Jurnalis Republika Diduga Diculik Israel: Kapal Global Sumud Flotilla Dicegat
ยทwaktu baca 3 menit

Pelayaran kapal-kapal kemanusiaan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) kembali mendapat rintangan. Kali ini, ada dua kapal GSF yang dicegat, yakni kapal Borales dan Osgurluk.
Di kapal itu, ada sejumlah WNI. Dua di antaranya adalah jurnalis Republika Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai (Ody). Republika pun sudah memuat berita "Laporan Terakhir Jurnalis Republika Sebelum Diculik IDF".
"Jadi sejak sekitar pukul tiga dini hari sampai jam empat, karena pada saat itu baik Abeng maupun Ody bilang, oke kita sudah di perairan bebas, di perairan internasional. Jadi dari tim Global Sumud Flotilla internasionalnya bilang kalau sudah di perairan internasional di Laut Mediterania, itu besar kemungkinan kapal Israel bisa intercept (cegat) lebih cepat," kata Wakil Pimpinan Redaksi Republika, Stevy Maradona, Senin (18/5).
Pihak Republika lalu memantau keberadaan kapal jurnalisnya itu. Sekitar pukul 11.oo WIB, kapal yang ditumpangi Abeng memunculkan peringatan adanya kapal perang yang melintas di dekat mereka.
Lalu, pada pukul 14.00 WIB, Abeng mengirimkan video SOS. Video ini berisi narasi bahwa ia ada dalam posisi ditahan otoritas Zionis Israel, dan meminta pemerintah untuk membebaskannya.
Video itu tidak dibuat saat itu. Melainkan video protokol, yang harus dibuat oleh para peserta atau penumpang GSF, menghadapi situasi rawan.
"Oke, Abengnya sudah kirim video SOS bahwa ada kemungkinan, karena sudah melihat ada perahu mendekat maupun apa, jadi dia kirim video SOS. Jadi memang ada protokolnya yang sudah dilatih dari Global Sumud Flotilla Internasional," kata Stevy.
Namun, Stevy belum mendapat video dari Ody. Ia juga mengisyaratkan bahwa ada orang Indonesia lain, sesama jurnalis yang juga dicegat Israel.
"Yang kita tunggu justru yang dari Ody, sama yang dari Andre, sama yang dari tiga orang lagi, karena sampai sekarang kita belum dapat video SOS-nya mereka," ucap Stevy.
Permintaan Bantuan dari Kapal
Sementara itu, di jaringan grup WhatsApp para peserta GSF mengkonfirmasi pencegatan dan penculikan ini.
Dari grup itu, beredar pesan agar semua teman, keluarga hingga pejabat pemerintahan mengambil sikap untuk memastikan keselamatan mereka.
"Contact your embassies, consulate, elected officials, and governments. Demand urgent intervention to protect the participants, crew, and volunteers. Confirm their safety, secure legal and consular access, and uphold their rights," kata Stevy membacakan pesan dari grup tersebut.
Belum Bisa Pastikan Posisi Abeng dan Ody
Stevy juga belum bisa memastikan posisi Abeng dan Ody. Apakah Abeng tertahan di kapal, atau dibawa ke Israel.
"Yang kita masih pertanyakan adalah, ketika di-intercept, apakah orangnya stay di kapal, hanya stay di situ, atau dibawa ke kapal perangnya, stay di kapal perangnya, atau dibawa ke kapal perang, ataupun dibawa dengan kapal kecilnya, ditarik sampai ke wilayah Israel, atau pulau terdekat, atau ke Turki, dibalikin atau apa," kata Stevy.
Ia juga sudah membuka kontak kepada Kemlu. Namun belum ada jawaban pasti.
"Kalau dari kantor sih dalam 2 jam terakhir kita terus kontak-kontakan sama Kemlu-nya juga. Cuma memang kita ngerti susahnya karena nggak ada di lapangan. Dan kita juga ngerti bahwa di kapal pun dari teman-teman di mana, teman-teman relawan juga, mereka udah ada protokol," tutup Stevy.
