Kafe dan Tempat Kos Jadi Tempat Berkembangnya LGBT di Depok

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warna pelangi, lambang LGBT. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Warna pelangi, lambang LGBT. (Foto: Wikimedia Commons)

Dinas Sosial Kota Depok membentuk Tim Pembinaan Terpadu untuk menangkal maraknya Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Beberapa tempat akan menjadi sasaran pemantauan dan pembinaan Pemkot Depok.

Kepala Dinas Sosial Kota Depok Ahmad Safrawi mengatakan, pihaknya banyak mendapat masukan dari kelompok pemerhati LGBT yang bermitra dengan Pemkot Depok. Dari laporan itu, kaum LGBT banyak berkumpul dan berkembang di kafe dan indekos.

"Masukan dari pemerhati kepada kita, dicurigai perilaku menyimpang itu banyak dilakukan di kos-kosan dan kafe," kata Kepala Dinas Sosial Kota Depok Ahmad Safrawi, saat di temui kumparan (kumparan.com) di kantornya, Jalan Margonda Raya, Depok, Selasa (20/2).

Safrawi memang kesulitan menembus kedua tempat yang diduga menjadi lokasi kaum LGBT beraktivitas. Karena itu, Pemkot Depok bekerja sama dengan Lembaga Konsultasi Ketahanan Keluarga (LK3) untuk masuk ke komunitas LGBT dan membina mereka.

"Dalam LK3 itu ada mantan pelaku LGBT yang sudah kembali. Dialah yang bisa mengajak kenalannya yang masih berperilaku lain itu," jelasnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Depok, Ahmad Kafrawi. (Foto: Adhim Mugni Mubaroq/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Dinas Sosial Kota Depok, Ahmad Kafrawi. (Foto: Adhim Mugni Mubaroq/kumparan)

Safrawi juga meminta kerja sama dari para pemilik indekos di Depok untuk ikut mencegah terjadinya perilaku LGBT. Mengingat, pertumbuhan indekos di Depok cukup tinggi seiring banyaknya kampus di wilayah ini.

"Memang kalau lihat di Depok ini kan, banyak kos-kosan. Terus pertumbuhan universitas di sini khusus di Margonda, itu mungkin semua pihak harus mengawasi, pemilik kosan harus bikin aturanlah, menggunakan kosan sesuai dengan fungsinya," tutur dia.

Safrawi menyebut, kaum LGBT di Depok lebih banyak berisi mahasiswa baik warga asli maupun pendatang. Dia mengimbau agar ada aturan yang menerangkan warga atau pemilik indekos sama-sama mencegah penyebaran LGBT.

"Kita minta agar semua pihak menghormati budaya, etika. Selama ini kalau surat edaran tertib ada, artinya setiap ada tamu harus lapor, itu normal, tapi edaran ke pemilik kosan secara khusus terkait LGBT belum," tuturnya.

Imbauan masyarakat Depok tentang LGBT. (Foto: dok. Pemkot Depok)
zoom-in-whitePerbesar
Imbauan masyarakat Depok tentang LGBT. (Foto: dok. Pemkot Depok)

Di sisi lain, Safrawi juga mengapresiasi warga yang sudah menyadari keberadaan dan bahaya LGBT di lingkungan mereka. Berbagai imbauan juga dibuat sendiri oleh warga.

"Spanduk larangan LGBT di Depok sudah banyak di daerah di Depok," ucap dia.