'Jangan Gusur Keinginanku untuk Jadi Polisi'

Tengoklah Holifah, remaja 16 tahun ini begitu kuat. Setelah ditinggal abangnya yang meninggal beberapa tahun silam, Holifah harus menemui takdir pahit, tempat tinggalnya digusur.
Holifah dan ayahnya dulu memiliki sebuah gubuk yang menjadi tempat tinggal mereka berdua. Gubuk itu berdiri di pinggir Jalan Manggarai Utara 6, Jakarta Selatan, tak sampai 1 km dari Stasiun Manggarai.
Namun, pada bulan Maret tahun 2015, Holifah harus menerima kenyataan pahit. Gubuk tempat tinggalnya digusur, Holifah dan ayahnya kehilangan tempat tinggal.
Ayah Holifah hanya seorang tukang sampah. Pendapatannya per bulan hanya Rp 800 ribu, tak cukup untuk mengontrak rumah dan biaya makan.
Kini, siswa kelas XI jurusan IPS di SMA YMIK 2, Manggarai itu harus tinggal di sembarang tempat. Kadang Holifah dan ayahnya tidur di tempat parkir yang berada tidak jauh dari bekas gubuk mereka.
“Tidur di mana saja, ya kalau hujan lari-larian,” kata Holifah.
Tempat yang biasa dijadikan tempat tidur Holifah adalah sebuah bangku yang berada di tempat parkir motor di Jl Manggarai Utara 6. Letaknya berdekatan dengan jejeran kios tukang permak jeans. Holifah dan ayahnya, harus tidur di depan toilet umum yang keadaanya juga sangat memprihatinkan.
Bila hujan datang, Holifah dan ayahnya harus mencari tempat tidur lain. Kadang mereka tidur di emperan warung.

Permasalahan yang dihadapi Holifah bukan hanya urusan tempat tinggal. Holifah dan ayahnya, Roup sering tidak memiliki uang sepeserpun. Bila sudah begini, mereka harus puasa sehari semalam. Terkadang orang-orang meminta Holifah untuk melakukan sesuatu pekerjaan dan diberi imbalan uang.
"Saya disuruh orang cabutin uban dapat lah Rp 2.000-5.000 terus sorenya saya tawarin bapak roti untuk makan. Saya beliin roti aja uangnya. Potekan,” tuturnya penuh ketegaran.
Berbagi selembar roti dengan ayahnya sudah sangat disyukuri Holifah. Karena di hari berikutnya, belum tentu dia bisa makan roti lagi. Bisa jadi dia tidak makan apapun di hari berikutnya.
Holifah sangat menghormati ayahnya. Meski sakit, ayahnya tetap bekerja keras agar mereka berdua tetap bisa bertahan hidup. Ayahnya menderita infeksi pada telapak kaki akibat terjatuh saat mengangkut sampah.
"Dia bilangnya masuk angin, padahal saya tahu bukan karena itu, dari dulu kakinya bengkak, mata kakinya sudah pecah. Sudah parah banget, tapi saya salut sama bapak, dia kuat banget," ucapnya menahan sedih.

Sejak kecil Holifah tinggal dengan ayahnya. Ibu Holifah sudah sejak lama meninggal.
Bagaimanapun juga, Holifah tetaplah remaja biasa. Dia punya cita-cita yang ingin diraih. Dengan keadaan seperti saat ini, Holifah tetap giat sekolah.
Letak sekolahnya, SMA YMIK 2 tidak jauh dari tempat tinggalnya. Holifah bergaul seperti biasa. Dia dikenal sebagai siswa yang rajin.
Aku ingin jadi polisi suatu saat nanti. Jangan digusur keinginanku itu
Meskipun begitu, sebagai seorang remaja, Holifah kadang merasa malu dengan kondisi kehidupannya. Pernah dia merasa sangat putus asa, namun akhirnya sadar, hidup tetap harus dilanjutkan.
"Pernah banget dalam hati kesal sama keadaan, pingin kaya temen-temen yang lain. Hampir saya ada niatan buat bunuh diri. Sering banget saya nangis sendirian, kenapa sih nggak ada malaikat yang nemenin? Ayah, terus kenapa orang-orang baik kaya abang, sama ibu pada ninggalin Ifah?" keluhnya.
"Saya pingin kayak yang lain, yang orang tuanya sehat, punya rumah. Bingung, kalau malem saya tidur di depan MCK sana sama bapak. Saya malu, saya anak perempuan. Kaki saya suka kaku karena angin malam," ujarnya kembali sambil menitikan air mata.
Holifah sadar, tidak ada yang bisa disalahkan dengan keadaanya saat ini. Yang bisa dilakukan kini adalah mengejar cita-cita untuk kehidupan yang lebih baik.
"Anak-anaknya bapak, yang sekolah cuma aku doang, jadi aku harus bisa jadi anak bapak yang baik dan berhasil," tuturnya dengan penuh ketegasan.

Holifah punya satu cita-cita, yakni menjadi seorang polisi. Untuk itu, dia bekerja keras untuk bisa mengejar cita-citanya itu.
Semangat Holifah mengejar cita-cita sudah dimulainya dari sekarang. Dirinya mengaku sedang mengikuti beberapa Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa dan ekstrakulikuler Paskibra di sekolahnya.
"Aku ingin jadi polisi suatu saat nanti. Jangan digusur keinginanku itu,” ujarnya penuh harap.
