IDI soal Ida Dayak: Pengobatan Alternatif Harus Ada Monitoring dan Evaluasi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ida Dayak saat mengobati ribuan warga dan anggota polisi di Polres Bogor. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ida Dayak saat mengobati ribuan warga dan anggota polisi di Polres Bogor. Foto: Dok. Istimewa

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menanggapi fenomena pengobatan ortopedi nonmedis oleh Ida Dayak yang viral belakangan ini. IDI menyebut berbagai pengobatan alternatif menurut literatur masuk dalam ketegori complementary alternative medicine (CAM), yakni terapi yang dilakukan bersama dengan terapi medis.

Ketua Dewan Pakar Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI) 2022-2025 dan Ketua Kolegium Ortopedi dan Traumatologi 2019-2022, Prof. Dr. dr. Ferdiansyah, Sp.OT(K), mengatakan pengobatan alternatif tulang apa pun itu, termasuk Ida Dayak yang sedang ramai, perlu ada monitoring dan evaluasi.

"Saya tidak berkomentar khusus soal ini (Ida Dayak), ya. Mestinya, seharusnya apa pun yang dikerjakan itu ada monitoring dan evaluasi efektivitasnya. Mari sama-sama kita lihat, kita evaluasi," kata Prof Ferdiansyah dalam media briefing IDI yang digelar secara daring, Rabu (5/4).

Menurutnya, fenomena pengobatan alternatif ini bukan fenomena baru. Banyak pengobatan alternatif bermunculan lalu hilang begitu saja.

Timbul, ramai, hilang sendiri. Yang penting bagi kita disaintifikasi, artinya diilmiahkan. Kita perlu bukti, betul nggak bisa menyembuhkan," kata Ferdiansyah.

Ketua Dewan Pakar Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI) 2022-2025 dan Ketua Kolegium Ortopedi dan Traumatologi 2019-2022, Prof. Dr. dr. Ferdiansyah, Sp.OT(K).

Pengobatan alternatif, katanya, tidak sepenuhnya salah. Ada alternatif seperti akupunktur misalnya, yang akhirnya berdampingan dengan medis. Sehingga yang penting saat ini adalah bagaimana mencari bukti-bukti ilmiah soal terapi-terapi tersebut.

"Yang penting kita bisa melindungi masyarakat kita dari mendapat efek yang lebih jelek. Harapan kita, semua bisa diuntungkan, baik itu masyarakat dan negara kita punya temuan-temuan baru di bidang kesehatan," katanya.

instagram embed

Tak boleh sembarang obati patah tulang

Prof Ferdiansyah mengatakan ada berbagai alasan masyarakat memilih pengobatan alternatif, salah satunya karena pengobatan dengan medis belum membuahkan hasil. Sehingga mereka mencari alternatif-alternatif pengobatan lain yang sifatnya tradisional.

Soal pengobatan patah tulang, Ferdiansyah mengatakan tulang itu istimewa. Bila bermasalah dia bisa sembuh dengan sendirinya. Tugas para dokter adalah memposisikan tulang itu dengan posisi benar sehingga bisa kembali ke bentuk semua dan fungsinya kembali seperti awal.

Namun, perlu diperhatikan bahwa tulang itu tidak berdiri sendiri. Ada susunan syaraf, otot dan pembuluh darah. Sehingga pengobatan tulang harus dilakukan dengan benar.

"Kalau kita melakukan manipulasi tidak benar dikhawatirkan malah tambah berat. Syaraf, pembuluh darah (yang salah) bisa jadi disaster kepada pasien, bisa terjadi amputasi pada pasien. Kalau syaraf (salah) bisa timbul kelumpuhan," katanya.

"Setiap pasien yang cedera pertama kali harus didiagnosis dengan baik. Kalau sampai dia bergeser atau bengkok segala macam sebaiknya ke ahlinya," imbuh Prof Ferdiansyah.

kumparan post embed

Salah satu video Ida Dayak yang viral adalah video saat dia meluruskan tangan seorang anak yang bengkok. Narasi yang disebutkan, anak itu mengalami patah tulang.

Ida Dayak yang menetap di Cibinong, Bogor, menjadi buah bibir belakangan ini. Aparat TNI dan Polri di Bogor juga memfasilitasi.

kumparan post embed