Isolasi Mandiri karena COVID-19? Pastikan Anda Punya Oksimeter dan Pakai Berkala

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Infografik hal yang dilakukan jika anggota keluarga melakukan isolasi mandiri. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Infografik hal yang dilakukan jika anggota keluarga melakukan isolasi mandiri. Foto: kumparan

Semakin melonjaknya kasus positif COVID-19 di rumah sakit membuat pemerintah harus membuat kriteria pasien yang bisa mendapatkan pelayanan rawat inap. Dengan begitu, beban di fasilitas kesehatan diharapkan dapat menurun.

Kriteria tersebut turut disampaikan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan pers virtual, Senin (21/6).

"Yang isolasi dan memiliki gejala, memiliki komorbid, saturasi di bawah 95, dan sudah sesak, kita bawa ke RS. Yang tidak, lebih baik isolasi mandiri di rumah atau isolasi terpusat." kata Budi.

Seluruh kondisi tersebut tentu dapat dikenali, tak terkecuali bagi saturasi oksigen. Untuk mengetahuinya, pasien paling tidak harus memiliki alat uji yang dinamakan oksimeter (oxymeter).

kumparan post embed

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyarankan penggunaan oksimeter dalam perawatan pasien COVID-19. Alat ini sangat dibutuhkan apalagi bagi pasien isolasi mandiri di rumah yang tidak sedang ditangani oleh tenaga kesehatan secara langsung.

Saturasi oksigen adalah kadar oksigen dalam darah. Semakin rendah semakin menunjukkan kondisi pasien tidak baik-baik saja.

"Sebagai alat deteksi silent hypoxia, dengan tidak adanya sesak napas dan tanda bahaya yang menyertainya, pemantauan dan identifikasi dini perburukan kondisi klinis, dan konfirmasi tingkat saturasi oksigen," tulis dalam panduan WHO mengenai fungsi dari oxymeter, dikutip kumparan, Selasa (22/6).

Cara Membaca Oksimeter

Sebelum membahas mengenai cara penggunaan oksimeter, pasien terlebih dahulu harus memahami cara membaca data yang tertera pada alat.

Oksimeter menggunakan satuan Sp02 dengan skala 0 sampai 100 persen. Satuan ini menghitung berapa kadar oksigen yang dibawa dalam hemoglobin dalam aliran darah tubuh manusia.

Ilustrasi Oxymeter. Foto: Shutterstock

Idealnya, saturasi oksigen dalam tubuh seseorang yang sehat adalah 95 sampai 100 persen. Nah, tak sedikit dari pasien COVID-19 memiliki saturasi oksigen di bawah 95. Hal ini bisa menjadi berbahaya apabila dibiarkan bisa menimbulkan gejala-gejala lainnya.

Alat ini memiliki ukuran yang relatif kecil. Cara penggunaannya juga terbilang mudah karena bisa digunakan tanpa bantuan orang lain.

Pasien hanya perlu menjepitkan salah satu jari tangan ke oksimeter. Kemudian alat tersebut akan langsung mengkalkulasikan kadar oksigen dalam tubuh pasien.

Selain mendeteksi kadar oksigen, alat ini juga menghitung rata-rata detak jantung pasien per menit atau pulse rate beat per minute (PRbpm).

Apabila mengalami penurunan saturasi oksigen dan mengalami gejala sesak, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan selanjutnya.

Oksimeter bisa dibeli dengan harga terjangkau di toko alat kesehatan, apotek ataupun secara online. Namun, pastikan alat tersebut memiliki kualitas atau akurasi yang baik.

kumparan post embed