Kedubes Jepang di Beijing Dilempar Batu Bata Imbas Protes soal Limbah Fukushima

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas keamanan berjaga di luar kedutaan Jepang di Beijing, Selasa (29/8/2023). Foto: Pedro Pardo/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Petugas keamanan berjaga di luar kedutaan Jepang di Beijing, Selasa (29/8/2023). Foto: Pedro Pardo/AFP

Pemerintah Jepang melaporkan bahwa gedung kedutaannya di Ibu Kota China, Beijing, dilempari batu bata. Selain itu, Jepang juga mengaku khawatir atas meningkatnya intimidasi yang diterima warga Jepang di China belakangan ini.

Ketegangan bermula sejak Tokyo mulai membuang air limbah nuklir radioaktif dari PLTN Fukushima Daiichi ke Samudra Pasifik pekan lalu — yang memicu protes dari beberapa pihak, termasuk China.

Dikutip dari AFP, laporan mengenai serangan terhadap Kedutaan Besar Jepang di Beijing dilaporkan oleh Menteri Luar Negeri Yoshimasa Hayashi pada Selasa (29/8).

"Ini sangat disesalkan dan mengkhawatirkan," kata Hayashi kepada wartawan di Ibu Kota Tokyo.

Hayashi kemudian kembali menggaungkan seruan dari Perdana Menteri Fumio Kishida yang ditujukan kepada China, agar bisa membantu 'menenangkan' ketegangan di kalangan warganya.

"Kami ingin mendesak pemerintah China untuk segera mengambil tindakan yang tepat, seperti meminta warganya untuk bertindak dengan tenang untuk mencegah situasi meningkat, dan mengambil semua tindakan yang memungkinkan untuk memastikan keselamatan warga Jepang dan misi diplomatik kami di China," jelas Hayashi.

Menteri Luar Negeri Jepang Yoshimasa Hayashi memberikan keterangan pers di Korea, di Tokyo, Senin (6/3/2023). Foto: Kyodo/via REUTERS

Diplomat ini kemudian mendesak agar pemerintah China dapat memberikan informasi yang sesungguhnya tentang pembuangan limbah nuklir Fukushima — bahwa proses itu aman, sesuai dengan prosedur internasional.

"[Hal tersebut lebih baik] daripada secara tidak perlu meningkatkan kekhawatiran masyarakat dengan memberikan informasi tanpa dasar ilmiah," terang Hayashi.

Seorang juru bicara Kedutaan Besar Jepang di Beijing mengaku, para stafnya merasa ketakutan dan khawatir atas keselamatan mereka di tengah intimidasi oleh warga setempat.

"Beberapa orang telah mendatangi pintu masuk [kedutaan] kami," ungkapnya. "Mereka melakukan tindakan semacam ini dan kemudian digiring menjauh oleh polisi bersenjata," sambung dia.

Respons China

Ketika ditanya tindakan apa yang akan diambil Beijing sehubungan aksi pelemparan batu bata ini, Kementerian Luar Negeri China justru berpendapat bahwa kekhawatiran yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang wajar dirasakan warga.

"China selalu melindungi keselamatan dan hak-hak yang sah serta kepentingan orang asing di China, sesuai dengan hukum," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin.

Lokasi penyimpanan air olahan di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi di kota Okuma, prefektur Fukushima, Jepang. Foto: Kyodo via Reuters

Selanjutnya, Wang kemudian mengulangi kecaman China atas keputusan Jepang membuang limbah nuklir dari PLTN Fukushima Daiichi. Apalagi, kata Wang, keputusan itu diambil Jepang tanpa berkonsultasi dengan negara tetangga.

"Kami sangat mendesak pihak Jepang untuk menghadapi kekhawatiran yang sah dari semua pihak, segera menghentikan pembuangan air yang terkontaminasi nuklir ke laut, sepenuhnya berkonsultasi dengan negara-negara tetangganya dan pemangku kepentingan lainnya, dan dengan sungguh-sungguh membuang air yang terkontaminasi nuklir dengan cara yang bertanggung jawab," sambung Wang.

Jepang mulai membuang satu juta metrik ton air limbah radioaktif dari PLTN Fukushima Daiichi yang sudah hancur ke perairan Samudra Pasifik sejak Kamis (24/8).

Warga Korea Selatan ikut dalam protes terhadap pembuangan air radioaktif yang telah diolah oleh Jepang dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima yang hancur ke Samudra Pasifik, di Seoul, Korea Selatan, Sabtu (26/8/2023). Foto: Kim Hong-Ji/REUTERS

Meski menurut Badan Pengawas Nuklir PBB (International Atomic Energy Agency/IAEA) memastikan limbah radioaktif tersebut tak berbahaya, tetapi langkah Jepang tetap menuai kecaman keras dari China, Korea Selatan, dan kekhawatiran meluas dari para nelayan lokal.

Sebelumnya, China sempat mengecam langkah Jepang dan menyebutnya sebagai tindakan 'egois dan tidak bertanggung jawab'.

kumparan post embed