Jokowi dan Baju Adat Baduy di Sidang Tahunan MPR/DPR
ยทwaktu baca 5 menit

Presiden Jokowi telah menghadiri dan membacakan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR, DPR dan DPD pada Senin (16/8). Namun penampilan Jokowi di sidang tahunan ini menarik perhatian.
Jokowi mengenakan pakaian adat suku baduy lengkap seperti tas, ikat kepala, dan sandal. Eks Wali Kota Solo itu mengaku cukup nyaman memakai baju adat baduy.
"Busana yang saya pakai adalah busana pakaian adat Baduy. Saya suka karena desainnya yang sederhana, simpel, dan nyaman dipakai," kata Jokowi.
Jokowi kemudian menyampaikan terima kasih kepada Ketua Adat Masyarakat Baduy, Jaro Saija, yang telah menyiapkan baju tersebut untuk dipakai pada agenda pagi ini.
"Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Jaro Saija, Ketua Adat Masyarakat Baduy, yang telah menyiapkan baju adat ini," ucap Jokowi.
Memang hampir setiap tahun, Jokowi selalu memakai baju adat dari berbagai suku ketika menghadiri sidang tahunan MPR, DPR dan DPD RI. Seperti pada 2017, Jokowi memakai baju adat Bugis. Kala itu, dia memakai Songkok Emas.
Sementara pada 2018, Jokowi tak memakai baju adat. Dia hanya memakai setelan jas formal.
Lalu pada 2019, Jokowi kembali memakai baju adat. Jokowi memakai baju adat suku Sasak dari Nusa Tenggara Barat. Pada tahun 2020, Jokowi memakai baju adat Sabu dari Nusa Tenggara Timur.
Tokoh Adat Bangga Jokowi Pakai Baju Badui di Sidang Tahunan MPR
Jaro Saija merasa bangga karena Jokowi menggunakan pakaian busana Baduy dalam Pidato Kenegaraan Sidang Tahunan Bersama MPR, DPR dan DPD di Jakarta.
Sebab penggunaan baju adat Baduy oleh Jokowi kemungkinan besar dapat membangkitkan kembali sekitar 2.000 pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) masyarakat Baduy.
Bahkan, pelaku UMKM di kawasan hak tanah ulayat tersebut menutup kegiatan usaha karena tidak lagi dikunjungi wisatawan yang biasanya datang dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi.
"Kami yakin pelaku UMKM akan dibanjiri pesanan setelah Bapak Presiden Jokowi memakai busana Baduy itu," katanya menjelaskan.
Menurut dia, sebagian besar pelaku UMKM masyarakat Baduy memproduksi aneka kerajinan tenun, batik Badui, pakaian kampret atau pangsi, selendang, suvenir atau cinderamata, kain pengikat kepala madu dan golok.
Jaro Saija, mengatakan pakaian yang dikenakan presiden merupakan baju adat yang digunakan setiap hari oleh masyarakat Baduy Luar.
Suku Baduy Dalam dikenal masih memegang teguh aturan adat dan menjalankan dengan baik, memiliki pakaian adat hitam-putih dengan ikat kepala berwarna putih.
Sementara Suku Baduy Luar dikenal sudah terpengaruh pola hidup masyarakat era modern, dan Baduy Luar memakai baju adat berwarna hitam-hitam dengan ikat kepala bermotif poleng biru.
Diungkapkan Jaro Saija, jika pakaian adat Baduy selalu menggunakan lomar atau ikat kepala, baik untuk Baduy Luar maupun Baduy Dalam. Disebutkan Jaro Saija, jika lomar atau ikat kepala memiliki makna sebuah persatuan dan kesatuan yang terikat.
KSP Ungkap Tujuan Jokowi Pakai Baju Suku Baduy
Kantor Staf Kepresidenan menjelaskan tujuan di balik pemakaian baju adat Baduy oleh Presiden Jokowi. Deputi II KSP Abetnego Tarigan menjelaskan, pemakaian baju adat Baduy sekaligus menepis stigma negatif yang selama ini menempel dalam suku Baduy.
Bapak Presiden membawa pakaian orang Baduy ini ke salah satu acara kenegaraan yang paling tinggi yaitu pidato kenegaraan artinya presiden juga bisa kita maknai memberikan pesan lupakan stigma," kata Abetnego.
"Bagaimana kita melihat dan mengakui bagaimana keberadaan saudara-saudara kita di Baduy, yang kalau secara ilmiahnya orang Kanekes," tambahnya.
Abetnego mengatakan, sudah saatnya saling menghargai dan tidak menilai negatif dari setiap suku atau budaya yang ada di Indonesia. Termasuk suku Baduy dari Banten.
"Jadi ini penting kita lihat dan banyak orang juga menyebut orang Baduy tidak ada maksud merendahkan. Saya atau orang lain dan teman-teman juga kalau ketika ditanyakan orang Kanekes belum tentu tahu. Tapi ketika dikatakan orang Baduy, mereka bisa memahami, mengenali tanpa ada keinginan merendahkan terhadap saudara-saudara kita ini," ujarnya.
Jokowi Seharusnya Turut Bawa Golok
Sekretaris Pribadi Presiden, Anggit Noegroho, mengungkapkan sebenarnya ada aksesoris lain yang rencananya dibawa Jokowi. Ini agar selaras dengan baju adat Suku Baduy.
Namun, demi memenuhi standar keamanan maka tidak diizinkan oleh Paspampres.
"Ada satu lagi aksesoris yang biasanya ada, yakni golok, namun tidak dipakai karena pertimbangan Paspampres terkait keamanan," kata Anggit.
Dia kemudian menjelaskan, tas yang dipakai Jokowi juga cukup unik. Sebab, terbuat dari serat pohon. Tas itu juga kerap dipakai oleh masyarakat Suku Baduy.
"Tas itu terbuat dari serat pohon, merupakan aksesori satu kesatuan dengan pakaian adatnya," ujarnya.
Tak hanya itu, Anggit juga menjelaskan bahwa baju hingga aksesoris yang dipakai Jokowi murni buatan Suku Baduy.
"Asli dibuat oleh masyarakat Baduy. Tanpa modifikasi apa pun. Pak Jaro Saija, Tetua Masyarakat Adat Baduy yang menyiapkan sendiri baju itu. Sebelumnya kami pesan melalui telepon, beberapa hari kemudian kami ambil," ujarnya.
Cerita di Balik Pemilihan Baju Adat Jokowi
Anggit mengatakan, setiap tahunnya sespri diminta menyiapkan pakaian adat dari daerah untuk dikenakan Jokowi dalam sidang tahunan.
Dalam tahun ini, Jokowi meminta pakaian adat yang sederhana mengingat saat Indonesia masih dilanda pandemi COVID-19.
"Seperti biasa setiap tahun, sespri diminta menyiapkan pakaian adat dari daerah-daerah. Prioritas memang dari daerah-daerah yang belum pernah ditampilkan" kata Anggit.
"Khusus untuk tahun ini, Pak Presiden minta pakaian adat yang sederhana saja, tidak terkesan festive, mengingat kondisi negara sedang menghadapi pandemi COVID-19," lanjut dia.
Anggit menuturkan, pihaknya menyiapkan 8 pakaian adat dari 5 daerah. Saat ini, sudah terpilih dua pakaian ada yang dikenakan Jokowi yakni pakaian adat Baduy. Lalu, satu pakaian adat lainnya akan digunakan saat upacara HUT ke-76 RI.
"Kami siapkan 8 pakaian adat dari 5 daerah. Dari situ dipilih 2 pakaian adat untuk pidato kenegaraan dan upacara 17 Agustus," ungkapnya.
Terkait pemilihan pakaian adat Baduy, kata dia, pakaian adat ini memiliki desain yang sederhana dan nyaman dipakai. Selain itu, baju adat Baduy juga memiliki makna tentang kesederhanaan dan kemandirian.
***
Saksikan video menarik di bawah ini:
