Kumparan Logo
Coverstory Djoko Tjandra
Coverstory Djoko Tjandra.

Jaksa dan Polisi yang Diduga dengan Mudah Bertemu Djoko Tjandra

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Coverstory Djoko Tjandra. Foto: Indra Fauzi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Coverstory Djoko Tjandra. Foto: Indra Fauzi/kumparan

Djoko Tjandra sudah 11 tahun tak diketahui rimbanya. Terakhir kali buronan kasus cessie Bank Bali tersebut terlacak pada 2009 saat kabur ke Papua Nugini. Djoko Tjandra menghindari hukuman 2 tahun penjara yang dijatuhkan Mahkamah Agung (MA) di tingkat PK pada 2009.

Selama pelariannya, Djoko Tjandra bukannya tak terendus penegak hukum. Djoko Tjandra bahkan bertemu dengan penegak hukum, jaksa dan polisi. Ironis, Djoko Tjandra masih bisa melenggang bebas, sakti mandraguna.

Jaksa yang diduga kerap bertemu Djoko Tjandra bernama Pinangki Sirna Malasari. Beredarnya foto jaksa Pinangki dengan Djoko Tjandra di media sosial membuka tabir tersebut.

X post embed

Kejaksaan Agung yang mengetahui foto tersebut langsung memeriksa Pinangki. Rupanya, Pinangki tercatat 9 kali pergi ke luar negeri pada 2019 tanpa izin atasannya. Salah satunya bertemu dengan Djoko Tjandra yang justru merupakan buronan Kejagung, instansi tempat dia bernaung.

"Melakukan pertemuan dengan buronan terpidana Djoko S. Tjandra," ujar Kapuspenkum Kejaksaan Agung Hari Setiyono dalam keterangannya, Rabu (29/7).

Hari menyebut perjalanan Jaksa Pinangki ke luar negeri tanpa izin ialah ke Singapura dan Malaysia. Djoko Tjandra sebelumnya dikabarkan sedang berada di Kuala Lumpur Malaysia.

Akibatnya, Pinangki dicopot dari jabatan Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi II pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan.

kumparan post embed

Hukuman disiplin itu dikeluarkan Wakil Jaksa Agung melalui Surat Keputusan Nomor: KEP-IV-041/B/WJA/07/2020 tanggal 29 Juli 2020 tentang Penjatuhan Hukuman Disiplin (PHD) Tingkat Berat.

Selain Pinangki, penegak hukum lain yang bertemu Djoko Tjandra ialah Brigjen Prasetijo Utomo. Saat menjabat Kakorwas PPNS Bareskrim Polri, Brigjen Prasetijo terbukti menerbitkan surat jalan bagi Djoko Tjandra.

Tak hanya itu, Brigjen Prasetijo juga diduga membantu Djoko Tjandra mendapatkan surat bebas COVID-19. Caranya, Brigjen Prasetijo memanggil seseorang yang menyerupai Djoko Tjandra untuk menjalani rapid test.

Surat jalan dan surat bebas COVID-19 itu diduga membuat Djoko Tjandra bebas keluar masuk Indonesia pada Juni lalu. Saat berada di Indonesia, Djoko Tjandra bisa membuat e-KTP pada 8 Juni.

Petugas melayani warga saat mengurus dokumen kependudukan di Kantor Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (13/7). Foto: ANTARA FOTO/Paramayuda/Antara Foto

Dalam pembuatan e-KTP itu, Djoko Tjandra bahkan ditemani Lurah Grogol Selatan, Asep Subahan. Alhasil proses perekaman hingga pencetakan e-KTP Djoko Tjandra hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Setelah kasus ini terungkap, Asep dinonaktifkan sebagai Lurah Grogol Selatan.

Selain membuat e-KTP, Djoko Tjandra juga mendaftarkan PK ke PN Jaksel di hari yang sama. Sementara pada 22 Juni, Djoko Tjandra membuat paspor.

Kembali ke Brigjen Prasetijo, Polri juga mendapat informasi bahwa jenderal bintang satu tersebut pernah satu pesawat dengan Djoko Tjandra.

“Info yang kita dapat yang bersangkutan satu pesawat dengan DPO Djoko Tjandra," kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Awi Setiyono.

Info yang diterima Polri tersebut berkesesuaian dengan pernyataan Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman.

Ilustrasi jet pribadi Foto: Jay jay V/Pixabay

Boyamin menyebut Brigjen Prasetijo pernah turut serta dalam jet pribadi yang membawa pergi Djoko Tjandra ke Pontianak. Djoko Tjandra disebut keluar-masuk Indonesia-Malaysia melalui jalur tikus di Entikong kemudian melalui bandara di Pontianak.

"Prasetijo Utomo dalam catatan yang pernah masuk ke saya juga pernah ikut mengawal ke Pontianak pakai private jet. Jadi ini memang betul-betul diistimewakan oleh oknum-oknum lembaga negara untuk dia lancar keluar-masuk Indonesia," ungkap Boyamin.

Atas aksinya tersebut, Brigjen Prasetijo dicopot dari jabatan Kakorwas PPNS Bareskrim Polri. Ia juga dijerat secara pidana dan ditetapkan sebagai tersangka. Brigjen Prasetijo disangka melanggar pasal berlapis yakni Pasal 263 ayat (1) dan ayat (2) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Pasal 426 ayat (1) KUHP, dan Pasal 221 ayat (1) ke-2 KUHP dengan ancaman maksimal 6 tahun penjara.

Kabareskrin Komjen Sigit Listyo. Foto: Dok. Polri

Polri mengaku tak bakal berhenti di Brigjen Prasetijo saja. Kabareskrim, Komjen Listyo Sigit, menyebut akan ada tersangka-tersangka lain yang ditetapkan terkait pelarian buron kasus cessie Bank Bali tersebut.

Adapun selain Brigjen Prasetijo, pelarian Djoko Tjandra turut menyeret 2 jenderal lainnya yakni Brigjen Nugroho dan Irjen Napoleon Bonaparte. Keduanya kini tengah diperiksa secara etik.

Infografik Polisi yang Terkait Kasus Djoko Tjandra. Foto: Jarwo/kumparan

Selama diperiksa Propam, Brigjen Nugroho dicopot dari jabatan Sekretaris NCB Interpol Indonesia. Brigjen Nugroho dicopot lantaran melanggar kode etik terkait penyampaian terhapusnya nama Djoko Tjandra dari daftar red notice Interpol ke Imigrasi. Penyampaian tersebut tanpa sepengetahuan atasan.

Sama seperti Brigjen Nugroho, Irjen Napoleon Bonaparte juga dicopot dari jabatan Kadiv Hubinter terkait red notice Djoko Tjandra.

Coverstory Djoko Tjandra. Foto: Indra Fauzi/kumparan

Lantas apakah hanya Jaksa Pinangki dan Brigjen Prasetijo yang diduga dengan mudahnya bertemu Djoko Tjandra? atau masih ada oknum-oknum penegak hukum lain yang juga pernah bertemu buronan setengah triliun tersebut? Mari kita ikuti perkembangan kasusnya.

***

embed from external kumparan