Iming-iming Sekolah Gratis, Modus Herry Wirawan Rekrut Santri Korban Pemerkosaan
ยทwaktu baca 3 menit

Tujuan awal para santriwati korban pemerkosaan Herry Wirawan datang ke Pondok Tahfidz Al Ikhlas, Madani Boarding School di Cibiru, maupun Yayasan Manarul Huda Antapani (Madani), adalah untuk belajar dan menimba ilmu agama.
Tak disangka, mereka malah menjadi korban pemerkosaan oleh guru sekaligus pemilik pondok pesantren (ponpes). Para santriwati ini kebanyakan berasal dari Garut, Ciamis, hingga Sumedang.
Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Garut, Diah Kurniasari, mengatakan, anak-anak ini awalnya ditawari saudara dan tetangga mondok di ponpes milik Herry Wirawan karena biaya gratis.
Harry Wirawan yang berasal dari Garut juga mengajak anak-anak di sana untuk sekolah gratis di tempatnya.
"Jadi mereka sekolah di sana juga karena gratis, jadi mereka banyak bertalian saudara dan tetangga, jadi seperti "Yuk kita belajar di sana gratis". Nah inilah awalnya dan mereka kurun waktu 2016 sampai 2021 mereka ada di sana," jelas Diah kepada wartawan, Jumat (10/12).
Di ponpes, para santriwati yang berusia belasan tahun itu belajar agama. Namun guru yang mengajar tidak seperti di ponpes pada umumnya. Mereka lebih seperti home schooling, guru datang ke rumah mengajar, setelahnya guru tersebut pulang.
Pengurus Ponpes juga hanya ada Herry seorang.
Para santri lebih banyak melakukan pekerjaan mengurus rumah dan keperluan mereka sehari-hari.
"Waktu itu ada 30 anak yang ada di pesantren itu, jadi mereka diperlakukan gantian memasak, tidak ada orang lain lagi yang masuk ke dalam pesantren itu," kata Diah.
"Jadinya mereka pun sebenarnya tidurnya, tuh, bersama-sama gitu, ya, kayak kobong gitu. Nah, itu pelaku kalau itu (memperkosa) ya, main tarik-tarik aja," imbuhnya.
Setelah mondok, para santri malah mendapatkan kekerasan seksual dari Herry Wirawan.
Awal Mula Kasus Pemerkosaan Herry Wirawan Terbongkar
Kasus pemerkosaan ini terbongkar saat orang tua salah seorang korban melihat ada yang aneh pada anaknya saat pulang ke Garut pada momen Lebaran 2021 kemarin.
"Jadi di waktu mau Lebaran, nah ini salah satu pedulinya orang tua yang melihat kenapa anak saya berubah. Nah, di situlah akhirnya (terbongkar), dengan ditemani oleh kepala desa mereka melapor ke Polda Jabar," terang Diah.
Diah menjelaskan orang tua para korban kebanyakan bekerja sebagai buruh lepas, pembuat jok motor/mobil, hingga petani. Tentu dengan iming-iming sekolah gratis, mereka tergerak menyekolahkan anak-anaknya di ponpes milik Herry Wirawan. Nahas, tujuan baik itu malah berbuah duka.
"Maaf orang tua mereka ini rata-rata adalah buruh lepas yang jual kitab, yang itu (membuat) jok, ada yang cuma petani, karena mereka ingin anak sekolah makanya gratis di sana seperti itu," ungkapnya.
Nasib Korban Pemerkosaan dan Bayinya Saat Ini
Diah memastikan para korban saat ini berada di naungan orang tua masing-masing dan perlindungan pihaknya. Bayi dari para korban pun dirawat keluarga masing-masing, meski sempat ada sikap keluarga yang tidak bersedia merawat bayi malang tersebut.
"Jadi posisi anak-anak sekarang ada di orang tua mereka dan akhirnya alhamdulillah yang rasanya mereka (awalnya) tidak menerima, ya namanya juga anak bayi, cucu darah daging mereka, akhirnya mereka merawat," terang Diah.
"Walaupun saya menawarkan kalau yang tidak sanggup saya siap gitu, ya, membantu, tapi mereka akhirnya merawat cucu mereka, ya (bisa disebut) cuculah," pungkasnya.
