JK hingga Anies Hadiri Peresmian Kampus Nurcholish Madjid Universitas Paramadina
·waktu baca 4 menit

Universitas Paramadina telah meresmikan Kampus Cipayung, Jakarta Timur. Mereka juga meresmikan Gedung Nurcholish Madjid - diambil dari nama seorang cendekiawan muslim terkemuka sekaligus Rektor Paramadina 1998-2005.
Peresmian kampus ini dihadiri langsung oleh Rektor Paramadina Didik J. Rachbini, mantan Rektor Paramadina Anies Baswedan, hingga mantan Wakil Presiden sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Wakaf Paramadina Jusuf Kalla (JK). Selain itu, istri Nurcholish Madjid, Omi Komaria, juga hadir untuk peresmian gedung baru kampus swasta ini.
Di dalam sambutannya, JK menyebut bahwa semangat Nurcholish Madjid atau akrab disapa Cak Nur sangat penting untuk diteruskan. Menurut JK, Cak Nur merupakan seorang cendekiawan Islam yang bertoleransi tinggi dan berteman dengan seluruh lapisan tanpa pandang bulu.
“Kita harus melihat ini sebagai membangun intelektualisme kecendekiawanan yang baik. Bisa saja orang cendekiawan, tapi pikirannya tidak menuju ke situ. Karena itulah harus dijaga visi, misi sejak awal dan intelektualisme yang baik. Memang harus dibangun seperti itu,” ucap JK di acara peresmian di Gedung Nurcholish Madjid, Kamis (27/8).
“Kita di Indonesia perlu lebih banyak lagi yang berbicara dengan dasar itu. Tidak dengan dasar emosi, tidak dengan dasar suatu hal yang ekstrem. Jadi jangan saja dikenal, jangan-jangan kita Islam yang dengan radikal,” tambah JK yang juga Ketum Dewan Masjid Indonesia ini.
Menurut JK, pemikiran Islam yang radikal merupakan idealisme yang bertolak belakang dengan Paramadina.
“Sama sekali ini bertolak belakang dengan ide itu di universitas ini. Itulah sehingga tadi bagaimana Pak Nurcholish, almarhum, menjaga itu. Dan kita meneruskan ide-ide itu,” ucap JK.
“Supaya menjadi bahagia daripada pembangunan bangsa, moral bangsa. Cita-cita bangsa yang sebaik-baiknya, Di samping intelektualisme, kecendekiawanan yang baik,” tambahnya.
Islam yang Terbuka dan Modern
Di sisi lain, istri Cak Nur, Omi, menekankan paham tentang Islam yang terbuka dan modern. Menurutnya, paham itu adalah landasan semangat Universitas Paramadina.
“Melalui institusi pendidikan tinggi, Cak Nur menitipkan pesan agar kita menumbuhkan paham keislaman yang terbuka dan modern yang menopang perwujudan cita-cita nasional Indonesia yang adil, terbuka, dan demokratis, sesuai dengan amanah para pendiri bangsa,” ucap Omi.
“Itu berarti juga bahwa seluruh sivitas akademika Universitas Paramadina terpanggil untuk ikut serta dalam mendorong tumbuhnya masyarakat Indonesia yang terbuka dan demokratis,” tambahnya.
Suntikan Berbagai Dermawan
Gedung Nurcholish Madjid memiliki 8 lantai. Menurut Rektor Paramadina, Didik J. Rachbini, pembangunan gedung ini memakan biaya awal sekitar Rp 35 miliar. Awalnya, mereka tak punya dana yang dibutuhkan, hingga akhirnya mendapat suntikan dana dari berbagai perusahaan.
“Alhamdulillah ini terwujud, ya. Terima kasih kepada dermawan,” ucap Didik yang dikenal sebagai ekonom ini.
Sementara, Ketua Umum Pengurus Yayasan Wakaf Paramadina, Hendro Martowardojo, berpesan kepada para donatur agar membuka lapangan pekerjaan sebesar-besarnya untuk lulusan Paramadina.
“Jadi, di sini kebetulan di antara donatur-donatur kita, ada banyak yang punya perusahaan-perusahaan besar, mohon create employment untuk saudara-saudara kita, yang baru lulus, atau yang memang tidak sampai sekarang juga tidak ada kesempatan, mungkin itu saja dari kami,” ucap Hendro.
Peresmian kampus ini pun ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh istri almarhum Cak Nur, Didik, JK, dan Hendro.
Sekilas Universitas Paramadina
Pendirian Universitas Paramadina dimulai pada tahun 1994. Kala itu Yayasan Wakaf Paramadina dengan ketua Prof. Dr. Nurcholish Madjid dan Yayasan Pondok Mulya, yang masing-masing bergerak di bidang pendidikan, bersepakat mendirikan sebuah perguruan tinggi.
Maka, pada 10 Januari 1998 berdirilah Universitas Paramadina Mulya, yang kemudian berubah nama menjadi Universitas Paramadina. Universitas Paramadina ini diharapkan mampu:
Memperkenalkan konsep perguruan tinggi alternatif.
Menghasilkan lulusan yang mempunyai kompetensi riset dan kewirausahaan yang dijiwai etika keislaman.
Menjadi wahana pusat kebudayaan dan peradaban. Menjadi universitas yang bertaraf internasional.
Lambang Universitas Paramadina adalah kaligrafi kutipan Al-Qurân surat Al-Nisâ ayat 113 yang berarti: ”Allah menurunkan kepadamu Kitâb dan Hikmah dan mengajarkan kepadamu sesuatu yang kamu belum tahu,” dalam bentuk huruf Kâf (Kitâb) dan Hâ (Hikmah).
Substansinya adalah bahwa ilmu dapat kita peroleh melalui dua cara, yaitu kitab suci dan dengan mempelajari alam semesta. Universitas Paramadina berusaha memfasilitasi keduanya dan bersumber kepada Iman.
Universitas Paramadina memiliki tiga kampus yaitu kampus Kuningan, Jaksel; kampus Cikarang, Bekasi; dan kampus Cipayung, Jaktim.
