Jepang dan AS Sudah Evakuasi Warganya dari Wuhan, Indonesia Kapan?

Penyebaran virus corona terus meluas. Hingga saat ini, tercatat 136 orang di China meninggal karena terjangkit virus ini.
Sejumlah negara mulai mengevakuasi warganya dari Wuhan. Wuhan merupakan tempat pertama kali virus corona muncul.
Beberapa negara bahkan rela menyewa pesawat yang bertugas khusus menjemput warganya.
Jepang dan Amerika Serikat menyewa pesawat untuk mengangkut ratusan warganya yang terisolasi di Wuhan, China.
Mengutip ABC News, Rabu (29/1), pesawat sewaan yang mengangkut konsulat dan warga negara AS telah meninggalkan Wuhan. Setibanya di AS, para penumpang akan menjalani pemeriksaan medis untuk dikarantina.
Sementara dilansir AFP, pesawat yang mengangkut 206 warga Jepang sudah mendarat di Bandara Haneda, Tokyo. Petugas bandara yang mengenakan masker wajah langsung memeriksa dan membongkar barang bawaan penumpang di pesawat.
Tenaga medis yang ikut mengawal perjalanan memeriksa seluruh penumpang sebelum turun dari pesawat. Mereka diminta untuk mengisi kuesioner kesehatan.
Meski tak dikarantina, penumpang diminta untuk tetap di rumah dan menghindari kerumunan, setidaknya sampai hasil tes pemeriksaan keluar.
Adapun mereka yang tinggal di dekat Tokyo akan diizinkan untuk pulang, sementara yang tinggal lebih jauh akan dibawa ke hotel-hotel terdekat.
Begitu juga Turki. Meski tak ada warganya yang terpapar virus corona di Wuhan, tapi pemerintah Turki tetap akan mengevakuasi warganya.
Kemudian bagaimana dengan Indonesia?
Ada sekitar 243 WNI di Provinsi Hubei, beberapa di antaranya ada di Wuhan. Terkait penjemputan WNI di sana, Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, pemerintah RI saat ini masih menunggu China memberi lampu hijau untuk tim Indonesia masuk ke wilayahnya.
"Pemerintah sudah artinya sudah menyiapkan untuk melakukan evakuasi itu ya, kita sudah. Tetapi Wuhan ini sekarang ini menjadi daerah yang diisolasi sehingga tidak boleh ada orang masuk dan tidak boleh ada yang keluar," kata Ma'ruf di Kantor Wapres, Jakarta Pusat, Rabu (29/1).
"Jadi akibatnya semuanya masih menunggu sikap pemerintah Tiongkok. Bahkan yang dari Jepang yang sudah kirim pesawat pun belum bisa dievakuasi," lanjut dia.
Sementara, Presiden Jokowi mengatakan, pemerintah memikirkan opsi evakuasi WNI. Namun, opsi evakuasi terhambat karena kota-kota di China yang terjangkit virus corona masih terkunci.
"Tentu saja pemerintah memiliki opsi untuk evakuasi tetapi sekali lagi, kota-kota itu masih dikunci," kata Jokowi di Puskesmas Kota Cimahi, Jawa Barat, Rabu (29/1).
Jokowi tak bosan-bosan mengatakan, yang terpenting saat ini adalah kewaspadaan dan kehati-hatian WNI di China. Dia memastikan komunikasi KBRI dengan WNI di China berjalan baik.
"Yang paling penting komunikasi antara KBRI dan mahasiswa dan masyarakat yang ada di sana selalu terjalin dengan baik," sebutnya.
Lebih lanjut, Jokowi mengatakan, pemerintah juga segera memikirkan pengiriman logistik kepada WNI.
"Ini nanti mungkin dalam empat sampai lima hari baru urusan logistik yang akan dicarikan solusinya," ujarnya.
Jubir Presiden Joko Widodo, Fadjroel Rachman, mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan KBRI Beijing terkait situasi WNI di sana. Namun hingga saat ini, evakuasi belum bisa dilakukan karena pemerintah China masih menutup akses ke Wuhan.
"Berdasarkan surat yang kami terima, di sana tertulis bahwa mereka tidak boleh keluar dan orang lain tidak boleh masuk ke sana. Dan itu yang dikerjakan dari KBRI Beijing untuk melakukan hubungan dengan mereka," kata Fadjroel di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (29/1).
Fadjroel menegaskan bahwa Presiden Joko Widodo berkomitmen agar tidak ada WNI yang tertinggal di sana.
"Menkes sudah buat pernyataan, Menhub juga sudah buatkan sebuah pencegahan, pariwisata juga. Mudah-mudahan dalam segera seperti dinyatakan presiden bahwa pemerintah sangat memberi perhatian kepada WNI di mana pun tidak terkecuali," tuturnya.
"Ini jadi perhatian yang sangat serius dari presiden karena kita tidak ingin meninggalkan seorang pun WNI di mana pun," tegasnya.
