkan diri untuk reuni dengan keluarga mereka yang terpisah di Korut. Hanya orang-orang terpilih dalam lotere yang kemudian hadir di acara itu.
Tangis haru seketika pecah ketika para lansia ini akhirnya bertemu dengan keluarganya. Saat itu, mereka diizinkan bertemu sebanyak enam kali dengan total waktu pertemuan selama 11 jam dalam waktu tiga hari.
Kedua negara tak melulu bertikai dan perang urat syaraf. Pada 1991, pemerintah Korsel dan Korut bahkan membentuk tim tenis meja bersama untuk berkompetisi di Kejuaraan Dunia yang berujung kepada perolehan medali emas.
Di tahun yang sama, kedua negara bahkan sepakat menandatangani persetujuan untuk melakukan rekonsiliasi dan non-agresi.
Kendati demikian, kisah manis kedua negara berangsur memudar. Hal itu tak lepas dari ketidaksetujuan Korsel terhadap uji coba rudal dan nuklir Korut yang dijalankan pada 2008.
Presiden Korsel yang baru terpilih saat itu, Lee Myung-bak, bereaksi keras atas uji coba rudal dan nuklir Korut. Kobaran api bahkan semakin besar ketika Kaesong Industrial Complex yang merupakan kerja sama bisnis di antara kedua negara ditutup oleh Korsel.
Seiring kematian Kim Jong Il pada 2011, tampuk pimpinan Korsel pun jatuh kepada putranya, Kim Jong-un. Di bawah kendalinya, Korut semakin gencar melakukan uji coba rudal dan nuklir. Tak hanya itu, Jong-un juga berkali-kali menebar ancaman verbal akan meluncurkan serangan rudal kepada Korsel dan sekutunya.
Meski demikian, hubungan Korsel dengan Korut sempat mencair pada September 2018. Selain ditandai dengan reuni keluarga, Jong-un juga bertemu dengan Presiden Korsel Moon Jae-in.
Pertemuan keduanya tampak begitu hangat. Senyum Jae-in di Pyongyang, disambut pelukan Jong-un.
Kini, setelah dua Korea bersitegang akibat ulah pembelot, akankah hubungan mereka kembali menghangat ke depannya? Menarik dinantikan.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
