Ini Alasan Tentara Israel Serbu Umat Islam Palestina di Masjid Al-Aqsa

6 April 2023 15:33 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
54
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Polisi Perbatasan Israel dikerahkan di dekat Gerbang Damaskus ke Kota Tua Yerusalem selama penggerebekan oleh polisi di kompleks Masjid Al-Aqsa, Rabu (5/4/2023). Foto: Mahmoud Illean/AP Photo
zoom-in-whitePerbesar
Polisi Perbatasan Israel dikerahkan di dekat Gerbang Damaskus ke Kota Tua Yerusalem selama penggerebekan oleh polisi di kompleks Masjid Al-Aqsa, Rabu (5/4/2023). Foto: Mahmoud Illean/AP Photo
ADVERTISEMENT
Kepolisian Israel meluncurkan serangan terhadap umat Muslim Palestina yang sedang beribadah di Masjid Al-Aqsa selama dua hari berturut-turut pada pekan ini.
ADVERTISEMENT
Pasukan penjajah ini melempar granat kejut, menembakkan peluru karet dan meriam air guna membubarkan ratusan jemaah yang berada di sana.
Lantas, apa sebenarnya alasan pasukan Zionis melakukan kekerasan itu?
Sebenarnya, kekerasan acap kali berlangsung di kompleks Masjid Al-Aqsa pada hari-hari besar keagamaan umat Islam dan Yahudi. Situasi serupa terjadi di bulan ini, Ramadhan dan liburan hari raya Paskah Yahudi bertepatan di bulan yang sama.
Masjid Al-Aqsa atau yang disebut sebagai Temple Mount bagi orang Yahudi ini adalah situs sensitif, lantaran merupakan situs paling suci bagi pemeluk agama Yahudi dan masjid suci ketiga bagi umat Islam setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Dikutip dari Associated Press, sejak bulan suci Ramadhan dimulai pada 22 Maret lalu puluhan jemaah Muslim Palestina telah berulang kali mencoba untuk iktikaf di Masjid Al-Aqsa, ibadah yang biasanya dilakukan pada bulan Ramadhan—utamanya pada 10 hari terakhir.
ADVERTISEMENT
Polisi Israel pun kerap masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa setiap malam untuk mengusir para jemaah yang masih berada di sana hingga larut malam.

Duduk Perkara

Adapun konflik kembali pecah pada Selasa (4/4) malam waktu setempat, usai sekitar 80 ribu jemaah Palestina melaksanakan salat Tarawih di Masjid Al-Aqsa.
Ketika salat Tarawih sudah selesai, ratusan orang Palestina tetap ingin berada di sana dan mengunci diri mereka di dalam masjid untuk melakukan iktikaf.
Beberapa jemaah mengatakan, penguncian itu dilakukan lantaran mereka ingin beribadah dengan tenang, sekaligus untuk memastikan umat Yahudi tidak melakukan tradisi kurban Paskah di area Masjid Al-Aqsa secara diam-diam.
Polisi perbatasan Israel berjaga di kompleks Masjid Al-Aqsa, Rabu (5/4/2023). Foto: Ammar Awad/REUTERS
Sebelumnya pada awal pekan ini, terdapat seruan dari kelompok Yahudi garis keras yang berencana untuk kembali melakukan kurban Paskah di area kompleks masjid, seperti yang sempat dilakukan dahulu, meski kala itu berujung pada kekerasan pula.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, ratusan jemaah yang mengunci diri di dalam Masjid Al-Aqsa enggan untuk keluar hingga mengakibatkan pasukan keamanan Israel mendobrak pintu, memaksa masuk. Di sinilah kekerasan bermula dan bentrokan terjadi.
Dalam keterangannya, kepolisian Israel mengaku menerima laporan adanya beberapa pemuda bermasker yang membawa kembang api, tongkat, hingga batu ke dalam Masjid Al-Aqsa.
Para pemuda ini meneriakkan caci maki kepada pasukan Israel dan mengunci pintu — mereka pun dianggap berbahaya.
“Setelah upaya yang panjang dan berulang-ulang untuk mengeluarkan mereka dengan cara berbicara namun tidak berhasil, pasukan polisi terpaksa masuk ke dalam kompleks,” jelas laporan kepolisian Israel.
Hal itu dibenarkan oleh salah seorang pemuda bernama Moayad Abu Mayaleh (23 tahun). Dia mengatakan, pintu masuk sengaja diblokir oleh ratusan orang lainnya untuk mencegah polisi Israel masuk sebelum mereka mendobrak pintu.
ADVERTISEMENT
Secara terpisah, pasukan Israel mengaku bentrokan tak terelakkan ketika para pemuda yang dimaksud mulai melakukan kekerasan.
“Puluhan remaja yang melanggar hukum telah memicu kekacauan, melemparkan batu dan benda-benda lain ke arah petugas dan memaksa polisi bertindak untuk memulihkan keamanan, hukum dan ketertiban,” jelasnya.
Imbas dari bentrokan itu melukai sedikitnya 50 orang dan polisi Israel mengaku secara keseluruhan telah menangkap 450 orang. Menurut pengacara yang mewakili beberapa warga Palestina di sana, Khaled Zabarqa, sebagian besar warganya yang ditangkap telah dibebaskan dari tahanan sore harinya.
Namun, Zabarqa mengatakan sekitar 50 warga Palestina — banyak dari mereka yang berasal dari Tepi Barat, masih ditahan dan harus menghadiri sidang di pengadilan militer Ofer pada Jumat (7/4) pekan ini.
ADVERTISEMENT
Kerusuhan di Masjid Al-Aqsa kembali terjadi keesokan harinya, pada Rabu (5/4). Meski tidak begitu parah, tetapi situasi sama panasnya — pasukan Israel kembali menyerbu jemaah Palestina yang sedang beribadah di sana.

Dilempari Benda oleh Warga Palestina

Dalam pernyataannya, polisi Israel mengatakan penyerbuan itu dilakukan guna membubarkan massa, lantaran jemaah Palestina telah melanggar aturan dengan cara melemparkan berbagai benda ke arah polisi.
Adapun perlawanan dari jemaah Palestina karena mereka menentang pembatasan beribadah dan kunjungan ke Masjid Al-Aqsa yang diterapkan oleh pasukan Israel.
Israel membatasi kunjungan ke masjid hingga pukul 21.00 waktu setempat dan baru membolehkan iktikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan.
Menurut otoritas pengelola Masjid Al-Aqsa, Waqf, serangan dari jemaah Palestina kemudian dibalas oleh tembakan peluru karet dan granat kejut oleh Israel.
ADVERTISEMENT
Tim medis Bulan Sabit Merah Palestina menyebut, enam orang terluka akibat kekerasan terbaru. Di sisi lain, militan Palestina di Jalur Gaza menanggapi serangan di Masjid Al-Aqsa dengan menembakkan rudal ke arah Israel — sehingga menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya pertempuran yang lebih luas dan lama.
Polisi Israel menangkap warga Palestina di kompleks Masjid Al-Aqsa setelah penggerebekan di situs di Kota Tua Yerusalem selama bulan suci Ramadhan, Rabu (5/4/2023). Foto: Mahmoud Illean/AP Photo
Secara tradisi, meski merupakan situs suci utama bagi umat Yahudi, tetapi mereka tidak menggunakan Temple Mount sebagai tempat beribadah. Kepala Rabbi Israel juga melarang orang Yahudi memasuki situs tersebut dengan alasan agama.

Penyelewengan Status Quo

Sejak perang 1967, ada aturan status quo antara Israel, Palestina, dan Yordania yang melarang nonmuslim beribadah di sana. Orang nonmuslim hanya dapat mengunjungi kompleks Al-Haram al-Sharif di waktu-waktu tertentu saja.
Meski demikian, semakin banyak orang Yahudi garis keras yang tidak menggubris larangan itu — diperburuk dengan minimnya pengawasan serta tindakan tegas dari aparat keamanan sekitar.
ADVERTISEMENT
Penyelewengan status quo pun semakin tak terhindarkan di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan jajaran sayap kanannya yang merupakan sosok Yahudi ultranasionalis.
Netanyahu memandang para jemaah yang mengunci diri di Masjid Al-Aqsa merupakan kelompok Islam ekstremis yang kerap menimbulkan kerusuhan.