Jepang Janji Tak Akan Ulangi Tragedi Perang Dunia II

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota gerakan nasionalis "Ganbare Nippon" yang memegang bendera Jepang berbaris di dekat kuil Yasukuni saat memberikan penghormatan kepada korban tewas perang pada peringatan 75 tahun penyerahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua di Tokyo, Jepang, Foto: Issei Kato/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Anggota gerakan nasionalis "Ganbare Nippon" yang memegang bendera Jepang berbaris di dekat kuil Yasukuni saat memberikan penghormatan kepada korban tewas perang pada peringatan 75 tahun penyerahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua di Tokyo, Jepang, Foto: Issei Kato/REUTERS

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe memberikan pidatonya dalam memperingati 75 tahun menyerahnya Jepang pada Perang Dunia II. Dalam pidatonya, Abe berjanji tidak akan mengulangi tragedi perang dan Kaisar Naruhito mengungkapkan "penyesalan yang mendalam" atas perang masa lalu, yang masih menghantui Asia Timur.

"Tidak akan mengulangi tragedi perang. Kami akan terus berkomitmen pada janji yang tegas ini," kata Abe, Sabtu (15/8).

Abe, yang tidak mengucapkan penyesalan seperti yang dilakukan Naruhito, mengirimkan persembahan ritual ke Kuil Yasukuni untuk korban perang. Namun, dia menghindari kunjungan langsung karena akan membuat marah China dan Korea Selatan.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe saat konferensi pers di Tokyo, Jepang. Foto: Akio Kon/Pool via REUTERS

Dilansir dari Reuters, Presiden Korsel Moon Jae-in mengatakan dalam pidatonya di Seoul bahwa akan selalu siap untuk mendiskusikan perselisihan sejarah dengan Tokyo.

Selain itu, ada empat menteri kabinet yang datang memberikan penghormatan ke Kuil Yasukuni. Di kuil itu, ada 14 pemimpin Jepang yang dinyatakan bersalah sebagai penjahat perang oleh pengadilan Sekutu, termasuk para korban perang. Bagi Beijing dan Seoul, kuil itu adalah simbol agresi militer Jepang di masa lalu.

Anggota Partai Demokrat Liberal, Shuichi Takatori, mengatakan bahwa dia telah membuat persembahan atas nama Abe sebagai pemimpin partai, menyampaikan pesan Abe bahwa, "dia memberikan penghormatan dari hati untuk korban perang dan berdoa agar jiwa mereka beristirahat dalam damai".

Abe belum pernah mengunjungi Kuil Yasukuni lagi sejak kunjungan Desember 2013 yang membuat murka China dan Korea Selatan.

Anggota gerakan nasionalis "Ganbare Nippon" yang memegang bendera Jepang berbaris di dekat kuil Yasukuni saat memberikan penghormatan kepada korban tewas perang pada peringatan 75 tahun penyerahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua di Tokyo, Jepang, Foto: Issei Kato/REUTERS

Menteri Lingkungan Shinjiro Koizumi, yang sering disebut sebagai calon perdana menteri, juga merupakan salah satu menteri yang mengunjungi kuil itu hari ini.

Korsel Kecewa 4 Menteri Jepang Kunjungi Kuil Yasukuni

Juru bicara Kemenlu Korsel menyatakan "kekecewaan dan keprihatinan yang mendalam" atas kunjungan para menteri, dan mengatakan para pemimpin Jepang harus menunjukkan "penyesalan yang mendalam melalui tindakan".

Dalam kesempatan itu, ada ribuan pria dan wanita yang berkumpul melawan panas terik di tengah pandemi COVID-19 memberikan penghormatan di Kuil Yasukuni. Banyak dari mereka yang berdiri lama dalam antrean dan memegang payung untuk menghalau panasnya matahari di atas 35 derajat celcius.

"Saya berharap kerusakan akibat perang tidak akan terulang lagi," kata Kaisar Naruhito dalam upacara resmi bersama Permaisuri Masako.

Saat ini, Amerika dan Jepang telah menjadi sekutu keamanan yang kuat dalam beberapa dekade terakhir setelah perang. Namun, warisannya masih menghantui Asia Timur.

Di antaranya adalah Korea, yang baru saja merayakan Hari Pembebasan Nasional, membenci penjajahan Jepang pada 1910-1945. China juga memiliki kenangan pahit atas invasi militer dan pendudukan pasukan kekaisaran pada 1931-1945.

"Kita harus belajar dari sejarah, biarkan sejarah menjadi peringatan untuk masa depan, dan tunjukkan bahwa kita siap untuk berperang jika terjadi perang," tulis surat kabar resmi militer China, Tentara Pembebasan Rakyat.

Anggota gerakan nasionalis "Ganbare Nippon" yang memegang bendera Jepang berbaris di dekat kuil Yasukuni saat memberikan penghormatan kepada korban tewas perang pada peringatan 75 tahun penyerahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua di Tokyo, Jepang, Foto: Issei Kato/REUTERS

Hubungan Jepang dan Korea Selatan, khususnya, selalu menegang karena perselisihan kompensasi untuk warga Korea yang dipaksa bekerja di tambang dan pabrik pada masa perang Jepang.

"Pintu negosiasi masih terbuka lebar," kata Moon dalam pidatonya di Seoul.

Hubungan kedua negara juga sering tegang karena banyak wanita Korea yang dipaksa bekerja sebagai comfort women di rumah bordil Jepang.

Konsensus atas perang tetap sulit dipahami di Jepang karena 80 persen warganya lahir setelah perang berakhir.

embed from external kumparan

Abe bahkan menyebut generasi penerus tidak perlu terus menerus meminta maaf atas masalah di masa lalu.

Salah seorang pengunjung di Kuil Yasukuni, Nobuko Watanabe, mengatakan memahami mengapa warga Korea membenci kunjungan ke sana, namun menyebut hubungan kedua negara dapat membaik.

"Ketika mereka berbicara satu dengan yang lain.... kita dapat berkomunikasi dan membuka hati kita satu dengan yang lain," ujarnya.

Setidaknya kurang dari 600 orang, termasuk keluarga korban perang, yang ambil bagian dalam peringatan hari ini. Acara yang biasanya dihadiri lebih dari 6.000 orang tahun lalu ini harus mengikuti anjuran social distancing karena pandemi corona.