Jepang Diterjang Reaksi Keras China atas Pembuangan Limbah Nuklir Fukushima

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lokasi penyimpanan air olahan di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi di kota Okuma, prefektur Fukushima, Jepang. Foto: Kyodo via Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Lokasi penyimpanan air olahan di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi di kota Okuma, prefektur Fukushima, Jepang. Foto: Kyodo via Reuters

Keputusan pemerintah Jepang membuang air limbah nuklir dari PLTN Fukushima Daiichi ke Samudra Pasifik pada pekan lalu telah menimbulkan pertikaian baru dengan China.

Gelombang caci maki dan intimidasi โ€” baik di dunia nyata maupun media sosial, ditujukan kepada warga Jepang, hingga mendorong pemanggilan Duta Besar China di Tokyo.

Dikutip dari CNN, beberapa video di media sosial memperlihatkan berbagai perusahaan dan institusi Jepang diteror melalui panggilan telepon dari kode negara China lalu berteriak: 'Mengapa Anda membuang air yang tercemar nuklir ke laut?'.

NHK melaporkan, satu pasar yang menjual makanan laut di Prefektur Fukushima pada Jumat (25/8) menerima puluhan panggilan telepon dari nomor asal China.

Keesokan harinya, Wali Kota Fukushima Hiroshi Kohata mengatakan, pihaknya telah menerima sekitar 200 panggilan telepon berisi caci maki hanya dalam periode dua hari.

Banyak lokasi lain di sekitar kota, sambung Kohata, yang mengalami kejadian serupa โ€” termasuk sekolah-sekolah, restoran, hotel, dan lainnya.

"Banyak dari mereka berasal dari +86 [kode negara China] dan dalam bahasa Mandarin," ungkap Kohata dalam postingannya di Facebook.

Warga Korea Selatan ikut dalam protes terhadap pembuangan air radioaktif yang telah diolah oleh Jepang dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima yang hancur ke Samudra Pasifik, di Seoul, Korea Selatan, Sabtu (26/8/2023). Foto: Kim Hong-Ji/REUTERS

"Selain kerusakan yang disebabkan oleh kecelakaan nuklir, Fukushima juga dibebani dengan dampaknya. Kami menuntut agar pemerintah diberi tahu tentang situasi ini sesegera mungkin dan mengambil tindakan," tambahnya.

Selain itu, pada Kamis (24/8) ketika pembuangan air limbah tahap pertama mulai dilakukan, serangkaian kekerasan oleh pihak China di lokasi-lokasi yang berkaitan dengan Jepang pun turut terjadi.

NHK melaporkan, sebuah batu telah dilemparkan ke halaman sekolah Jepang oleh orang tak dikenal di Kota Qingdao, Provinsi Chandong, China, ketika pembuangan air limbah dimulai.

Keesokan harinya, beberapa telur dilemparkan ke sebuah sekolah Jepang di Kota Suzhou, Provinsi Jiangsu, China.

Kedutaan Besar Jepang Ikut Diserang

Meski demikian, menurut Kementerian Luar Negeri Jepang bukan hanya perusahaan dan institusi publik yang disasar oleh amarah warga China. Lembaga-lembaga yang mewakili pemerintah Jepang di China, kata mereka, juga dihujani caci maki dan diintimidasi.

Ketegangan ini memicu Kementerian Luar Negeri Jepang memanggil Duta Besar China atas pada Senin (28/8) atas serangkaian teror dan intimidasi tersebut.

"Kami mendesak Beijing untuk segera mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegah situasi meningkat dan untuk menghindari penyebaran informasi yang tidak akurat tentang pembuangan air limbah tersebut," jelas mereka.

Petugas keamanan berjaga di luar kedutaan Jepang di Beijing, Selasa (29/8/2023). Foto: Pedro Pardo/AFP

Namun, tampaknya imbauan Jepang tidak dihiraukan oleh pihak China โ€” yang justru melayangkan kecaman balik. Kekerasan dari pihak China pun masih berlanjut.

Menteri Luar Negeri Jepang Yoshimasa Hayashi pada Selasa (29/8) mengkonfirmasi adanya serangan yang menyasar ke Kedutaan Besar Jepang di Beijing berupa lemparan batu bata.

Seorang juru bicara Kedutaan Besar Jepang di Beijing mengaku, para stafnya merasa ketakutan dan khawatir atas keselamatan mereka di tengah intimidasi oleh warga setempat.

"Beberapa orang telah mendatangi pintu masuk [kedutaan] kami," ungkapnya.

"Mereka melakukan tindakan semacam ini dan kemudian digiring menjauh oleh polisi bersenjata," sambung dia.

Di samping itu, Kedutaan Besar Jepang di Beijing bahkan telah mengeluarkan peringatan kepada warganya yang tinggal di Negeri Tirai Bambu untuk menjaga perilaku.

"Mereka diimbau untuk tidak berbicara bahasa Jepang dengan keras saat berada di tempat umum dan untuk berhati-hati dalam berbicara dan berperilaku," bunyi peringatan tersebut.

kumparan post embed