JLFR dan Geliat Bersepeda Tiap Jumat Akhir Bulan di Kota Yogya
ยทwaktu baca 4 menit

Yogyakarta punya cara unik mempertahankan predikatnya sebagai 'Kota Sepeda'. Salah satunya adalah menggelar acara Jogja Last Friday Ride (JLFR), sebuah acara komunitas bersepeda yang digelar setiap Jumat terakhir dalam sebuah bulan.
Belakangan, acara ini kembali viral setelah ribuan pesepeda turut bergabung pada September lalu.
Hal ini lah yang membuat Herlan tertarik. Ia mengayuh sepedanya dari Kaliurang menuju stadion Kridosono. Jaraknya tak kurang dari 10 kilometer.
"Baru pertama. Karena saya baru di Yogya (tinggal di Yogyakarta). Baru pindah," kata Herlan ditemui di kawasan Stadion Kridosono, Jumat (31/10).
Sekitar Kridosono memang kerap digunakan sebagai titik awal kumpul para pesepeda di JLFR. Hujan yang mengguyur Yogya dari siang hingga sore tak menyurutkan niat Herlan. Meski masih gerimis dia menggowes sepedanya.
"Saya penasaran. Selama ini kan sepedaan pagi aja. Ternyata ada (acara) seperti ini," terangnya.
Herlan mengatakan sepeda merupakan hobinya sejak lama. Menemukan wadah seperti ini, dia berencana akan tiap bulan mengikutinya.
"Insyaallah akan rutin," bebernya.
Sementara itu, bagi Adhi ini adalah kali kedua dia ikut JLFR.
"Sudah dua kali. Kemarin ikut. Pas ramai itu (viral)," bebernya.
Adhi mengatakan dapat informasi soal JLFR dari temannya. Lalu dia ikut bersama temannya.
"Kepo aja. Ternyata sudah lama," katanya.
Saat edisi September kemarin rute sudah ditentukan saat diumumkan admin di media sosial. Sementara hari ini rute tak diumumkan.
"Kemarin (September) lewat Janti juga terus finish di Tugu Yogyakarta. Ini belum ada info rute. Nanti spontan bareng teman-teman," bebernya.
Adhi berharap kegiatan ini bisa terus ada. "Yang penting tertib saja," bebernya.
Sudah Sejak Lama
Seto, warga Yogyakarta, mengatakan JLFR ini sudah ada sejak lama. Dia pun sempat ikut di tahun 2012 saat masih berkuliah. Dia biasanya berangkat bersama teman-temannya dari Kasihan, Kabupaten Bantul.
"Tahun 2012-an saya ikut. Jadi ada pengumuman waktu itu FB. Titik kumpulnya di mana terus datang ke situ. Rute sudah diumumkan di FB," bebernya.
JLFR ini kata Seto adalah gerakan bersama. Semua sepeda bisa ikut. Di sini juga jadi ajang menambah pertemanan.
"Sepedanya bebas. Ada yang fixie, ada BMX, ada pit duwur (sepeda tinggi) juga," katanya.
Dikutip dari situs resmi Pemda DIY, JLFR digagas pertama kali pada Mei 2010 oleh sekelompok anak muda di Alun-Alun Utara.
"Tanpa atribut, tanpa sponsor, dan tanpa biaya pendaftaran, mereka hanya punya satu kesamaan: keinginan untuk merayakan kebebasan bersepeda di jalanan kota," jelas situs Pemda DIY.
JLFR tumbuh secara organik. Mulai puluhan orang, ratusan, hingga terakhir ribuan orang.
Semakin Menggeliat
Kasat Lantas Polresta Yogyakarta AKP Alvian Hidayat mengatakan JLFR ini semakin menggeliat. Di edisi September dia mendata ada 5 ribu pesepeda yang berpartisipasi.
Untuk hari ini, jumlah pesepedanya belum bisa diprediksi karena kegiatan ini bersifat spontanitas. Jumlah yang datang tentatif.
"Kalau melihat cuaca mungkin bisa lebih sedikit dari kemarin. (September) kurang lebih sampai segitu (5 ribu pesepeda)," bebernya.
Berdasarkan kedatangan dan kepulangan pada bulan September kemarin banyak pesepeda yang datang dari awal wilayah Bantul.
Alvian mengatakan kegiatan ini sudah ada sejak masa kepemimpinan Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto. Saat itu HZ sapaan Herry mencanangkan Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe (Sego Segawe).
"Kemudian beralih jadi JLFR ini. Selama kami (bertugas) di sini antusiasnya terhitung naik dari yang sebelumnya terus terakhir kemarin," terangnya.
Alvian mengatakan personel kepolisian juga diterjunkan untuk mengatur lalu lintas agar gelaran ini tetap lancar dan pengguna jalan lain juga lancar berkendara.
"Kami dari kepolisian siap untuk pengamanan dan pengawalan kegiatan tersebut. Sehingga harapannya kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan tidak mengganggu masyarakat atau wisatawan yang lain," katanya.
Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
Di sisi lain, Polresta Yogyakarta juga menyiapkan rekayasa lalu lintas yang akan diterapkan jika peserta JLFR membeludak.
"Kita penggelaran personel di titik-titik yang sudah ada. Kemudian rekayasa lalu lintas. Jika memang ada kepadatan di satu titik kita sudah siapkan rekayasa lalu lintas," katanya.
Utamanya, menurut Alvian adalah di jalur menuju Stasiun Yogyakarta.
"Yang kemarin (edisi September) ada kepadatan dari Kridosono sampai ke arah masuk Malioboro. Otomatis arah masuk stasiun terhambat. Nanti akan kita arahkan masuk pintu timur sementara. Ada personel yang mengarahkan. Ketika memang normal bisa terkendali ya lalu lintas kita jalankan normal hanya pengaturan dan pengamanan saja," pungkasnya.
