KAI Minta Calon Penumpang Waspadai Joki dan Tiket Palsu

Masyarakat yang menggunakan kereta api sebagai transportasi untuk pulang ke kampung halaman semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah penumpang pengguna kereta api.
Berdasarkan data keberangkatan yang dirilis PT Kereta Api Indonesia (KAI), jumlah penumpang yang sudah terangkut di Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung mencapai 526.342 penumpang atau meningkat 8 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Kabar ini memang menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan karena momen ini bisa saja dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab yang ingin mencari keuntungan dari momen mudik Lebaran ini.
"Tingkat keterisian yang tinggi ini menjadikan tiket kereta api benda yang banyak dicari masyarakat. Tentu hal ini dimanfaatkan juga oleh oknum yang ingin mengeruk keuntungan dari antusiasme yang tinggi tersebut," kata Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, Joni Martinus melalui keterangan tertulisnya, Senin (26/6).
Tindakan tidak bertanggung jawab yang dilakukan oleh sebagian masyarakat itu pun berhasil dideteksi petugas kereta api di Stasiun Pasar Senen pada Jumat (23/6) yang lalu. Petugas PT KAI Stasiun Senen berhasil menggagalkan upaya pemalsuan tiket boarding pass yang menimpa 9 calon penumpang KA Kutojaya Utara tujuan Pasar Senen - Kutoarjo dan 3 calon penumpang KA Kutojaya Utara Premium Tambahan dengan rute yang sama.
Joni yakin 12 calon penumpang tersebut merupakan korban penipuan dari tiket boarding pass palsu. Sebab, berdasarkan keterangan yang didapat dari para calon penumpang, mereka memperoleh tiket itu setelah menitipkan pembelian tiket tersebut pada temannya.

Tiket-tiket palsu tersebut tentunya tidak akan terbaca dalam sistem barcode di pintu boarding pass. Namun, meski dibuat semirip mungkin, Joni menuturkan setiap tiket mempunyai kode unik tersendiri yang akan terbaca oleh sistem di pintu boarding.
"Kalau pun misalnya ternyata tiket palsu tersebut lolos dari pintu boarding, maka saya pastikan akan terdeteksi di dalam kereta api karena akan terjadi tempat duduk ganda. Jika hal ini terjadi, penumpang bertiket palsu pasti akan kami tindak tegas,” ujarnya.
Dengan sistem berlapis seperti itu, Joni yakin praktik percaloan akan sulit berkembang, bahkan tidak berkutik. Pihaknya kini mewaspadai praktik baru yang kemungkinan besar tumbuh subur saat ini, yaitu praktik perjokian.
“Kalau kita amati, sistem penjualan tiket kereta pada saat ini justru mematikan praktik calo. Yang kemudian terjadi adalah praktik perjokian di mana ada beberapa orang yang menerima penitipan pembelian tiket dan meminta jasa atas tindakan tersebut," paparnya.
Praktik perjokian, kata Joni, berbeda dengan percaloan. Para calo selalu membeli tiket dan menjualnya kembali dengan harga yang lebih mahal. Sementara joki hanya membantu proses pembelian dan meminta imbalan atas jasa bantuannya.
"Sementara data dalam tiket memang sama dengan data penumpang. Jelas pemilik tiket akan lolos di pintu boarding,” tuturnya.
Untungnya, kejadian serupa tidak terjadi di Daop 2 Bandung. Meski demikian, Joni mengimbau agar calon penumpang betul-betul merencanakan perjalanan mereka dengan matang. Jika hendak memesan, ada baiknya bertanya lebih dulu kepada petugas atau meminta tolong kepada kerabat yang lebih paham mengenai sistem tiket online.
"Hindari membeli tiket dengan menggunakan joki karena rentan dengan penipuan dan jangan menerima tiket yang sudah berbentuk tiket boarding pass. Lebih baik mencetak sendiri di check-in counter karena rentang waktu pencetakan bisa dilakukan 7 hari sebelum keberangkatan. Apabila merasa ragu dengan tiket yang didapatkan, segera bertanya pada petugas di stasiun terdekat," paparnya.
