Inggris Waspadai Varian Baru Corona yang Ditemukan di Afsel
·waktu baca 3 menit

Menyusul penemuan varian baru virus corona B.1.1.529 di Afrika Selatan (Afsel), Inggris langsung meningkatkan kewaspadaan. Mereka melarang sementara penerbangan dari Afsel dan lima negara Afrika lainnya.
Pada Kamis (25/11), Inggris mengumumkan larangan penerbangan dari Afsel, Namibia, Botswana, Zimbabwe, Lesotho, dan Eswatini akan berlaku mulai Jumat (26/11) pukul 12 siang waktu setempat.
Khusus bagi warga negara (WN) Inggris yang pulang dari Afsel dan kelima negara itu, mereka boleh masuk dengan syarat harus langsung menjalani karantina.
Badan Keamanan Kesehatan Inggris mengungkapkan, varian ini memiliki protein spike yang sangat berbeda dengan virus corona awal (yang belum bermutasi).
Virus corona awal inilah yang menjadi dasar dari vaksin COVID-19 yang sekarang tersedia.
B.1.1.529 diduga memiliki mutasi yang sangat mungkin menghindari respons imun tubuh, baik yang dipicu oleh vaksinasi ataupun yang timbul usai sembuh dari COVID-19. Selain itu, ditemukan juga mutasi yang berkaitan dengan peningkatan infektivitas.
Infektivitas dipahami sebagai kemampuan agen atau penyebab suatu penyakit untuk masuk, berkembang biak dalam tubuh, serta menyebabkan infeksi.
“Yang kami ketahui adalah terdapat jumlah mutasi yang signifikan [pada B.1.1.529], mungkin dua kali lipat dibandingkan dengan mutasi yang kita lihat pada varian Delta,” ucap Menteri Kesehatan Inggris Sajid Javid, dikutip dari Reuters.
“Dan ini menunjukkan bahwa virus itu kemungkinan lebih menular, dan vaksin-vaksin yang tersedia sekarang kemungkinan kurang efektif [terhadap varian baru],” lanjutnya.
Javid mengatakan, masih diperlukan lebih banyak data lagi untuk memahami varian baru virus corona ini.
Sebab, menurut para ilmuwan, studi lab perlu dilakukan untuk menilai kemungkinan mutasi tersebut menyebabkan penurunan efikasi vaksin yang sangat besar.
Tetapi yang pasti, pembatasan perjalanan sangat diperlukan sebagai bentuk pencegahan.
Pemerintahan Inggris diminta untuk mengambil keputusan dengan cepat, jika kekhawatiran soal dampak varian baru itu benar terbukti. Meskipun, pengumpulan informasi mengenai karakteristik varian B.1.1.529 dapat memakan waktu beberapa minggu.
Pada Kamis (25/11), ilmuwan Afsel mengumumkan telah mendeteksi varian baru COVID-19 dalam jumlah kecil. Menurut Institut Nasional Penyakit Menular (NICD), saat ini telah ditemukan 22 kasus varian B.1.1.529.
"Meski data terbatas, ahli kami terus bekerja lembur dengan sistem pengawasan yang ada untuk memahami varian baru dan implikasi potensialnya," kata Profesor NICD, Adrian Puren.
Varian ini dilaporkan sudah terdeteksi di Botswana dan Hong Kong. Namun, Badan Keamanan Kesehatan Inggris mengatakan belum menemukan kasus varian baru ini di negaranya.
“Bukti awal dari surveilans genomik di Afrika Selatan menunjukkan bahwa B.1.1.529 dapat menyebabkan kekhawatiran serius,” ujar Wakil Direktur Jenderal Laboratorium Biologi Molekuler Eropa, Ewan Birney.
“Kita semua tahu bahwa aksi tanggap lebih awal itu lebih baik dibandingkan terlambat. Ada kemungkinan varian ini tidak se-mengancam [varian] Alpha dan Delta, tetapi konsekuensi dari tidak bertindak bisa menjadi serius,” tutupnya.
