JK di Konferensi Dunia di Belgia: Damai adalah Dasar Interaksi Sosial Umat Islam
·waktu baca 4 menit

Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) menghadiri konferensi tentang perdamaian dunia di kota Brussel, Belgia, Kamis (19/10). Pada kesempatan itu, JK menjadi pembicara utama.
Wapres RI yang ke-10 dan 12 itu berbicara di hadapan para mediator dan calon mediator perdamaian dari berbagai negara dan organisasi internasional.
Di kesempatan itu, berbicara tentang perdamaian dalam perspektif Islam. Menurut dia, jangan pernah lagi bertanya tentang ajaran Islam mengenai perdamaian.
"Setiap kita bertemu orang, selalu kita awali dengan assalamualaikum. Salam damai.” Ini berarti, dalam kehidupan social itu, damai adalah dasar untuk melakukan interaksi social. Damai adalah fondasi aktivitas keseharian bersama dengan orang lain," kata JK.
Orang Islam itu, lanjut dia, melakukan kewajiban salat 5 kali dalam sehari. Setiap salat, diakhiri dengan salam dua kali, yakni sekali menghadap ke kanan, dan sekali menghadap ke kiri.
"Berarti, ada minimal sepuluh kali minimal, orang Islam itu memberi salam damai. Salam ke kiri dan kanan, bermakna sapaan kepada yang lain secara damai. Jadi apa yang mau disoal lagi," tuturnya.
JK pun mempertanyakan kenapa Islam dipersepsikan sebagai agama yang tidak toleransi.
"Mengapa islam dipersepsikan sebagai agama yang anti toleransi dan cenderung menggunakan dan menghalalkan cara-cara kekerasan? itu semua karena kita memberi penilaian dan persepsi secara subjektif belaka,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, JK juga menyinggung saat Uni Soviet menginvasi dan mengokupasi Afghanistan selama sepuluh tahun. Rakyat Afghanistan bersama pelbagai bangsa lain, terutama Amerika Serikat, saling membantu mengusir Uni Soviet. Para Mujahidin itu digelar sebagai pahlawan, termasuk gelar tersebut diberikan oleh Amerika Serikat.
Namun, ketika Amerika Serikat menyerbu ke Irak karena kesalahan informasi, rakyat Irak yang melawan dilabel sebagai teroris. JK pun mempertanyakan di mana letak keadilannya.
"Di mana letak keadilan dari perspektif ini? Begitu juga ketika kekuatan barat menyerbu, menghantam Syria dan Libya, semua lantaran perspektif teroris, minimal merek dicap sebagai ekstremist. Mereka melawan kekuatan hegemoni karena mereka mempertahankan kedaulatan mereka. Perlawanan mereka adalah ikhtiar untuk mempertahankan milik dan martabat mereka," ujarnya.
"Kita harus objektif melihat kondisi kekinian dan masa lalu yang pernah ada. Paham ekstremisme itu, bukan monopoli Islam. Paham dan praktik ekstremisme juga ada di Kristen, Hindu dan Buddha," sambungnya.
"Tatkala para penjajah dari barat memorak porandakan sendi-sendi kehidupan di Afrika dan Asia, negara-negara Islam yang mereka jajah itu, tidak pernah mengatakan bahwa negara mereka dijajah oleh kolonialisme Kristen atau Katolik. Mereka mengutuk kolonialisme itu dengan label nama negara, misalnya Inggris, Prancis dan Spanyol. Ini menunjukkan bahwa negara-negara Islam sangat menghormati agama lain. Tidak mau sembarang melabeli, karena faktanya memang, yang melakukan kolonialisme itu adalah nama negara dan bangsa," katanya lagi.
Lebih jauh, Jusuf Kalla menguraikan, Islam yang masuk ke Indonesia, adalah islam yang dibawa oleh pada saudagar Arab. Karena itu, sangat rasional. Sangat toleran karena saudagar itu selalu mencari sahabat, bukan mencari musuh.
Berdasarkan itu semua, JK menilai, ada semacam ketidakadilan dalam membangun perspektif untuk menilai Islam di dunia sekarang ini, dan harus dihentikan. Semua konflik yang terjadi sekarang, terutama yang dialami oleh negara atau masyarakat islam, bukanlah konflik agama, tetapi masalah ketidakadilan ekonomi, sosial dan politik.
"Ini yang harus dibereskan. Jangan berbicara tentang ajaran islam melulu. Kondisi Islam yang harus dibenahi," terangnya.
Dalam forum dan sesi yang sama, selaku peserta konferensi, Hamid Awaludin, mantan Menteri Hukum dan HAM, berbicara tentang persepsi keliru mengenai diskriminasi dan pemarjinalan perempuan di masyarakat Islam.
"Banyak orang yang gagal paham mengenai ini. Ajaran islam mengenai perempuan sangat jelas," kata Hamid, sembari mengutip Hadis Nabi: “Surga terletak di bawah kaki Ibu” Ini adalah sebuah sikap tegas Islam bagaimana perempuan itu diberi tempat paling berharga. Surga itu kan tujuan semua orang yang beragama. Dan surga berada pada Ibu," lanjut Hamid lagi.
Hamid mengatakan, masalah persepsi keliru mengenai ajaran Islam yang dinilai sangat diskriminatif terhadap perempuan, itu bergantung pada proses evolusi sejarah masyarakat Islam.
Kata dia, di masyarakat tradisional yang pola hidupnya adalah memburu atau Bertani, di situ terjadi pembagian kerja (division of labor) yang sangat ekstrem antara tugas kaum pria dan tugas kaum perempuan. Pembagian kerja yang ekstrem tersebut acapkali dipersepsikan sebagai diskriminatif dan tidak adil. Ini proses sejarah dan adat, bukan soal ajaran Islam.
"Namun, bila kita melihat masyarakat Islam sekarang yang masuk dalam kategori industry, atau setidaknya bukan negara agraris, pembagian kerja yang ekstrem itu tidak lagi dikotomis, tetapi saling melengkapi. Nah, dalam konteks inilah seyogyanya kita arif menyikapi agenda diskriminasi perempuan dalam perspektif Islam," tegas Hamid Awaludin.
